Kesosialan dan Kesialan

Saya mulai gulai gugup dan gagap. Kusematkan dan kusamarkan saja dalam caraku bersifat dan bersikap, toh tersingkap walau sejauh mana menyembunyikan tentang sifatia manusia, antara kedok dan ketulusan itu, antara kesosialan dan kesialan menjadi konsekuensi.

‎‎Kadang pula saya tersesat, terjebak sendiri, terseret, terbawa suasana pastinya, di tengah gelombang kemanusiaan yang mengintimidasi, sampai tersungut dan menjamurnya keberpuraan pada cara “kesosialan berujung bisa saja ketimpah “kesialan”‘.

‎Kudu diadu, setiap konsep dan filosofi kehidupan, kesosialan, dan kesialan. Baik secara adaptasi, hingga pada sebuah transaksi sosial yang kini semakin marak, menjadi tetabuhan untuk bergotong royong, tapi saling menodong.

Di tengah peristiwa itu, ada paradoks yang ditawarkan, seakan kita harus terpaksa menyaksikan dan disuguhi teori serta  teatrikal kesosialan. Ada yang masih belum bisa menerima “move on“, saat ditinggal seseorang, ada belum bisa menerima kakalahan, apatahlagi mengakui kesalahan. Siap rasanya saat sosial itu dibegal.‎‎

Ada juga cuek saja,  sederhana, tidak ribet, tapi membangun kultur sosial secara diam, tanpa harus menjadi tutorial bin viral. Walau berakhir mendapatkan kesialan. ‎‎

Di tengah paradoks itulah, sebagian orang membenturkan hal yang seharusnya dimudahkan, bukan dijadikan sebagai aktualisasi dalam sebuah kontestasi, sosial, agama, budaya dan politik. 

‎‎Serunai kehidupan dan manusia, menguatkan ingatan saya pada sebuah peristiwa, ada ketimpa sial, akibat begitu sosialnya, diterpa badai arah arus balik. Tidak semuanya berbuat baik dibalas budi baik pula, justru sebaliknya yang fenomena ini telah sering terjadi  di depan hidung kita. 

‎‎Berapa banyak kebajikan, berapa pula kau harus menebus.  Sekali terhunus dengan drama tentang sosial.

Sial! Sesorang kecewa dengan ketus mengelupas di dinding hatinya. Soal sosial, yang kini semakin binal dituang dengan caption huruf kapital tebal.

‎‎Padanannya perilaku kolektif adalah kebiasaan buruk yang menular di lingkungan pergulatan manusia, membuai, serta membantai.

‎‎Kata solidaritas sebagai solusi, berujung petaka yang sebenarnya pusaka, dukungan sosial dan lingkungan yang positif serta negatif dapat memitigasi, serta menjadi  risiko kesialan.‎‎

Hidup menukil, serta mencungkil, mengurainya sebuah perjalanan yang berkelok-kelok, melewati lembah penderitaan dan puncak kebahagiaan yang tak terduga. ‎‎

Dalam narasi kehidupan, kesialan sebagai musuh utama. Namun, justru dalam momen-momen tergelap ketika kesialan menimpa, esensi kemanusiaan manusia diuji, terkaji, tertatih, hingga bersinar paling terang. Kesialan bukan sekadar pengalihan issue Tuhan! melainkan sebuah situasi yang menuntut respons empati, solidaritas, dan martabat manusia.‎‎

Saya menggumam saja, terhadap yang sedang sial, cobalah bersiul. Di tengah badai sekadar atas nama intervensi sosial.

‎‎Seketika seorang merasa asing bagi kita, membasuhmu di tengah kesulitan. Itu sedang menegaskan bahwa nilai-nilai sosial (kebajikan), akan lebih berharga daripada harta benda.

‎‎Bagaimana sisi kesosialan kemanusiaan, yang mencakup empati, solidaritas, dan keadilan? Yang seringkali terucap kata “kodong, kamase“, yang seringkali muncul menjadi empati, tetapi menambah tusukan belati (hanya pamrih)? ‎‎

Saat manusia merasakan penderitaan yang sama, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Lebih jauh, kesialan dapat menjadi katalisator bagi perubahan sosial dan peningkatan kualitas moral. ‎‎

Tragedi atau kemalangan, empati mungkin tidak akan pernah terasah. Manusia belajar berdamai dengan nasib melalui cara pandang baru yang lebih berbelas kasih. Begitulah kesialan memaksa manusia untuk berhenti sejenak, melihat ke sekeliling, dan menyadari bahwa mereka tidak hidup sendirian.‎‎

Kesal, kecewa, haru, berujung rupa yang sama, menguji setiap cara, menebus dengan tidak harus membungkus di baliknya ada pulus dan akal bulus. Ini dalam suasana peradaban yang kian remuk dengan oleh kesosialan dan kesialan manusia sama-sama mengandung tendensius.

‎‎Terhadap tragedi sosial, manusia dan peradaban. kuurungkan untuk bertameng jujur, karena akibatnya biasanya kita babak belur. Sebegitu pula saat sosial semata klise dan menunggu berharap timbangan amaliah. Itu juga kesialan bagi ketimpaan penderita sosial kehidupan. Cukup timpang dan hanya sekadar menumpang.

‎‎Dalam konteks sosial, individu perlu memperbaiki interaksi sosial. yang katanya membangun empati, meningkatkan kapasitas diri agar mampu beradaptasi dengan segala dinamika sosial.

‎‎Apakah harus aktif dalam perbaikan komunitas (kerja bakti, gotong royong) adalah cara untuk mereduksi “sial” yang bersumber dari hubungan antarmanusia?

Justru narasi ini menghantarkan dengan sebaliknya, sebab topeng dan muka bopeng masih berusaha untuk menutupi, sosial, menjadi sial karena cenderung hari ini manusia butuh imbas tercatat di atas kertas berwarna dan lukisan seorang tokoh sebagai bentuk transaksi secara validnya hukum kesosialan.

‎‎Haruskah saya menarik simpul? Tentunya kembali saya tidak segegabah sebelumnya. Bagi saya sial tidak selalu datang dari langit, dia ada dalam dirimu dan secara acak. Dalam konteks kesosialan dan “kesialan” seringkali berbanding lurus dengan kualitas interaksi dan sistem sosial diri dulu, barulah bisa keluar menafkahi nilai sosial sekitar kita.

‎‎Apakah saya harus memaksakan memperbaiki hubungan sosial dan bergotong royong mengatasi ketimpangan, dapat mengubah “nasib sial”?

‎‎Loemi tau ripakaramulannaji sipakalbbiri, sikapaccei, sipitangara’. Mingka Nia se’ wattu angjari massing sipakasiri’-siri’.

Begitulah adanya kehidupan di tengah gulma dan gumpalan awan tiada terbaca, antara mendung menghadirkan pelangi, atau hujan rintik sampai deras kuyup. Antara berkah, anugerah atau masalah. Gelagat itu mulai tampak meski diantara semak, melesat kemudian ke tebing hanya hendak ingin ternilai “sosial”.

‎‎Saya mulai semakin tergerus, sebuah arus membawaku ke muara, tetapi di sana air payoh, gosse, seperti sampara mammanyu’. Bercampur aduk, apakah saya harus berbuat jahat sebagai mahluk sosial, baru kemudian sedikit bajik. ‎‎

Bisa saja saya memilih interaksi sosial secara binal, atau sedikit radikal. biar kelak menerima lapang dada kesialan itu. Dari pada harus berusaha bajik, bijak beraura sosial padahal itu tips, trik, agar merasakan sensasi ditengah kondisi sosial kehidupan dan kemanusiaan. ‎


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *