“Janganlah tebar pesona dalam memimpin negeri, bila personamu belum mampu menaklukkan semesta negeri.”
(Tajali Daeng Litere, 18 Desember 2025)
Sajian tutur Daeng Litere memuat peringatan lembut sekaligus tegas. Ia tidak menolak kepemimpinan, juga tidak mencurigai pesona. Perhatiannya tertuju pada urutan batin. Sebelum pesona ditebar ke hadapan khalayak, kerja sunyi mesti dituntaskan terlebih dahulu, yakni menaklukkan diri di hadapan semesta negeri nan dipimpin.
Pesona kerap dipahami sebagai modal awal kepemimpinan. Ia memikat, menggerakkan, serta memberi janji perubahan. Namun, pesona tanpa fondasi mudah berubah menjadi selubung. Ia menyamarkan kekosongan dan menunda pengakuan atas batas. Dalam keadaan semacam itu, pesona bukan daya, melainkan ilusi nisbi nan cepat aus ketika diuji oleh kenyataan.
Menaklukkan semesta negeri tidak identik dengan dominasi. Ia tidak berarti menguasai segalanya melalui kehendak tunggal. Maknanya terletak pada kesanggupan memahami kompleksitas kehidupan bersama. Di sana ada manusia dengan latar beragam, sejarah berlapis, luka lama belum sepenuhnya sembuh, serta harapan saling bersilang. Semesta negeri menyerupai jejaring hidup yang menuntut kepekaan, bukan sekadar ketegasan prosedural.
Persona menjadi koentji. Ia bukan topeng, melainkan watak bentukan laku sehari-hari. Ketahanan diuji bukan saat sorak ramai, melainkan ketika tekanan datang tanpa tepuk tangan. Mampu menahan diri dan sanggup mendengar perbedaan menjadi penanda kematangan. Kepemimpinan yang berangkat dari persona rapuh cenderung mencari penopang dari luar. Dalam kondisi itu, pesona sering dipakai sebagai penyangga, bukan pelengkap.
Tutur Daeng Litere mengajukan etika kepemimpinan berlapik penguasaan diri. Menaklukkan diri berarti menata ambisi dan mengakui keterbatasan secara jujur. Tanpa kesadaran ini, semesta negeri mudah dipersepsi sebagai panggung. Keputusan lalu menjelma pertunjukan, sementara amanah perlahan bergeser dari pusat perhatian.
Bahaya lain muncul ketika pesona hadir terlalu dini. Kepercayaan dipanen sebelum tanggung jawab matang. Pengikut berdatangan sebelum visi diuji oleh kenyataan. Saat badai datang—dan badai selalu datang—pesona sering menjadi lapisan pertama nan runtuh. Tersisa struktur rapuh, tak siap menahan tekanan berlapis.
Menaklukkan semesta negeri juga bermakna bersedia ditaklukkan oleh realitas. Pemimpin matang tidak memaksa keadaan menyesuaikan kehendaknya. Ia menyesuaikan laku dengan kebutuhan nyata. Tanda-tanda dibaca dengan cermat, dampak ditimbang dengan sabar, lalu langkah diambil penuh kehati-hatian tanpa kehilangan keberanian. Pesona, bila muncul, hadir sebagai akibat dari ketepatan ini.
Penabalan Daeng Litere menolak jalan pintas. Legitimasi tidak cukup dibangun melalui citra. Citra boleh mengantar perhatian publik, tetapi tidak menopang keberlanjutan. Daya tahan kepemimpinan bertumpu pada konsistensi antara kata dan perbuatan, antara janji dan kebijakan nan dijalankan.
Dalam konteks negeri, semesta mencakup hal-hal tampak maupun tersembunyi. Urita berdampingan dengan cerita, kebijakan bersinggungan buat kebajikan perasaan warga. Pemimpin yang belum menaklukkan diri kerap memilih sasaran mudah diukur, lalu mengabaikan ranah sulit dirasakan. Padahal, wilayah terakhir sering menentukan kepercayaan jangka panjang.
Pesona sehat tidak berteriak. Ia bekerja dalam diam dan tumbuh dari ketepatan sikap. Pengakuan diterima sebagai konsekuensi, bukan tujuan. Pesona semacam ini tidak perlu ditebar ke mana-mana. Ia hadir ketika diperlukan, lalu surut memberi ruang bagi kerja kolektif.
Ungkapan Daeng Litere juga mengandung ajakan untuk sabar. Kepemimpinan bukan lomba cepat. Ia menyerupai perjalanan panjang nan menuntut stamina batin. Menunda pesona demi memperdalam persona bukan tanda kelemahan. Dari penundaan itulah daya tahan dibangun secara perlahan.
Ada ironi patut dihindari. Negeri ditata dengan kata-kata indah, tetapi ditinggalkan bersama tumpukan masalah. Perkataan Daeng Litere menghadirkan pencegahan. Kuatkan diri sebelum menggerakkan orang lain. Pahami medan sebelum memimpin langkah.
Menaklukkan semesta negeri tidak pernah selesai. Ia proses berkelanjutan, menuntut pembelajaran terus-menerus. Karena itu, kepemimpinan sehat selalu menyisakan ruang koreksi. Pesona sejati tidak kebal kritik. Ia justru mengundangnya sebagai bagian dari perawatan bersama.
Walhasil, tutur Daeng Litere hadir untuk memulihkan martabat kepemimpinan sebagai amanah, bukan atraksi. Pesona ditempatkan pada posisi semestinya sebagai hasil, bukan tujuan. Terutama persona yang teruji oleh laku, kesanggupan menahan diri, serta keberanian menghadapi kenyataan apa adanya.
Pasalnya, negeri tidak membutuhkan pesona berkilau sesaat. Ia memerlukan kepemimpinan mampu tinggal, menata, dan merawat semestanya dengan sabar. Semua itu bermula dari satu penaklukan paling sulit, menaklukkan diri sebelum menaklukkan apa pun di luar diri.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply