Author: Sulhan Yusuf
-

Tiket Surga dan Lapang Diri
“Bila saja memfatwakan sesat kepadaku, itu merupakan tiketmu untuk masuk surga, silakan saja. Berarti aku telah membantumu masuk surga.” (Tajali Daeng Litere, 27062025) Ujar Daeng Litere itu terdengar seperti kelakar, waima menyimpan simpai permenungan yang dalam. Ia hadir tanpa nada perlawanan dan dorongan membela diri. Sebaliknya, ia memancarkan kelapangan—kejernihan batin yang tidak mudah terseret oleh…
-

Lebaran yang Menyala di Dalam
“Bagi jiwa yang lapang, tak butuh lebaran. Sebab, setiap hari berlebaran.” (Tajali Daeng Litere, 01042025) Ujar Daeng Litere tampak simpel, tetapi menyimpan kedalaman yang pelan merawi. Ia tidak menolak lebaran sebagai peristiwa, tiada pula meremehkan tradisi. Namun, ia menggeser pusat makna: dari hari menuju batin, berlapik momentum merunrun keadaan. Lebaran, dalam pengertian umum, sebentuk penanda…
-

Imam Ali Khamenei: A Hero’s Journey
Ramadan 1447 H, saya serasa berada dalam pusaran keharuan tak bertepi. Pasalnya, seorang panutan, Imam Ali Khamenei, menjemput kesyahidan dengan teladan konsistensi dan persistensi perlawanan terhadap imperialisme Amerika Serikat dan Israel. Sulit menemukan insan sepertinya di kekinian. Kesyahidannya memunculkan beragam reaksi. Salah satu bentuknya, berupa majelis duka di berbagai tempat. Kota Makassar, ikut menggelar majelis…
-

Di Antara Lapar dan Limpah
“Puasa mengada: memoderasi lapar dan kenyang.” (Tajali Daeng Litere, 27022026) Dahulu kala, manusia akrab dengan kelaparan. Paceklik datang tanpa aba-aba. Gagal panen menjelma nestapa panjang. Perut kosong bukan pilihan spiritual, melainkan nasib yang memaksa. Kelaparan serupa bencana kolektif—tubuh-tubuh meranggas, daya hidup menyusut, dan harapan menipis. Lapar menjadi ancaman nyata atas keberlangsungan hidup dan kehidupan. Kiwari,…
-

Separuh dan Sepenuh
“Ramadan menyata: menerangkan puasa setengah dan setengah puasa.”(Tajali Daeng Litere, 25022026) Ramadan tak sekadar mengada sewajah bulan penanggalan. Ia menyata serupa cermin. Di dalamnya, manusia melihat wajah diri: sejauh mana lapar dipahami, seberapa dalam dahaga dimaknai, dan sepanjang laku jeda dimuliakan. Ramadan menerangkan dua perkara yang kerap disamakan, padahal berbeda hakikat: puasa setengah dan setengah…
-

Dengung Keberlimpahan
“Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025) Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia. Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup…
-

Tarak Raga
“Wahai pemuja raga, cukuplah puasa sebagai interupsi, agar terbebas dari terungkunya.” (Tajali Daeng Litere, 26032025) Ujar itu terdengar mirip teguran lirih, tetapi mengandung kedalaman yang pelan mengendap. Ia tidak menyerang tubuh, tiada pula menafikan kebutuhan jasmani. Ia justru mengajak jeda—sebuah interupsi dalam arus pemujaan raga, nyaris tanpa sela. Maksudnya, puasa ditempatkan bukan semata sebagai ritual,…
-

Paras Batin Kepemimpinan
“Pemimpin berparas egaliter bervisi: memandang semua insan, setara di hadapan masalah negeri dan punya peluang untuk berbakti.”(Tajali Daeng Litere, 22092024) Penabalan Daeng Litere ini tersurat sederhana, tetapi mengandung simpai makna yang luas. Ia tidak berbicara tentang kemegahan kepemimpinan, tiada pula memuja figur. Sorotannya justru jatuh pada watak mendasar: egalitas sebagai wajah batin seorang pemimpin. Bukan…
-

Melata di antara Lawan dan Kawan
“Jauh lebih mudah menaklukkan lawan, tinimbang mengendalikan kawan.”(Tajali Daeng Litere, 18122024) Ujaran Tajali Daeng Litere itu, datar menghanyutkan, tidak meledak seperti semboyan perang. Ia justru turun perlahan, seperti hujan tipis, tetapi meresap hingga ke lapisan terdalam relasi manusia. Penabalannya singkat, waima menyimpan paradoks kepemimpinan: kekuatan terbesar kerap diuji bukan di hadapan musuh, melainkan di tengah…
-

Apa Adanya, Bukan Ada Apanya
“Memilih pemimpin apa adanya, bukan karena ada apanya.”(Tajali Daeng Litere, 27112024) Sodokan ujar Daeng Litere tersebut, bekerja seperti cermin, diletakkan di hadapan nalar publik. Ia tidak berteriak, apalagi menggurui, tetapi memantulkan kebiasaan, kerap disembunyikan dalam proses memilih pemimpin. Kebiasaan melihat ke luar, tinimbang menengok ke dalam. Kelaziman terpikat pada kilau, ketimbang menimbang watak. Dalam praktik…
