Category: Esai

  • Berhala Waktu

    Berhala Waktu

    24 jam hanya istilah, untuk menjebakku pada menit dan detik. Sebelum lampu-lampu rumah dinyalakan. Ketika surau mengajak, memanggil-manggil, dan anak-anak lelah bermain. Aku mengulik Konflik. Seharian itu hanya sebentar saja terasa. Namun cukup melekat di antara ingatan dari sekian detik sekelumit peristiwa. Ada yang memaksa untuk melupakan masa lalu. Ada dendam. Ada memamerkan arloji mahal,…

  • Karma dan Kurma

    Karma dan Kurma

    Kita pikir kita memilih, padahal kita menuruti skenario. Ditulis diam-diam oleh tangan yang tak kelihatan. Karma datang bukan karena salah. Kurma disajikan seolah rukun kelima yang sarat dilema. Serta dihidangkan bukan pula karena lapar. Keduanya datang bersamaan, satu buat hukuman, satunya mengenyangkan. Dua hal bertarung, di antara dosa terpaksa, atau dosa yang tertinggal jauh. Sambil…

  • Petong, Poteng dan Topeng

    Petong, Poteng dan Topeng

    Pesta sudah usai. Mari kita kembali ke habitat, sembari berbaring menghitung satu persatu berapa banyak luka sosial telah kita tabur. Seputih harapan, sepulih ingatan. Masih sulih dan kita sama-sama merasakan risih. Itu pertanda kita mulai merasakan titik jenuh dari suara, tentang dialektika kosong yang hanya tebak-tebakan. Pagi itu Petong terbangun oleh suara kotek-kotek nan nyinyir.…

  • Koalisi Tanah

    Koalisi Tanah

    “Tak elok merendahkan musuh sedalam tanah. Sebab, bila musuh berkoalisi dengan tanah, maka akan lahir gerakan bawah tanah.” (Tajali Daeng Litere, 26122024) Senandika Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan menyelipkan jenaka pada permainan bunyi antara tanah dan bawah tanah. Namun, sebagaimana lazimnya aforisme, kelugasannya menyimpan simpai makna lebih jauh. Ia tiada sedang berbicara tentang strategi…

  • Shalat Istisqa dan Pemerintahan yang Kehabisan Akal

    Shalat Istisqa dan Pemerintahan yang Kehabisan Akal

    Ada kabar baik dari Bantaeng: pemerintah sudah menemukan cara menghadapi kemarau. Shalat istisqa. Ini kabar baik. Sebab kalau pemerintah sudah mulai meminta hujan kepada Tuhan, berarti mereka sadar bahwa ada sesuatu yang tidak bisa mereka datangkan dengan surat keputusan, rapat koordinasi, spanduk, atau konferensi pers. Hujan memang tidak bisa diperintah dengan disposisi. Tetapi jangan buru-buru…

  • Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Ada tradisi yang tidak gaduh ketika perlahan menghilang. Ia tidak runtuh seperti bangunan tua. Ia hanya makin jarang dilakukan, amat sedikit pewarisnya, lalu suatu waktu orang-orang hanya mengenangnya sebagai kebiasaan masa lalu. Maulid Nabi Muhammad saw. di Bissampole agaknya sedang berhadapan dengan keadaan semacam itu. Sebagai orang tempatan Bissampole, saya menyaksikan pergeseran tradisi. Dahulu, hingga…

  • Perayaan Sebuah Republik di Bissampole

    Perayaan Sebuah Republik di Bissampole

    Riuh dan gemuruh kemerdekaan bernama Republik Indonesia ke-81 ini. Usia negeri yang terbaca dalam sejarah, pertengahan perjalanannya, menurutku hanya menyesuaikan pada tahun 1945 saja. Rasanya selera berandaiku ini pupus di antara babad di abad yang tergolong masih beranjak dewasa. Dipaksanya aku bersorak-sorai bergembira, padahal kita masih terpenjara. Negeri yang sepertinya semakin terhujam dan dibabat. Tapi…

  • Tentang Katanya

    Tentang Katanya

    Seleraku menggugat, mendaras yang sederhana saja, agar semakin menguatkan dengan tidak melintas sekadar tameng pembatas buku. Aku baca selembar dan sampai tiap selesai satu bab, muncul seribu tanya baru yang belum berani kujawab. Aku masuk ke celah-celahnya. Mengunyah sampai sebuah tinta kata-kata menetes di ujung lidah. Aku suka merayu dan memaksakan keinginan pada Tuhan, sampai…

  • Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Ada kampung yang sekadar menjadi tempat orang tinggal. Mengada pula kampung,  menyimpan ingatan panjang, tentang bagaimana sebuah negeri bermula. Bissampole agaknya termasuk yang kedua. Bentangan sejarah Bantaeng menabalkan Bissampole bukan nama yang datang belakangan. Ia telah disebut dalam kisah tua, tentang tujuh wilayah, masing-masing dipimpin oleh seorang Kare’: Onto, Bissampole, Sinoa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang, dan…

  • Makar Tuhan

    Makar Tuhan

    Tuhan tidak diam, buta, atau tuli. Kebrutalan manusia saling menegasikan satu sama lain, menjadikan manusia tamak, buta hati, dan bahkan tega memberangus manusia lainnya. Ketamakan dan cinta dunia mendorong manusia untuk saling meniadakan. Sejarah manusia akan berulang dari masa ke masa. Aktor dan konteksnya saja yang berbeda. Di masa lampau, sekitar 14 abad silam, cahaya…