Author: Sulhan Yusuf

  • Koalisi Tanah

    Koalisi Tanah

    “Tak elok merendahkan musuh sedalam tanah. Sebab, bila musuh berkoalisi dengan tanah, maka akan lahir gerakan bawah tanah.” (Tajali Daeng Litere, 26122024) Senandika Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan menyelipkan jenaka pada permainan bunyi antara tanah dan bawah tanah. Namun, sebagaimana lazimnya aforisme, kelugasannya menyimpan simpai makna lebih jauh. Ia tiada sedang berbicara tentang strategi…

  • Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Ada tradisi yang tidak gaduh ketika perlahan menghilang. Ia tidak runtuh seperti bangunan tua. Ia hanya makin jarang dilakukan, amat sedikit pewarisnya, lalu suatu waktu orang-orang hanya mengenangnya sebagai kebiasaan masa lalu. Maulid Nabi Muhammad saw. di Bissampole agaknya sedang berhadapan dengan keadaan semacam itu. Sebagai orang tempatan Bissampole, saya menyaksikan pergeseran tradisi. Dahulu, hingga…

  • Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Ada kampung yang sekadar menjadi tempat orang tinggal. Mengada pula kampung,  menyimpan ingatan panjang, tentang bagaimana sebuah negeri bermula. Bissampole agaknya termasuk yang kedua. Bentangan sejarah Bantaeng menabalkan Bissampole bukan nama yang datang belakangan. Ia telah disebut dalam kisah tua, tentang tujuh wilayah, masing-masing dipimpin oleh seorang Kare’: Onto, Bissampole, Sinoa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang, dan…

  • Pegari Keluhuran

    Pegari Keluhuran

    “Bila sikap remeh sesama menyata, maka laku temeh akan bertandang pada diri.” (Tajali Daeng Litere, 24092024) Kehormatan manusia, agaknya, tidak pertama-tama ditentukan oleh bagaimana ia dipandang orang lain, melainkan oleh cara ia memandang sesamanya. Pada simpul inilah, sentensia Daeng Litere menemukan pijakannya. Ia tidak sedang mengadili orang yang diremehkan, tetapi mengajak menilik keadaan batin mereka…

  • Lupa Mengaum

    Lupa Mengaum

    “Terlahir sebagai singa, tapi situasi menjadikannya domba.” (Tajali Daeng Litere, 17092024) Ada saat-saat tertentu, manusia lebih mudah mengenali keadaan di sekelilingnya, ketimbang dirinya sendiri. Ia hafal arah angin, mahir membaca perubahan zaman, bahkan cakap menyesuaikan langkah dengan lingkungan. Namun, pada saat yang sama, perlahan melupakan sesuatu yang paling hakiki: suara jiwanya sendiri. Barangkali, di simpul…

  • Arsitek Jiwa

    Arsitek Jiwa

    “Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024) Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya. Pijakan minda…

  • Jejak Nirnama

    Jejak Nirnama

    “Ketika diri bukan siapa-siapa, maka kerjakanlah apa-apa.” (Tajali Daeng Litere, 30032025) Pendakuan Daeng Litere itu, bak embus angin melintas tanpa gaduh, amat sepoi nan lirih. Bahkan sepintas hanya permainan bunyi antara siapa-siapa dan apa-apa. Namun, di balik simpelnya tersimpan simpai renungan, menggeser cara manusia memandang keberadaan dirinya. Ia tidak bertanya perkara seberapa tinggi kedudukan seseorang,…

  • Mengeja Literasi Karbala

    Mengeja Literasi Karbala

    Tidak semua darah berakhir menjadi noda. Ada darah yang berubah mewujud aksara. Sehingga, “airmata dari berbagai penjuru, taklah lelah mengalir, mencari darah selaku kembarannya.” Berabad-abad lampau, di sebuah padang gersang, darah itu mengalir dari tubuh-tubuh yang kehausan. Ia meresap ke tanah Karbala, lalu hilang dari pandangan mata. Namun, sejarah nyana bekerja dengan cara ganjil. Apa yang…

  • Menjadi Jelata

    Menjadi Jelata

    “Kiwari, era serba citra meta, lebih mudah jadi raja, tinimbang jadi rakyat jelata.” (Tajali Daeng Litere, 23092024) Bagai anak panah lepas dari busurnya, pendar minda Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan mengandung nada jenaka. Namun, di balik kelugasannya, tersimpan pembacaan tajam tentang tabiat zaman. Ia tidak sedang berbicara mengenai kerajaan dalam pengertian harfiah, tiada pula…

  • Selasar Pemuja

    Selasar Pemuja

    “Usah mendewakan seseorang. Sebab, bila serupa dewa, maka tindakannya seolah seperti dewa: tidak mendewasakan.” (Tajali Daeng Litere, 30092024) Amat simpel ungkapan Daeng Litere tersebut. Waima menyimpan ironi yang tajam. Lazimnya, pendewaan lahir dari kekaguman. Seseorang dipandang memiliki kelebihan, lalu ditempatkan pada kedudukan istimewa. Mula-mula penghormatan, kemudian pengagungan. Lambat laun, jarak antara manusia dan manusia merenggang,…