Melapangkan Sejarah


Puspita merelung jauh, di tengah kumpulan, jejak pustaka buyutnya, membawanya ke sebuah sabana penyusurannya, bersama serumpun keluarga besar Ma’dunda bin Serang yang diagendakan Ahad 25-01-2026. 

‎Narasinya membuatku terdiam sejenak, setiap pragrafnya, membawaku larut menekuni prosesi kemarin saat berkunjung di sebuah rumah adat Bantaeng. Puspita  menyuguhkan dengan pembukanya yang tegas, mengayuh ke setiap diksi, saat memintanya untuk saya jadikan bernama esai. 

‎Sebuah opening menghentak, Puspita langsung ke jantung:

‎”Di bawah naungan atap Balla Lompoa.”  Sejarah tidak pernah benar-benar tertidur. Ia bernapas dalam ukiran kayu, daun lontara,  berbisik di antara desau angin, di antara  soko-soko, dan menetap dalam ingatan yang kita sebut warisan serta sejarah itu sendiri. 
‎​
‎​Langkah kaki ini membawa kita kembali ke sebuah titimasa bernama Bantaeng dengan julukan Butta Toa, serta beberapa hal kisah sejarahnya yang begitu kuat, menerpa setiap jejak dan proses peradaban itu berlangsung dan berjalan.

‎Puspita menguatkan dengan berucap tegas, “Bukan sekadar kunjungan.”  Melainkan sebuah kelapangan jiwa di antara belukar sejarah buyutnya, menyebutnya dengan kata  “ziarah” untuk menelusuri jejak sang Jannang. Ya.  Sebuah gelar yang memikul lebih dari sekadar nama.

‎Ia adalah simbol keteguhan, penjaga keseimbangan, dan jembatan antara titah penguasa dengan harapan rakyat. Lanjut sang cicit, Puspita.
‎​
‎​Tetiba merasakan heningnya ruang-ruang tua, menurutnya kita belajar bahwasanya menjadi Jannang adalah tentang integritas yang tak luntur oleh zaman.

‎Sebuah dedikasi yang memastikan di antara  sejarah tetap menjadi cerita, pengharapan tetap ada, tanpa harus butuh pengakuan.  Nilai kearifan adat serta adab, menguatkan satu dengan lainnya, agar  tetap tegak, dan kehormatan tetap terjaga di atas bumi Bantaeng.

‎Sejarah bukan hanya tentang gedung yang berdiri atau prasasti yang mati atau telah basi dengan narasi. Bagi kami, sejarah adalah aliran darah yang tak pernah putus. Semakin menukik saya menyusuri lekukan setiap paragraf tengah ini dari narasi Puspita. Menambatku,  menumbuhkan jiwa-jiwa pengelana dan penyuka sejarah yang tidak sekadar berbasa-basi dan bertaruh gengsi.
‎​
‎​Di tanah ini, ingatan kami kembali pada sebuah nama: Pama’ bin Madunda bin Serang. Seorang lelaki yang mematri jejaknya sebagai Jannang Mappilawing. Beliau bukan sekadar pemimpin; beliau adalah penjaga amanat, pemegang teguh adat, dan benteng bagi kaumnya.
‎​
‎​Mappilawing bukan hanya sebuah wilayah atau simbol nama semata, tapi sebuah kehormatan yang dijaga dengan integritas. Melalui garis keturunan ini, dari Madunda hingga ke Serang, kami mewarisi lebih dari sekadar nama besarnya. Akan tetapi  mewarisi semangat kearifan yang kini kami jemput kembali di serambi Balla Lompoa. Wow. Saya merasakan sesuatu, menghujamku saat sampai ke narasi Puspita paragraf ini.  Begitu kuat akarnya, seraya menghubungkan hierarki, sebagai afirmasi, bukan klarifikasi atau hendak menjadikannya sensasi.

‎Puspita masih melanjutkan coretan resah dalam rasa yang dia tuangkan.  Bahwasanya pula, ​Kunjungan ini adalah cara kami menyambung kembali rasa yang sempat terjeda oleh waktu. Mendengar kembali bisikan leluhur di antara tiang-tiang kokoh ini. Karena untuk melangkah jauh ke depan, kita tak boleh lupa pada akar yang menghidupi.”
‎Mari menyelami kembali jati diri. Menemukan makna di balik kearifan masa lalu, demi melangkah dengan pasti menuju masa depan.”

‎Betapa keharuan seorang cicit, sampai di narasi ini dia ingin menyampaikan kepada semua bahwa di dalam jiwanya ada ketegaran, ada kemapanan, keistimewaan serta kelapangan dari buyutnya bernama ​”Pama’ bin Madunda. Buyut  kami, kebanggaan kami, sejarah kami”.

‎Kecamuk Puspita memantikku mengajukan sehelai esai sederhana ini. Sembari menikmati diksinya, terbawalah saya pada satu temuan istilah sejarah, walau umumnya dihiasi dan dibuat oleh pemenangnya!  Akan tetapi semua tergantung interpretasi serta riasan fakta (literatur/narasumber),  hasil dialog, debat, percakapan sampai pada uji nyali mentalitas yang kemudian pernah terhenti sejenak.

‎Selengkap apa sejarah itu dikisahkan? Tanpa harus di antara dogma, dengan  dipaksanya kita untuk meyakini, lalu semua telah selesai,  harus terhenti hanya sampai pada satu cerita, atau kisah yang menjadi dongeng sampai dengan menakuti penuh mistis? Emm.

‎Tentunya kita sepaham saja dulu, tanpa menampik teori mitos sejarah, sebagaimana juga sejarah tidak semudah untuk dimenangkan, dibenarkan, tetapi sebagai jalur, penyeimbang, penguatan, bahwa kita butuh validasi periodesasi, hukum, budaya, agama, politik, titimasa, abad, dari setiap  babad. 

‎Saya sepakat dengan narasi ini, di sebuah percakapan pada laman mencoba menerjemahkan di mana sejarah dia   lahir dari kebutuhan manusia untuk memahami masa lalu, mendokumentasikan pengalaman, dan mencari identitas diri.

‎Melalui bernama  penelitian, interpretasi, dan penulisan oleh sejarawan atas bukti-bukti, dokumen, artefak, serta catatan masa lampau.

‎Dalam perdebatan ilmiah mengenai peristiwa masa lalu dan dikembangkan melalui unsur manusia, waktu, dan ruang. Dia lahir  sebagaimana secara Etimologi: Berasal dari kata Arab katanya! Benarkah syajaratun (pohon), Dicocokkogikan dengan simbol silsilah atau keturunan, sementara Yunani historia (ilmu/penyelidikan), itu katanya melalui bukti dan catatan.  

‎Saya melenggang lagi ke satu persepsi, di mana sejarah tercipta ketika peristiwa masa lalu disusun berdasarkan peninggalan seperti dokumen, prasasti, dan artefak.

‎Kuteguhkan kembali pengantar Puspita di atas.  Ini hanya saya mencoba menyadur, tidak mendaur.  Dia bagian peristiwa, saat  menjadi dikatakan sejarah, saat  jika ada sejarawan yang meneliti, kemudian menguatkan dengan menginterpretasikan, dan menuliskannya, menjadikannya sebuah kisah atau narasi.

‎Bisa saja menjadi dongeng pula.  Tanpa bukti-bukti, serta sumber yang kuat, seraya membuat pembanding, dan menarik garis tidak harus lurus juga, tetapi setidaknya akan menemukan satu titik temu, meski harus secara mebralitas kualitas diri bertahan pada proses penyusuran itu berlangsung. 

‎Mununtut kemudian bagaimana sejarah melibatkan manusia sebagai pelaku, waktu sebagai periode, dan ruang sebagai lokasi. Dia berevolusi. 

‎Awal berupa catatan sederhana (buku harian/catatan), mengisahkan heroik, atau apalah yang membuatnya merasakan kenyamanan. menuliskannya, namun kini berkembang menjadi disiplin ilmu yang mempelajari sebab-akibat.

‎Sejarah lahir sebagai upaya manusia untuk mengabadikan perbuatan dan ingatan agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

‎Sejauh peradaban ini terjadi, masih butuh penanda lagi, sebagian berhenti pada satu titik saja, tanpa mengubah strategi untuk setidaknya menjadi panduan saat pengetahuan tentang sejarah tidak hanya sampai pada satu dimensi atau bertahan pada arogansi saja.

‎Butuh kelapangan, saat proses penyusuran hingga pada kesimpang siuran sebuah sejarah, antara para pencatat dan pencatut sejarah itu sendiri, antara rekayasa dan realita yang masih juga butuh fakta-fakta. 

‎Sampai saat ini, hanya bayangan dari belukar zaman sejarah itu  dicungkil, minim hitungan persitiwa, dari  abad sampai periode. Sebagian diantara kita hanya berusaha mencatut, mengikuti para  pemenang dan penulisan sejarah. 

‎Masa dimana para pencatat peristiwa, berbaur antara objektifitas dan subjektifitas. Tertangguhkan secara kualitas.

‎Atau lebih ke sini lagi, secara penyusuran kami, banyak kelokan, serta tanjakan, sampai pada turunan yang sebenarnya arah ke kiri, justeru memaksakan ke arah kanan.  Akibatnya kehilangan identitas, susah meretas karena terlanjur berbaur dengan sejarah yang di buat sesuai pemenang sarat kepentingan. 

‎Tidaklah mudah, jika hanya sekadar mengakui satu sisi saja, butuh afirmasi-afirmasi lain, yang kadang kita lupakan, padahal sesungguhnya di sanalah sejarah itu ditulis dengan kelapangan jiwa.

‎Kelapangan sejarah itu, dengan mengakui sejarah sezamannya bahkan sebelumnya, sampai sesudahnya, tanpa melukai dan membumbuhi doktrin menjadi tabu dibincangkan, sampai pada tertutup dinding  sejarah lain yang masuk secara kepentingan. 

‎Tetiba ada celetuk ditengah semak sejarah!  Ya, benar bahwa sejarah sering kali penuh misteri, penuh teka-teki, dan simpang siur (interpretasinya berbeda-beda). Hal ini terjadi bukan berarti sejarah itu bohong, melainkan karena sifat sejarah itu sendiri dan proses penulisan sejarah (historiografi) yang kompleks.

‎Mengapa sejarah penuh misteri dan simpang siur? Kata seseorang, sejarah adalah masa lalu yang “hilang”. Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak bisa diulang persis sama (unik). Banyak detail kejadian yang hilang seiring waktu, menciptakan “misteri” yang tidak pernah terungkap sepenuhnya.

‎Keterbatasan sumber (arsip/arkeologi) di mana bukti sejarah sering kali tidak lengkap, rusak, atau bahkan musnah. Sejarawan harus menyusun ulang peristiwa dari kepingan informasi yang terbatas.

‎Ada juga berpendapat dia secara subjektivitas penulis (bias): Sejarah adalah dialog antara masa lalu dan masa sekarang. Interpretasi sejarah sering dipengaruhi oleh sudut pandang, kepentingan, budaya, dan ideologi sejarawan atau saksi mata yang mencatatnya.

‎Akhirnya paling sering menjadi populer kalimat ini “sejarah ditulis oleh pemenang”. Seringkali narasi sejarah didominasi oleh sudut pandang pihak yang menang atau berkuasa, sehingga menyembunyikan versi dari pihak yang kalah.

‎Sampailah pada sebuah perbedaan interpretasi: Satu peristiwa yang sama bisa ditafsirkan berbeda oleh sejarawan yang berbeda, tergantung pada bukti yang mereka tekankan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *