Category: Cerita

  • Mentari di Jalur Gaza

    Mentari di Jalur Gaza

    Saya bersama istri pernah bekerja di Rumah Sakit Indonesia di Gaza selama 3,5 tahun sejak perang terjadi antara Zionis Israel dan pejuang Palestina. Saat ini, istri saya dan kedua anak saya telah menjadi syahid. Sebelumnya, istri saya adalah seorang Nasrani dari Norwegia yang kemudian memeluk Islam. Ia telah mengorbankan dan mempertaruhkan nyawanya demi Gaza. Akhirnya,…

  • Nazwa

    Nazwa

    Ada makna yang tidak pernah memilih untuk ramai—ia lahir dari sunyi, tumbuh dalam diam, dan menetap sebagai bisikan yang hanya bisa didengar oleh hati yang sabar mendengarkan. Ia bukan sesuatu yang perlu dijelaskan dengan lantang, sebab sejak awal ia memang diciptakan untuk dirasakan, bukan diperdebatkan. Dalam bahasa, Nazwa berarti bisikan rahasia—percakapan lirih yang hanya terjadi…

  • Nazra

    Nazra

    Senja di Gunung Mountea turun perlahan seperti luka yang akhirnya lelah berdarah. Dari punggung gunung itu, aku berdiri memandang langit yang qberubah warna—jingga yang hangat, lalu perlahan tenggelam menjadi ungu yang tenang. Alam seakan sedang menutup matanya setelah terlalu lama melihat dunia yang gaduh. Angin gunung datang menyentuh wajahku dengan lembut, namun di dalam dada,…

  • Fenomena Alam

    Fenomena Alam

    Seteguk Americano terakhir yang kuminum, kuindahkan panggilan Kakak tak sedarah ke air terjun, sebab jiwaku menagih sesuatu, bermain di alam. Berbagi waktu dengan alam adalah jembatan menuju hakikat pada manusia. Sebelum manusia mengenal adat istiadat yang katanya lebih bermartabat, alam kini terdengar sebagai barang asing. Semenjak manusia memisahkan diri dari alam, gedung pencakar langit dibangun…

  • Jangan Dulu Mati Hari ini

    Jangan Dulu Mati Hari ini

    Jangan dulu mati hari ini adalah jawaban dari tulisan sebelumnya, sebab tak ada lagi yang mencintaimu setulus diriku, itu kata Ayechral yang membuatku menulis lagi tentangmu *** Tengah malam selalu menjadi ruang paling jujur bagi manusia yang tak lagi punya tempat untuk menyembunyikan perasaan. Jam dinding berdetak seperti jantung kedua di kamar ini—pelan, konsisten, tak…

  • Pulang

    Pulang

    Ingatan selalu menemukan caranya sendiri untuk pulang. Sore itu aku duduk di sudut Caffee Raya Makassar Todopuli, memandangi lalu-lalang kendaraan seperti menonton arus waktu yang tak pernah mau berhenti. Cangkir kopi di hadapanku telah lama kehilangan panasnya, namun tanganku tetap menggenggamnya, seolah ada yang perlu kutahan agar tidak ikut mendingin. Temanku dari Bantaeng datang menjemput—wajahnya…

  • Sekelumit

    Sekelumit

    Qawi pun gila, dan mengalami beberapa gejala penyakit—sosial, psiko, fisik—dan ia makin lesuh, dimakan pusing pikirannya sendiri, semenjak denyutnya dirobek sepi. Melankolia. La… la… la… la… Penawarnya telah tiada; ia memilih pergi. Semua penyakitnya kronis. Ia bisa saja mati dan diracun atau terbunuh, tapi…Apakah ia mati karena itu? Atau ia mati tak kuasa menahan ancaman…

  • Kilas Kelabu

    Kilas Kelabu

    Aku tidak tahu sejak kapan tatapan itu kembali terasa seperti dulu. Lorong sunyi yang kutempuh, desir angin yang menggelitik, dan sayup-sayup suara Mahasiswa di sekitar kampus seolah mengejek wajahku yang keruh. Mengejek isi hatiku yang tidak beraturan, mengejek isi kepalaku yang dilanda kacau, dan mengejek nasibku yang kembali terulang. Tawa mereka terdengar begitu nyaring, nyaris…

  • Di Sini, Topeng Lebih Mahal dari Otak

    Di Sini, Topeng Lebih Mahal dari Otak

    Janggal, beberapa waktu belakangan mataku seperti mengalami penurunan fungsi. Dunia tampak samar. Kadang buram, kadang jernih. Kemarin aku yakin sekali melihat seekor kucing yang menggesekkan kepalanya ke kaki seseorang di mulut pintu kantor. Rekan kerjaku menolak percaya, menuduhku berhalusinasi. Aku pun sebenarnya mulai ragu, tapi bayangan itu berulang. Untungnya, aku tak marah dengan seloroh mereka…

  • Tanah yang tak Punya Fajar

    Tanah yang tak Punya Fajar

    Orang-orang memanggilnya Lantang, padahal suaranya pelan dan tubuhnya ramping jarang berbicara. Ia buruh biasa, tinggal di lorong belakang mess karyawan, makan di kantin penuh lalat, dan di bawah tanah tempat ia bekerja, semua orang jadi sama, hitam oleh debu, diam oleh tekanan, lupa oleh waktu. Tapi anaknya memanggilnya Ayah. Dan itulah satu-satunya suara yang membuatnya…