Author: Sulhan Yusuf

  • Arsitek Jiwa

    Arsitek Jiwa

    “Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024) Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya. Pijakan minda…

  • Jejak Nirnama

    Jejak Nirnama

    “Ketika diri bukan siapa-siapa, maka kerjakanlah apa-apa.” (Tajali Daeng Litere, 30032025) Pendakuan Daeng Litere itu, bak embus angin melintas tanpa gaduh, amat sepoi nan lirih. Bahkan sepintas hanya permainan bunyi antara siapa-siapa dan apa-apa. Namun, di balik simpelnya tersimpan simpai renungan, menggeser cara manusia memandang keberadaan dirinya. Ia tidak bertanya perkara seberapa tinggi kedudukan seseorang,…

  • Mengeja Literasi Karbala

    Mengeja Literasi Karbala

    Tidak semua darah berakhir menjadi noda. Ada darah yang berubah mewujud aksara. Sehingga, “airmata dari berbagai penjuru, taklah lelah mengalir, mencari darah selaku kembarannya.” Berabad-abad lampau, di sebuah padang gersang, darah itu mengalir dari tubuh-tubuh yang kehausan. Ia meresap ke tanah Karbala, lalu hilang dari pandangan mata. Namun, sejarah nyana bekerja dengan cara ganjil. Apa yang…

  • Menjadi Jelata

    Menjadi Jelata

    “Kiwari, era serba citra meta, lebih mudah jadi raja, tinimbang jadi rakyat jelata.” (Tajali Daeng Litere, 23092024) Bagai anak panah lepas dari busurnya, pendar minda Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan mengandung nada jenaka. Namun, di balik kelugasannya, tersimpan pembacaan tajam tentang tabiat zaman. Ia tidak sedang berbicara mengenai kerajaan dalam pengertian harfiah, tiada pula…

  • Selasar Pemuja

    Selasar Pemuja

    “Usah mendewakan seseorang. Sebab, bila serupa dewa, maka tindakannya seolah seperti dewa: tidak mendewasakan.” (Tajali Daeng Litere, 30092024) Amat simpel ungkapan Daeng Litere tersebut. Waima menyimpan ironi yang tajam. Lazimnya, pendewaan lahir dari kekaguman. Seseorang dipandang memiliki kelebihan, lalu ditempatkan pada kedudukan istimewa. Mula-mula penghormatan, kemudian pengagungan. Lambat laun, jarak antara manusia dan manusia merenggang,…

  • Takhta Citra

    Takhta Citra

    “Pada masyarakat paternalistik, seorang pemburu citra berpeluang jadi dewa, karena didewakan oleh pemujanya.” (Tajali Daeng Litere, 06092024) Sodoran minda Daeng Litere itu terasa seperti sindiran tipis. Di balik kelugasannya, terselubung permenungan tentang kuasa, citra, dan tabiat manusia. Ia tidak hanya menyorot sosok yang gemar memburu pujian; sorotannya juga tertuju pada lingkungan sosial yang menyediakan singgasana…

  • Urita Jalan Pulang

    Urita Jalan Pulang

    “Pada setiap urita kewafatan, sekadar menegaskan, insan bersafari dari-Nya menuju pada-Nya.” (Tajali Daeng Litere, 19092024) Tutur Daeng Litere terdengar lirih, tetapi mengandung simpai kesadaran mendalam. Ia memandang kewafatan bukan semata akhir biologis, melainkan penegasan tentang arah keberadaan manusia. Kematian tidak ditempatkan sebagai keterputusan, hanya menyigi kelanjutan safari—perjalanan panjang sejak mula, telah bergerak dari asal menuju…

  • Andaikan Politisi-Pengusaha Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Andaikan Politisi-Pengusaha Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Saban musim politik, jalan-jalan dipenuhi baliho. Wajah para politisi bertebaran di sudut kota, di pertigaan jalan, bahkan hingga ke pelosok desa. Ada yang tersenyum teduh, ada pula yang menatap penuh keyakinan ke arah masa depan. Dana yang berputar pun tidak kecil. Sosialisasi, spanduk, panggung kegiatan, hingga pelbagai ikhtiar membangun popularitas, semuanya membutuhkan ongkos yang tak…

  • Kepada Bupati Bantaeng, Ajaklah ASN Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Kepada Bupati Bantaeng, Ajaklah ASN Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Sebuah daerah boleh saja memiliki kantor pemerintahan megah, jalan mulus, taman kota  tertata rapi, ataupun bangunan-bangunan baru menjulang. Namun, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari apa yang kasat mata. Ada satu hal, sering luput dari perhatian: seberapa dekat masyarakatnya dengan pengetahuan. Sebab dari ranah itulah, arah masa depan sesungguhnya mulai bernala-nala. Di Perpustakaan Daerah…

  • Wahai Para Dai, Serulah Wakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Wahai Para Dai, Serulah Wakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Waima saya bukan seorang dai, tapi bersahabat dengan banyak dai. Entah itu dipanggil ustadz maupun kiyai. Seringkali diundang oleh elemen para dai, untuk berbagi minda terkait strategi dakwah sosial di era millenial. Dan, saya pun kerap menyodok, bagai stik yang menghamburkan bola-bola billiard, sehingga riuh percakapan. Di banyak tempat, mimbar pengajian dan sejenisnya masih menjadi…