Category: Esai
-

Autopsi Bangkai Demokrasi
“Setiap upaya untuk memaksakan ketertiban dengan kekerasan hanyalah membuktikan bahwa sistem tersebut tidak lagi memiliki otoritas moral untuk memimpin.” (Theodor W. Adorno – Minima Moralia) Di atas meja bedah yang dingin dan berkarat, terbujur sesosok tubuh yang dulu kita puja sebagai kedaulatan. Hari ini, kita berkumpul bukan untuk merayakan kesembuhan, melainkan untuk melakukan proses pembedahan…
-

Mitos, Ilmu Sosial dan Bayang-Bayang Kekerasan Epistemik
Bagi saya, mitos tidak ada, dan tidak seharusnya pernah atau masih ada di kalangan Bugis-Makassar. Malah, jangan-jangan mitos hanya ada di Yunani. Saya mengira itu adalah kekerasan terminologi. Yang mereka sebut mitos adalah “gaukang, “mappaleppe”, “maccera”, Bissu “memmang”, dan “songka bala”. Kekerasan terminologi itu terus berlanjut. Oleh sebagian masyarakat yang “taat beragama” sebagian penganut “agama…
-

Warga Pascakolonial
Setelah orang-orang terjajah itu merdeka, misalnya orang India dari Inggris, orang Indonesia dari Belanda, orang Filipina dari Spanyol, atau orang Aljazair dari Prancis, apakah mereka betul-betul merdeka? (merdeka dalam arti sesungguhnya). Pertanyaan itu meski terdengar sederhana, tapi bagi saya sangat penting kita ajukan. Karena hanya dengan pertanyaan itulah kita bisa menemu-kenali, lalu membongkar tabir-tabir Kolonial…
-

Berhala Empati di Perayaan Ketidakberdayaan
“Ihr drängt euch um den Nächsten und habt schöne Worte dafür. Aber ich sage euch: eure Nächstenliebe ist eure schlechte Liebe zu euch selber. Ihr flüchtet zum Nächsten vor euch selber und möchtet euch ein Verdienst daraus machen: aber ich durchschaue eure ‘Selbstlosigkeit’.” (Friedrich Nietzsche – Thus Spoke Zarathustra) Nietzsche melalui karakter Zarathustra mengkritik konsep…
-

Paras Batin Kepemimpinan
“Pemimpin berparas egaliter bervisi: memandang semua insan, setara di hadapan masalah negeri dan punya peluang untuk berbakti.”(Tajali Daeng Litere, 22092024) Penabalan Daeng Litere ini tersurat sederhana, tetapi mengandung simpai makna yang luas. Ia tidak berbicara tentang kemegahan kepemimpinan, tiada pula memuja figur. Sorotannya justru jatuh pada watak mendasar: egalitas sebagai wajah batin seorang pemimpin. Bukan…
-

Bantaeng dan Seni Menghindari Tanggung Jawab
Di Bantaeng, ada satu keterampilan kepemimpinan yang berkembang pesat, bahkan melampaui capaian pembangunan fisik dan indeks statistik: ilmu cuci tangan.Bukan cuci tangan karena kebersihan, tapi cuci tangan karena tanggung jawab terlalu berat untuk digenggam. Masalah datang bertubi-tubi.Masalah berdiri antre.Masalah minta dipeluk, diselesaikan, atau setidaknya dipelototi.Tapi tangan seorang bupati tetap steril, bukan karena rajin bekerja, melainkan…
-

Menanam Benih Idealisme: Memutus Mata Rantai Hegemoni Politik Transaksional
Di ketinggian Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, udara dingin mulai terasa merangsek ke dalam pori-pori. Justru, di dalam Aula Kantor Desa Bonto Daeng, Senin (26/1/2026), suasana menghangat. Belasan mahasiswa KKN Tematik Universitas Hasanuddin (Unhas) sedang menjalankan misi yang lebih berat dari sekadar program yang kaku, yakni mengubah pola pikir masyarakat. Mereka tidak sedang membangun jembatan semen,…
-

Indonesia: Nama yang Diperebutkan
Esai Adam Kurniawan berjudul “Indonesia sebuah Nama” di Paraminda.com, 20 Januari 2026, kembali mengundang percakapan. Rasanya perlu memberi respon, semacam apresiasi atas kerja intelektual yang dilakukannya. Dalam tradisi kajian kebangsaan, nama kadang dipandang dan diperlakukan sebatas hal yang telah selesai, diterima begitu saja sebagai fakta historis yang baku. Adam malah berbeda, ia memproblematisir nama “Indonesia”,…
-

Melapangkan Sejarah
Puspita merelung jauh, di tengah kumpulan, jejak pustaka buyutnya, membawanya ke sebuah sabana penyusurannya, bersama serumpun keluarga besar Ma’dunda bin Serang yang diagendakan Ahad 25-01-2026. Narasinya membuatku terdiam sejenak, setiap pragrafnya, membawaku larut menekuni prosesi kemarin saat berkunjung di sebuah rumah adat Bantaeng. Puspita menyuguhkan dengan pembukanya yang tegas, mengayuh ke setiap diksi, saat memintanya untuk…
-

Kesosialan dan Kesialan
Saya mulai gulai gugup dan gagap. Kusematkan dan kusamarkan saja dalam caraku bersifat dan bersikap, toh tersingkap walau sejauh mana menyembunyikan tentang sifatia manusia, antara kedok dan ketulusan itu, antara kesosialan dan kesialan menjadi konsekuensi. Kadang pula saya tersesat, terjebak sendiri, terseret, terbawa suasana pastinya, di tengah gelombang kemanusiaan yang mengintimidasi, sampai tersungut dan menjamurnya…
