Author: M. Yunasri Ridhoh

  • Hardiknas, Ki Hajar Dewantara, dan Konsep Tri Rahayu yang Terlupakan

    Hardiknas, Ki Hajar Dewantara, dan Konsep Tri Rahayu yang Terlupakan

    Hardiknas kembali dirayakan. Ya, dirayakan, sebagaimana 2 Mei tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana juga sebuah perayaan, ia hampir selalu diisi dengan seremoni dan formalitas. Upacara, pidato, penggunaan pakaian adat Nusantara, unggahan media sosial, dan berbagai simbol kebanggaan lainnya. Tidak salah, tentu saja. Bahkan bisa jadi penting sebagai penanda kolektif bahwa pendidikan masih kita anggap bernilai. Tapi pertanyaannya,…

  • Anak, Medsos, dan Hak Bermain

    Anak, Medsos, dan Hak Bermain

    Pemerintah Indonesia resmi melarang anak di bawah usia 16 tahun memiliki akun media sosial mulai 28 Maret 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 dan menyasar sejumlah platform digital yang dianggap berisiko tinggi seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta Roblox. Tujuannya yakni melindungi anak dari paparan konten…

  • Warga, Kampus, dan Bayang-Bayang Kekerasan Epistemik

    Warga, Kampus, dan Bayang-Bayang Kekerasan Epistemik

    Saya sangat menyesal, hari itu saya tiba terlambat di lokasi kongkowkolektif#1 yang dibikin oleh Gengdekol dan Paradigma Institute. Perhelatan diskusi yang sebetulnya jauh-jauh hari sudah saya rencanakan untuk hadir. Sayang rencana itu tak sampai. Dalam perkiraan saya, jarak dari Topejawa, Takalar, seusai menghadiri pernikahan seorang kawan, ke Pabbentengan, Alauddin, tidak akan memakan waktu sangat lama.…

  • Warga Pascakolonial

    Warga Pascakolonial

    Setelah orang-orang terjajah itu merdeka, misalnya orang India dari Inggris, orang Indonesia dari Belanda, orang Filipina dari Spanyol, atau orang Aljazair dari Prancis, apakah mereka betul-betul merdeka? (merdeka dalam arti sesungguhnya). Pertanyaan itu meski terdengar sederhana, tapi bagi saya sangat penting kita ajukan. Karena hanya dengan pertanyaan itulah kita bisa menemu-kenali, lalu membongkar tabir-tabir Kolonial…

  • Indonesia: Nama yang Diperebutkan

    Indonesia: Nama yang Diperebutkan

    Esai Adam Kurniawan berjudul “Indonesia sebuah Nama” di Paraminda.com, 20 Januari 2026, kembali mengundang percakapan. Rasanya perlu memberi respon, semacam apresiasi atas kerja intelektual yang dilakukannya. Dalam tradisi kajian kebangsaan, nama kadang dipandang dan diperlakukan sebatas hal yang telah selesai, diterima begitu saja sebagai fakta historis yang baku. Adam malah berbeda, ia memproblematisir nama “Indonesia”,…

  • Sekali Lagi, Soal Bangsa, Bahasa, dan Bangsawan

    Sekali Lagi, Soal Bangsa, Bahasa, dan Bangsawan

    Saya berterima kasih kepada Syafinuddin Al-Mandari yang membaca dan menanggapi esai saya, yang juga sebetulnya-senyatanya merupakan tanggapan saya atas esainya di Paraminda.com, 3 Januari 2026. Saya melihat disitu ada kesungguhan akademik, terutama ditunjukkan melalui literatur yang digunakan dan pendekatan linguistik-historis yang dipilih-dipakainya, untuk menjelaskan bagaimana bangsa dan bangsawan dikonstruksi, direkam, dan diwariskan di dalam bahasa.…

  • Bangsa, Bangsawan, dan Beberapa Pengecualian

    Bangsa, Bangsawan, dan Beberapa Pengecualian

    Saya berterima kasih kepada Sulhan Yusuf atas tanggapannya berjudul, “Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling” di Paraminda.com, 4 Januari 2026, yang seperti biasa selalu memikat. Setelah membacanya berulang-ulang, saya menyadari satu hal penting, bahwa tanggapan Sulhan Yusuf tidak berada dalam semangat membantah, melainkan menimbang. Rasanya (mudah-mudahan perasaan saya tidak keliru), Sulhan membaca argumen saya secara…

  • Bangsa sebagai Konsensus dan Disensus

    Bangsa sebagai Konsensus dan Disensus

    Sebagai tanggapan atas tanggapan, rasanya saya mesti memulai dari ucapan terima kasih kepada Adam Kurniawan. Bagi saya, tanggapannya atas esai saya berjudul “Bangsa dan Bangsawan” sangat berarti dan saya memaknainya sebagai sebuah ajakan berpikir. Dan memang, begitulah seharusnya gagasan diperlakukan, ia dipercakapkan, diuji, diperdebatkan, digeledah, dibantah, dan seterusnya, dan sebagainya. Atas dasar itulah saya merasa…

  • Bangsa dan Bangsawan

    Bangsa dan Bangsawan

    Saya terpantik menulis esai ini setelah membaca tulisan Syafinuddin Al-Mandari di Paraminda.com berjudul “Negara dan Bangsa; Berbeda dalam Dekapan Pemiliknya” (28 Desember 2025). Yang sebetulnya juga respon atas esai Sulhan Yusuf, tentang “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga” (11 Desember 2025). Tulisan tersebut berusaha mendedahkan perbedaan, antara negara sebagai bangunan administratif kekuasaan dan bangsa…

  • Geografi Kebahagiaan

    Geografi Kebahagiaan

    Data BukuJudul: The Geography of Bliss: Kisah Sang Pelancong Filosofis yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling MembahagiakanPenulis: Eric WeinerPenerjemah: M. Rudi AtmokoPenerbit: PT Mizan Pustaka (Penerbit Mizan)Tahun terbit: 2024 (Edisi kelima)Tebal buku: 520 halamanISBN: 978-602-441-298-2 Perkenalan saya dengan buku The Geography of Bliss, karya Eric Weiner sebetulnya terbilang terlambat. Buku ini pertama kali terbit pada…