Air akan sampai ke tujuan dengan sasaran yang tepat. Aliran ke sawah, ke pemukiman, hingga ke tempat ibadah.
Mengalir membasuh kerongkongan, kening serta bertahan hidup di tengah alam yang menyeruak makna-makna dan isyarat. Dia mengalir dengan khidmat serta nikmat, sesuai sasaran. Muaranya bagi kehidupan anak manusia.
Dia mengajak menyatukan tanpa memilih, suku, agama dan budaya, sebagaimana Sang Umbu menanamkan nilai-nilai ketika mencetuskan secara kearifan bernama “Assiama” saat beliau menjabat sebagai Kapolres Bantaeng.
”Melangkah bersama, menepis badai, membelah tantangan” dan “asigappa nakisikamaseang (bertaut dan saling peduli/empati). Begitulah Umbu menahkodai kepemimpinannya.
Tanpa saya duga dalam percakapan kami via WhatsApp berlanjut, hingga menjadi narasi saat ini. Tentang sebuah Konsekuensi dalam pilihan hidup, seperti kata toleransi, dan reaksi. Harus menjadi pipa yang kuat untuk mengarahkan aliran air. Filosofi ini dia sematkan pada sanubarinya yang bermakna ketenangan serta keteguhan. Saat melihat langsung kondisi bencana akibat banjir bandang, ungkapnya.
Porak poranda, hancur lebur karena sebuah suguhan semesta kepada manusia. Akibat penyangganya telah punah dan tidak lagi dipedulikan.
Sang Umbu menamkan budi, meski kini jabatan baru di pundaknya melekat, predikat yang kuat, tetapi dia tetap menjadi pribadi yang bersyariat terlebih dulu, lalu menunjukkan kearifan jiwa, pikiran dalam kemakrifatan.
Saya mencoba beberapa paragraf tentang sisi Filosofi Sang Umbu dengan Immanuel Kant (1724-1804). Seorang filsuf Jerman yang memiliki kontribusi besar dalam filosofi kemanusiaan tentang martabat Manusia, Kant percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat, yang berarti bahwa mereka memiliki nilai dan hak yang sama, tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, atau status sosial.
Sosok Umbu mengembangkan konsep ini selama kami mengenalnya dalam seuntai waktu, sejenak, namun jauh melampaui zaman dan sejarah kami yang terbangun dengan “nilai” bukan karena kepentingan, tapi ada hajatan kemaslahatan untuk manusia.
Umbu meletakkan dasar kemanusiaan sama seperti Immanuel Kant, bahwa “hak asasi manusia” yang menyatakan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup, kebebasan, dan keamanan. Umbu benar-benar mengayomi, melindungi bukan hanya slogan. Diterjemahkan dalam aksi bernama “assiama’” saat bertugas sebagai Kapolres di tanah bertuah bernama Bantaeng.
Mengalir, saling menyejukkan dan secara imperatif, yang menyatakan setiap manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain.
Setiap hari saya, sembari membenamkan di tepi malam percakapan kami. Dia menyaksikan, melihat betapa susahnya kita ketika sudah menjadi korban aliran air yang tidak kuat penyangganya. Setiap hari kami berjalan mencari titik untuk pemasangan sumur bor.
Tepat pukul 12 01.09 Jacky Umbu Kaledi menentramkan jiwanya, menepis badai, tanpa harus mengeluh, tetapi turun langsung menyeka kesenjangan sosial yang terjadi. Agar bagaimana kesedihan bukan hanya untuk ditonton dan jadi ajang konten, masyarakat (korban ) butuhe seteguk, butuh “pa’rikongang (peduli secara nyata).
Cerita bersambut, melengkapi suasana kebatinan kami. Yah. Enam hari ini sudah terpasang 75 sumur bor. Disaat kami mencari lokasi titik mata air itu. Di sanalah suasana hati, jiwa pikiran sang Umbu terhentak, menyaksikan langsung situasi bagai kiamat, semua tersisa puing dan ritus kemanusiaan serta situasi yang porak poranda.
Umbu tetap tegar, melewati kisah pilu di negerinya, menjajaki setiap tapak sejarah, peradaban di tanah airnya sendiri, dia merasakan ada hal yang harus dibenahi. Alam ini punya siklusnya sendiri, manusia hanya bagian kecil dari siklus alam.
Akan Tetapi kadang manusia merasa lebih besar dari alam. Saya terenyuh dalam uraian ini. Mengajak kita untuk bukan sekadar merenungi, tetapi menggugat kita, tidak hanya berpangku tangan serta segudang teori dan sejuta kata, bukan hanya didiskusi semata. Akan tetapi, situasi saat ini perlu eksekusi, dijewantahkan. Bukan semata prodi pengetahuan dengan segudang teori duduk manis, atau sekadar konten yang menghibur kita hanya sesaat, lalu kita menyaksikan matinya kemanusiaan.
Bukan sekadar filosofi, tidak juga hanya pandai mengutip para filosof Imanuel Kant, atau tokoh kemanusiaan lainnya, tetapi bagaimana mengambil bagian, peran pada situasi saat ini, tatkala rentetan kejadian alam menimpah negeri kita serta saudara-saudara kita Sumatera dan Aceh.
Tidak lagi pembeda diantara agama, budaya, suku, jabatan, serta pangkat tertinggi dan tidak menjagai gengsi, tetapi sensitivitas naluri manusia menjadi penyatu.
Mereka masih punya kita, dia dan saudara sebagai satu anak ibu Pertiwi di bawah katulistiwa, nusantara yang terikat pada kemanusiaan yang adil, serta keadilan sosial. Tanpa melupakan ketuhanan yang kita jadikan satu tujuan untuk saling menopang, melengkapi, menyatu bersumpah dara satu “assiama” menjadi sanak saudara, satu tujuan bernama kemanusiaan.
Sang Umbu hadir, melingkupi semesta jiwanya, seraya melengkapi tidak hanya menggugurkan kewajiban saja. Dia melebur, meski tidak harus berlarut dalam kesenjangan, kesedihan.
Umbu menjawab dengan pusaka dirinya, sebagai ketuntasan dirinya, bahwa setiap helai rasa ada tersemat nilai-nilai yang merasakan bagaimana dia di tempat, dan menempuh perjalanan sejarah, zaman, serta perjuangannya dia hadapi, lalu disempurnakan dengan integritas, konsekuensi. Menggali diri, menyelesaikan sengketa dalam dirinya lebih dahulu, lalu menjadi “pa’laklangngang” tempat bernaung, berteduh di setiap helai kehidupan, kemanusiaan.
Setiap detik, harus dipetik rangkaian perjalanan kehidupan. Larut, tidak harus lebur, tetapi saat badai, masalah itu hadir maka hadapi jangan kabur. Atau buatlah peraduan sejarah tanpa harus memaksakan tercatat. Sebab setiap inagurasi ada situasi, kondisi dan reaksi menjadi saksi bukan sekadar sensasi.
Sepecah gemawan di akhir Desember. Selarik percakapan menghantar saya ke titimasa, saat percakapan, awal kita berinteraksi, mengajak saya bertamasya ke suatu persimpangan dengan nalar saya masih perlu diasah. Sang Umbu hadir mengangkat derajat, martabat saya. Ini bukan pujian, apatahlagi mau dibilang mau puji-pujiang (mencari perhatian). Tetapi ada hierarki dan ikrar tanpa kami harus saling mengklarifikasi.
Di ujung malam akhir menuju Desember menenun setahun perjalanan. Sang Umbu memantikku, yang selama ini bersembunyi di balik rekayasa budaya kesesuaian diri, ketajaman nalar, hingga pada tipuan manusia yang semakin hadir membuatku trauma dan paranoid.
Tetaplah seperti Dion yang bertumpuh pada kaki sendiri, memijak air mata sendiri, tanpa harus butuh pengakuan. Sebab sejarah telah mencatatmu, bukan hanya karena saya, dia, dan mereka. Tapi satu kesatuan dalam bingkai perjalanan setiap manusia punya jalan dan caranya sendiri. Wow. Saya terdiam khidmat.
Sang Umbu menanamkan, menitipkan sesuatu, merawat telaga secara luhur, melewati fase ketakutan, mengelolah kegagalan, mengambil keputusan dan punya sikap, dalam setiap moment kehidupan, sosial, budaya, politik serta kemanusiaan. Sebab kesempatan hanya datang satu kali. Dan bersiaplah untuk menanggung setiap konsekuensi karayamu dan sejarahmu.
AKBP Edwar Jacky Tofani Umbu Kaledi. SH., S.I.K., M.M. Melengkapi struktur nama yang mengabadi. Saya menyapanya Komandan, atau dengan nama Umbu, saya taruh pada setiap esai.
Sang Umbu, setiap langkah, kebijakan serta adapatasinya, ecara presisi, intuisi, serta menggunakan diksi penuh nutrisi, hingga sampai setiap jenjang karirnya sarat dipenuhi prestasi, bukan prestise apatahlagi klise.
Lencana itu hadir tersemat tepat di awal Januari 2026. atas prestasi gemilang yang telah diraih. Dedikasi, kerja keras, dan integritas dalam menjalankan tugas sebagai abdi utama nusa bangsa.
Sang Umbu, dalam doa dan nama AKBP Edwar Jacky Tofani Umbu Kaledi. SH. S.I.K. M.M. Melengkapi struktur nama yang mengabadi. Kini telah dipinang semesta, terjaga dalam setiap langkah nan tegap, melewati rimba raya peristiwa, menorehkan sejarah.
Selamat atas tugas, amanah barunya tepat persemaian indah Januari 2026 per hari ini dengan setingkat lebih tinggi sebagai Kombes. Ada haru, bangga, saat, terdengar kabarmu dari orang-orang mencintai, pernah berada meletakkan diantara peristiwa sejarah di Bumi tanah bertuah Bantaeng. Teruslah menjadi teladan dan inspirasi bagi generasi penerus Polri.
Pada jiwa, perangai, ada ketaatan, kecerdasan, pengetahuan, sains, filosofi hidup, menjadi kekuatan melengkapi dengan spiritualis. Di sana mengalir darah serta trah sang Umbu.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply