Category: Esai
-

Bulan-Bulan Haram
Di saat banyak orang lebih cepat menghakimi ketimbang memahami, di saat itulah kita perlu berhenti sejenak menenangkan hati, sebab sikap memahami perkara tidak mudah dilakukan banyak orang. Laku memahami bersumber dari pekerjaan hati yang melahirkan empati. Sejatinya, kekuatan itu terletak pada sejauh mana seseorang menunjukkan rasa empati terhadap kemanusiaan. Mengabaikan laku empati sama halnya dengan…
-

Bangsa sebagai Konsensus dan Disensus
Sebagai tanggapan atas tanggapan, rasanya saya mesti memulai dari ucapan terima kasih kepada Adam Kurniawan. Bagi saya, tanggapannya atas esai saya berjudul “Bangsa dan Bangsawan” sangat berarti dan saya memaknainya sebagai sebuah ajakan berpikir. Dan memang, begitulah seharusnya gagasan diperlakukan, ia dipercakapkan, diuji, diperdebatkan, digeledah, dibantah, dan seterusnya, dan sebagainya. Atas dasar itulah saya merasa…
-

Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling
Percakapan ihwal Petta Tjalleng Daeng Maggulilling Karaeng Tallua Dongkonga, tidak pernah tuntas pada urusan silsilah. Setiap ikhtiar membacanya kerap berujung pada laku, jarak, dan pilihan etis di tengah pusaran kuasa. Tanggapan M. Yunasri Ridhoh melalui esai berjudul, “Bangsa dan Bangsawan”,Paraminda.com, 28 Desember 2025, menghadirkan satu timbangan konseptual penting, terkait pembedaan tegas antara bangsa sebagai persekutuan…
-

Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona
“Janganlah tebar pesona dalam memimpin negeri, bila personamu belum mampu menaklukkan semesta negeri.”(Tajali Daeng Litere, 18 Desember 2025) Sajian tutur Daeng Litere memuat peringatan lembut sekaligus tegas. Ia tidak menolak kepemimpinan, juga tidak mencurigai pesona. Perhatiannya tertuju pada urutan batin. Sebelum pesona ditebar ke hadapan khalayak, kerja sunyi mesti dituntaskan terlebih dahulu, yakni menaklukkan diri…
-

Bangsawan dalam Bangsa: Bahasa sebagai Arsip Feodalisme dan Modernitas Politik
Perkenankan saya menyatakan bahwa ada kesetujuan pada subtansi tulisan M. Yunasri Ridhoh dalam “Bangsa dan Bangsawan”, di Paraminda.com, 28 Desember 2025. Namun, jika yang dipersoalkan adalah keserupaan bunyi belaka, rasanya justru amat problematik. Saya sudah menduga bahwa pembahasan ini bakal berat sebab definisinya sangat dinamis. Saya menganggap bahwa terlalu sederhana jika hubungan bangsa dan bangsawan…
-

Bangsa dan Janji Kesetaraan yang Kerap Tersesat
Pada paragraf kedelapan, M. Yunasri Ridhoh, dalam tulisan berjudul, “Bangsa dan Bangsawan” di Paraminda.com, 28 Desember 2025, merujuk Imagined Communities (1983) untuk menegaskan bahwa bangsa, menurut Benedict Anderson, dibayangkan sebagai persaudaraan horizontal yang menempatkan semua anggotanya setara, meski tak pernah saling mengenal. Dari sini Yunasri menyimpulkan bahwa bangsa secara inheren bertentangan dengan bangsawan. Dalam imajinasi…
-

Dari Fukushima Kita Belajar, tak Ada Bencana yang Murni Alami
Pemerintah Jepang kembali menyalakan apa yang pernah dimatikan oleh sejarah: Kashiwazaki-Kariwa. Mereka menyetujui untuk mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia itu, setelah lebih dari satu dekade Bencana Fukushima mengubah kata “energi” menjadi “ketakutan”. Tanggal 11 Maret 2011 persisnya. Gempa bermagnitudo 9,0 mengguncang lepas pantai timur laut Jepang, disusul gelombang tsunami. Lebih dari…
-

Pengabdian nan Mengabadi
“Amat penting untuk mengintimi perbedaan antara mengabdi kepada negeri dengan mengabdi kepada pengurus negeri. Satu mengabadi dalam pengabdian, sedangkan lainnya sementara dalam kesementaraan.”(Tajali Daeng Litere, 17/12/2025) Ungkapan Daeng Litere menuntun pembacaan ulang atas kesetiaan. Ia tidak menolak pengabdian; ia memurnikannya. Persoalan terletak pada arah serta maksud, bukan semata laku melayani. Arah keliru membuat pengabdian tergelincir,…
-

Filosofi Sang Umbu
Air akan sampai ke tujuan dengan sasaran yang tepat. Aliran ke sawah, ke pemukiman, hingga ke tempat ibadah. Mengalir membasuh kerongkongan, kening serta bertahan hidup di tengah alam yang menyeruak makna-makna dan isyarat. Dia mengalir dengan khidmat serta nikmat, sesuai sasaran. Muaranya bagi kehidupan anak manusia. Dia mengajak menyatukan tanpa memilih, suku, agama dan…
-

Tiga “Malaikat” dan Urita dari Emirates
Tiada maksud memanggil malaikat turun ke lapangan hijau, apalagi mengaitkan kemenangan dengan campur tangan langit. Sepak bola tetap urusan kaki dan napas panjang, serta kecermatan taktik via nalar berlaga. Dua pucuk waktu menghidu saya. Pertama, dini hari berselimut Subuh, hingga pertengkaran gelap dan terang. Kedua, hari terakhir, Rabu, 31 Desember 2025. Apa yang elok di…
