Category: Esai

  • Koalisi Tanah

    Koalisi Tanah

    “Tak elok merendahkan musuh sedalam tanah. Sebab, bila musuh berkoalisi dengan tanah, maka akan lahir gerakan bawah tanah.” (Tajali Daeng Litere, 26122024) Senandika Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan menyelipkan jenaka pada permainan bunyi antara tanah dan bawah tanah. Namun, sebagaimana lazimnya aforisme, kelugasannya menyimpan simpai makna lebih jauh. Ia tiada sedang berbicara tentang strategi…

  • Shalat Istisqa dan Pemerintahan yang Kehabisan Akal

    Shalat Istisqa dan Pemerintahan yang Kehabisan Akal

    Ada kabar baik dari Bantaeng: pemerintah sudah menemukan cara menghadapi kemarau. Shalat istisqa. Ini kabar baik. Sebab kalau pemerintah sudah mulai meminta hujan kepada Tuhan, berarti mereka sadar bahwa ada sesuatu yang tidak bisa mereka datangkan dengan surat keputusan, rapat koordinasi, spanduk, atau konferensi pers. Hujan memang tidak bisa diperintah dengan disposisi. Tetapi jangan buru-buru…

  • Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

    Ada tradisi yang tidak gaduh ketika perlahan menghilang. Ia tidak runtuh seperti bangunan tua. Ia hanya makin jarang dilakukan, amat sedikit pewarisnya, lalu suatu waktu orang-orang hanya mengenangnya sebagai kebiasaan masa lalu. Maulid Nabi Muhammad saw. di Bissampole agaknya sedang berhadapan dengan keadaan semacam itu. Sebagai orang tempatan Bissampole, saya menyaksikan pergeseran tradisi. Dahulu, hingga…

  • Perayaan Sebuah Republik di Bissampole

    Perayaan Sebuah Republik di Bissampole

    Riuh dan gemuruh kemerdekaan bernama Republik Indonesia ke-81 ini. Usia negeri yang terbaca dalam sejarah, pertengahan perjalanannya, menurutku hanya menyesuaikan pada tahun 1945 saja. Rasanya selera berandaiku ini pupus di antara babad di abad yang tergolong masih beranjak dewasa. Dipaksanya aku bersorak-sorai bergembira, padahal kita masih terpenjara. Negeri yang sepertinya semakin terhujam dan dibabat. Tapi…

  • Tentang Katanya

    Tentang Katanya

    Seleraku menggugat, mendaras yang sederhana saja, agar semakin menguatkan dengan tidak melintas sekadar tameng pembatas buku. Aku baca selembar dan sampai tiap selesai satu bab, muncul seribu tanya baru yang belum berani kujawab. Aku masuk ke celah-celahnya. Mengunyah sampai sebuah tinta kata-kata menetes di ujung lidah. Aku suka merayu dan memaksakan keinginan pada Tuhan, sampai…

  • Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng

    Ada kampung yang sekadar menjadi tempat orang tinggal. Mengada pula kampung,  menyimpan ingatan panjang, tentang bagaimana sebuah negeri bermula. Bissampole agaknya termasuk yang kedua. Bentangan sejarah Bantaeng menabalkan Bissampole bukan nama yang datang belakangan. Ia telah disebut dalam kisah tua, tentang tujuh wilayah, masing-masing dipimpin oleh seorang Kare’: Onto, Bissampole, Sinoa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang, dan…

  • Makar Tuhan

    Makar Tuhan

    Tuhan tidak diam, buta, atau tuli. Kebrutalan manusia saling menegasikan satu sama lain, menjadikan manusia tamak, buta hati, dan bahkan tega memberangus manusia lainnya. Ketamakan dan cinta dunia mendorong manusia untuk saling meniadakan. Sejarah manusia akan berulang dari masa ke masa. Aktor dan konteksnya saja yang berbeda. Di masa lampau, sekitar 14 abad silam, cahaya…

  • Mengarang Kemerdekaan

    Mengarang Kemerdekaan

    Aku buat sendiri satir pada judul, tetapi apa guna. Tidak mengapa! Biar lega sesak di dada di tengah luka terkoyak sebuah negeri yang seharusnya kaya, disegani, menjadi seperti istilah yang kini santer “Londoireng”. Hem. Tidak harus ikut menyeretku ke suatu hal tanpa kumengerti. Cukup hal biasa bin sederhana saja kucelupkan pada narasi ini. Saat aku…

  • Ketika Arsip tidak Memihak Korban: Catatan Diskusi “Lagu untuk Anakku”

    Ketika Arsip tidak Memihak Korban: Catatan Diskusi “Lagu untuk Anakku”

    Saya merasakan sesuatu yang ganjil, aneh sekaligus membingungkan. Saya berpikir, mungkin itu adalah efek dari sensasi menyusuri lorong sempit, remang, lengang. Lorong ringkih itu diapit dinding tinggi bak pagar penjara yang mengintimidasi siapa pun. Saya, Bu Hersis dan Afra berjalan pelan mengantri, masing-masing dengan pikiran yang menduga-duga. Kebingunganku belum juga reda saat tiba di ujung…

  • Sikapallakki

    Sikapallakki

    Seketika mulai rapuh. Melepuh, luluh, dan keruh. Sejumud hidangan asin, manis, pekat, tawar, dan pahit sepertinya susah lagi kita definisikan. Untuk guyub, tergantung selera, strata sosial, mulai pudar bin hambar. Tidak perlu pura-pura tidak tahu bahwa realitas yang ada tampak di depan hidung. Sudut pandang sosiologi dan antropologi mencoba menafsirkannya: Beberapa bentuk mentalitas serta kebiasaan…