“Ihr drängt euch um den Nächsten und habt schöne Worte dafür. Aber ich sage euch: eure Nächstenliebe ist eure schlechte Liebe zu euch selber. Ihr flüchtet zum Nächsten vor euch selber und möchtet euch ein Verdienst daraus machen: aber ich durchschaue eure ‘Selbstlosigkeit’.” (Friedrich Nietzsche – Thus Spoke Zarathustra)
Nietzsche melalui karakter Zarathustra mengkritik konsep altruisme atau cinta kasih kepada sesama yang dilakukan hanya sebagai pelarian. Menyarankan agar kita melampaui “cinta pada sesama” (love of the neighbor) menuju “cinta pada yang terjauh” (love of the farthest), fokus pada potensi masa depan manusia (Übermensch).
———
Esai ini terpantik melihat proposisi Dion Syaif Saen dalam esainya berjudul, “Kesosialan dan Kesialan”, Paraminda.com, 26 Januari 2026, sebagai sebuah bentuk keegoisan argumentasi, barangkali sedikit pesimis.
Sial! Itulah satu-satunya kejujuran yang tersisa di tengah kerumunan manusia yang sibuk bersandiwara. Jika ada yang mengatakan bahwa kesialan adalah panggung bagi kemanusiaan untuk bersinar, maka izinkan saya dengan segala hormat meludah tepat di wajah optimisme kosong itu. Bukan cahaya, itu adalah jilatan api yang menghanguskan harga diri, sementara penonton di sekelilingnya merasa suci hanya dengan memberikan segelas air yang bahkan tak akan mampu memadamkan apa pun.
Narasi tentang kesosialan yang lahir dari kesialan hanyalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang menyedihkan. Kita hidup dalam jaman yang memuja empati, terlalu takut untuk mengakui bahwa keberuntungan hanyalah masalah angka statistik, dan kemalangan adalah bukti betapa tidak berdayanya kita di hadapan semesta.
Kita menciptakan konsep empati dan solidaritas bukan untuk menolong korban, melainkan untuk menenangkan rasa cemas, takut bahwa besok, giliran kita yang akan hancur dan tidak akan ada yang menonton.
Sedikit mengayuh tensi narasi saya. Kita coba telanjangi apa yang disebut sebagai respons empati. Saat Anda melihat seseorang jatuh dalam lubang kesialan yang paling dalam, apa yang sebenarnya Anda rasakan? Kehangatan kemanusiaan? Ingin kuberkata lain selain omong kosong, namun tidak ada kata yang cukup menggantikannya.
Justru kesialan seseorang disudut mata si paling empati menciptakan lonjakan dopamin. Sadar bahwa bukan dia yang berada di sana. Kesialan orang lain adalah cermin usang yang tertutup debu tebal yang digunakan untuk mengagumi keberuntungan diri sendiri.
Memanen penderitaan orang lain untuk memberi makan ego moral yang sedang kelaparan, adalah salah satu tindakan predator. Menjadi pahlawan tanpa pedang, hanya berbekal wajah prihatin dan kata-kata penghiburan yang hambar. Solidaritas hanyalah cara halus untuk mengatakan, “Syukurlah itu bukan aku, jadi biarkan aku menikmati sensasi menjadi orang baik di atas bangkai garis tanganmu.”
Esai-esai cengeng selalu mempromosikan bahwa tragedi mengasah moral dan meningkatkan kapasitas diri. Benarkah demikian?
Apakah kemiskinan yang mencekik itu mendewasakan, atau justru merusak sel saraf dan membusukkan nurani? Apakah tragedi massal melahirkan keadilan, atau justru menunjukkan betapa mudahnya manusia dikomodifikasi, terpampang dalam hitungan angka-angka yang segera dilupakan setelah layar gawai dimatikan?
Hanya yang hidup dibalik jendela kenyamanan yang bisa berkhotbah kesialan adalah pemantik perubahan moral. Bagi mereka yang benar-benar hancur, kesialan adalah lubang hitam yang menghisap setiap tetes harga diri. Mengatakan pada orang yang sial untuk bersiul di tengah badai bukan sekadar naif, itu penghinaan simbolik. Kekerasan psikologis yang memaksa korban untuk tersenyum di atas paku-paku yang menusuk kaki mereka sendiri, agar—si penonton sosial—tidak merasa terganggu oleh jeritan mereka.
Sejenak rehatlah bersikap bajik dan bijak secara palsu. Kebajikan sosial yang selama ini dipertuankan hanyalah tutorial dan gimmick citra diri agar terlihat diskon dalam pasar interaksi manusia. Membangun riasan kepedulian, tidak jauh berbeda dengan mata uang sosial yang paling stabil. Kita membasuh kesulitan orang lain bukan karena kita mencintai mereka, tapi karena kita ingin membeli asuransi langit, bahkan sekadar pengakuan bahwa kita adalah makhluk yang beradab.
Saya lebih memilih interaksi sosial yang binal dan radikal. Mengakui bahwa saling membenci, bahwa egois, dan bahwa kesialan Anda adalah urusan Anda sendiri, jauh lebih jujur meskipun pahit daripada menjulurkan tangan yang penuh dengan motif tersembunyi.
Mengapa kita harus berpura-pura bahwa nilai sosial lebih berharga dari harta benda? Coba sodorkan empati pada orang yang sedang kelaparan dan lihat apakah itu bisa mengisi perutnya lebih baik daripada sebongkah roti yang dibeli dengan modal keringat, bukan sekadar timbangan amaliah.
Tetapi ini lebih dari arti kelaparan dan roti.
Peradaban ini sedang sakit, manusia cenderung terlalu sibuk merayakan penderitaan atas nama kemanusiaan. Secara nirsadar, menciptakan sistem yang membiarkan kesialan, lalu mendirikan yayasan untuk memotret mereka saat terjatuh di lubang hitam kedalaman. Manusia jua memuja solidaritas, di saat yang sama membiarkan struktur kesemena tetap berdiri perkasa. Tanpa mereka yang sial, tidak ada tempat untuk menunjukkan betapa sosialnya kita.
Kesialan bukan untuk dipelajari, bukan untuk dijadikan bahan refleksi yang puitis di esai atau di roman picisan. Memoles tragedi dengan diksi-diksi indah agar ia tampak seperti ujian Tuhan atau mungkin proses pendewasaan adalah sesuatu yang membuat “eneg”.
Berhenti bersiul. Berhenti membasuh kesulitan dengan klise. Jika benar-benar ingin menjadi manusia, akuilah bahwa setiap kali membantu seseorang yang sial, itu bentuk transaksi psikologis untuk menyelamatkan harga diri yang rapuh. Jangan sebut itu kemuliaan. Sebutlah itu rasa takut.
Kita semua adalah sekumpulan pengecut yang saling berpelukan di tengah kegelapan, bukan kita saling mencintai, tapi takut pada degradasi cahaya yang pekat. Dalam pelukan itu, kita saling merogoh saku masing-masing, mencari validasi sosial yang sebenarnya kosong. Kesialan adalah realitas, sedangkan kesosialan bagaikan badik yang memakan dirinya sendiri.
Masihkah merasa bangga dengan empati? Mulai sadarkah wahai burung bangkai yang menunggu kemalangan orang lain untuk bisa merasa hidup? Pilihannya sederhana, tapi jangan ajak saya masuk ke dalam drama memuakkan itu.
Cukup, “Captopril” sudah saya minum.

Lahir di Bantaeng, 13 Juni 1991. Pendidikan: SD Jastisari 1 Bekasi (2003), SMP Negeri 1 Bantaeng (2006), SMA Negeri 1 Bantaeng (2009), S1 Ilmu Politik Fisip Unhas (2016). Pengalaman Organisasi: Ketua OSIS SMA Negeri 1 Bantaeng (2007-2008), Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fisip Unhas (2011-2012), Kabid PTKP HMI Kom. Isipol Unhas (2012-2013), Kepala Sekolah Pemuda DPD KNPI Bantaeng (2020-2023), Kabid Pendidikan & Olahraga DPD KNPI Bantaeng (2023-2026). Pengalaman Kerja: Manager Editor – SIGn Publisher (2019-2020), Redaktur – Humanities Genius Publisher (2020-2021), Kemensos RI – Pemberdayaan Fakir Miskin (2021-2022) & Perlindungan Jaminan Sosial (2022-sekarang). Dapat dihubungi via email: aliftawaqal2@gmail.com


Leave a Reply