Author: Dion Syaif Saen
-

Perayaan Sebuah Republik di Bissampole
Riuh dan gemuruh kemerdekaan bernama Republik Indonesia ke-81 ini. Usia negeri yang terbaca dalam sejarah, pertengahan perjalanannya, menurutku hanya menyesuaikan pada tahun 1945 saja. Rasanya selera berandaiku ini pupus di antara babad di abad yang tergolong masih beranjak dewasa. Dipaksanya aku bersorak-sorai bergembira, padahal kita masih terpenjara. Negeri yang sepertinya semakin terhujam dan dibabat. Tapi…
-

Tentang Katanya
Seleraku menggugat, mendaras yang sederhana saja, agar semakin menguatkan dengan tidak melintas sekadar tameng pembatas buku. Aku baca selembar dan sampai tiap selesai satu bab, muncul seribu tanya baru yang belum berani kujawab. Aku masuk ke celah-celahnya. Mengunyah sampai sebuah tinta kata-kata menetes di ujung lidah. Aku suka merayu dan memaksakan keinginan pada Tuhan, sampai…
-

Mengarang Kemerdekaan
Aku buat sendiri satir pada judul, tetapi apa guna. Tidak mengapa! Biar lega sesak di dada di tengah luka terkoyak sebuah negeri yang seharusnya kaya, disegani, menjadi seperti istilah yang kini santer “Londoireng”. Hem. Tidak harus ikut menyeretku ke suatu hal tanpa kumengerti. Cukup hal biasa bin sederhana saja kucelupkan pada narasi ini. Saat aku…
-

Sikapallakki
Seketika mulai rapuh. Melepuh, luluh, dan keruh. Sejumud hidangan asin, manis, pekat, tawar, dan pahit sepertinya susah lagi kita definisikan. Untuk guyub, tergantung selera, strata sosial, mulai pudar bin hambar. Tidak perlu pura-pura tidak tahu bahwa realitas yang ada tampak di depan hidung. Sudut pandang sosiologi dan antropologi mencoba menafsirkannya: Beberapa bentuk mentalitas serta kebiasaan…
-

Seputik Surat Danu
Surat ini hanya jembatan kecilku untuk sekadar menyeberangi titimasa itu. Bukan untuk butuh klarifikasi, tetapi sebagai afirmasi saja, dari sesuatu yang tumbuh menghadirkanmu setiap saat. Ternyata aku lupa untuk pulang ke rumah.Lentera itu masih menceritakan gelap ketika cahaya menjauh. Gerai rambutmu yang hitam sebahu, ketika angin memainkannya. Ada getir merambat tidak karuan. Betapa konyolnya manusia…
-

Bukan Hitam Putih
Benar dan salah, antagonis dengan protagonis, terlihat manis dan sinis. Sepakat kata Sujiwo Tejo: dia terjebak pada diri dan cara berpikirnya tentang saat dia memainkan dan memaknai peran wayang, bahwa Kurawa salah, Pandawalah yang benar, atau kisah Ramayana, Rahwana yang buruk, Rama yang baik. Seketika kudermakan waktuku malam itu, sampai sesuntuk. Entah kenapa kantukku tertangguhkan.…
-

Adin di antara Minat dan Bakat
Kusematkan pembuka dari percakapan tentang bagaimana anak usia remaja itu melawan keinginan, selera di luar minat dan bakatnya. Yah. Dua kata yang memiliki arti berbeda, namun memiliki keterkaitan antara keduanya. Jika seseorang memiliki bakat, ia akan semakin terdorong dan termotivasi oleh minat. Dua kata itu menyuplai keinginan yang terbatas sebagaimana arti dari kata minat adalah…
-

Narasi “Budaya”
Loemi siranggasela. Massing attenteng, tanre sipakainga’. Ri pakkusiang siki’ dijintu sanna ammaraki (telah banyak saling menghujam, tidak lagi saling mengingatkan, saling bertahan di antara setiap persoalan sepele). Kebudayaan, atau peradaban. Bersilang sisi mencari posisi di setiap peluang untuk menempati ruang pengakuan. Didaur dan disadur hadir sebagai pelengkap. Sambil membagikan berbagai jenis bunga budaya begitu wangi,…
-

Ketika Rajawali Meradang Luka
Tertunduk lesuh, jiwanya lara, paruhnya tak mampu mematuk, diam dikatupnya. Ada gamang mendera. Serasa jebakan itu sempurna mengkhianatinya. Tersadarkan! Dia melawan dirinya sendiri kini. Jauh sudah mengembara menempuh perjalanan, tertatih, ditempah angin, ditembaki, diburu dan disajakkan, diumpamakan, disimbolkan. Telah tertempah, kemudian tertimpa. Tiba suatu waktu, dia hinggap pada sebuah pohon rindang tak berbuah pada sebuah…
-

Semau-maumu
Dia ibarat dan berlagak eksistensialisme secara liar: bertindak menentukan arti hidup semau-mau. Benar. Manusia memang bebas memilih. Tapi yang liar lupa satu hal: kebebasan tanpa tanggung jawab sama dengan kehancuran. Seorang Sartre bilang, “Kita terkutuk untuk bebas.” Kutukannya bukan di bebasnya. Kutukannya di konsekuensinya. Saat semau-mauku. Ketika rasa dan reaksi penuh pujian yang kubiarkan membinalkanku.…
