Category: Esai

  • Semau-maumu

    Semau-maumu

    Dia ibarat dan berlagak eksistensialisme secara liar: bertindak menentukan arti hidup semau-mau. Benar. Manusia memang bebas memilih. Tapi yang liar lupa satu hal: kebebasan tanpa tanggung jawab sama dengan kehancuran. Seorang Sartre bilang, “Kita terkutuk untuk bebas.” Kutukannya bukan di bebasnya. Kutukannya di konsekuensinya. Saat semau-mauku. Ketika rasa dan reaksi penuh pujian yang kubiarkan membinalkanku.…

  • Ihwal Berjayanya Iran

    Ihwal Berjayanya Iran

    Di tengah jeda perang, Iran menghelat pemakaman akbar Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei. Banyak yang menyatakan bahwa kegiatan kenegaraan yang dihadiri puluhan juta orang itu adalah bukti ketangguhan Iran. Adalah satu kenyataan sulit disangkal yakni Iran tidak runtuh sebagaimana diperkirakan banyak pengamat. Serangan militer bertubi-tubi, sanksi ekonomi yang telah berlangsung puluhan tahun, hingga tekanan diplomatik…

  • Seni Menjaga Nyala Lilin di Tengah Badai

    Seni Menjaga Nyala Lilin di Tengah Badai

    Setiap sore, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, sebelum deru sumpritan beradu dengan deru napas, saya selalu mengafirmasi diri dengan sebuah keyakinan sederhana dan kecil: hari ini harus ada satu lagi anak daerah yang melangkah lebih dekat menuju impiannya. Bagi saya, membina putra-putri daerah dalam sebuah kegiatan positif bukan sekadar profesi belaka. Ini adalah…

  • Klise

    Klise

    Budaya manggut semakin akut. Kuredakan suara seperti perkutut, tetiba kudikutuk. Saat menggeleng, kita dikira pembangkang, sombong, serta pembantah. Ketika mengalah, diserbu seribu adu dan melempar kita seperti dadu, dituduh kita bagai bajingan. Kutadah air hujan saat berkenaan matahari terang mencabik, mengubah kulitku menjadi legam. Tanpa arah angin yang pasti, berkutat di satu titik, masih saja…

  • Jejak Nirnama

    Jejak Nirnama

    “Ketika diri bukan siapa-siapa, maka kerjakanlah apa-apa.” (Tajali Daeng Litere, 30032025) Pendakuan Daeng Litere itu, bak embus angin melintas tanpa gaduh, amat sepoi nan lirih. Bahkan sepintas hanya permainan bunyi antara siapa-siapa dan apa-apa. Namun, di balik simpelnya tersimpan simpai renungan, menggeser cara manusia memandang keberadaan dirinya. Ia tidak bertanya perkara seberapa tinggi kedudukan seseorang,…

  • Lelaki Itu Memilih Jalan yang Sunyi

    Lelaki Itu Memilih Jalan yang Sunyi

    Pagi di Bantaeng selalu datang tanpa banyak suara. Matahari pelan-pelan muncul dari balik perbukitan, menyentuh daun-daun yang masih menyimpan embun. Di kejauhan, petani telah lebih dulu berjalan menuju kebun. Di sudut lain kampung, warung kopi mulai dipenuhi orang-orang yang percaya bahwa segala urusan negeri bisa dibicarakan di atas secangkir kopi yang mulai kehilangan panasnya. Lelaki…

  • Cermin

    Cermin

    Guru paling jujur. Dia tidak pernah bohong, tapi juga tidak pernah menjelaskan secara teori dan percakapan. Dia hanya menunjukkan, bukan menghakimi. Kadang juga manusia suka lari dari cermin saat lagi jelek, kusut, menangis, dan saat wajah kita telah menandai tidak muda lagi, dan lain sebagainya. Cermin membalik, bukan meniru. Apa yang di kanan, kelihatan di…

  • Panoptikon Digital: Ketika Kebebasan Bermetamorfosis Menjadi Penjara Pengawasan

    Panoptikon Digital: Ketika Kebebasan Bermetamorfosis Menjadi Penjara Pengawasan

    Perkembangan teknologi digital pada awalnya dipromosikan sebagai jalan menuju demokratisasi informasi, kebebasan berekspresi, dan perluasan ruang partisipasi publik. Media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, X, dan berbagai platform digital lainnya menghadirkan ruang yang memungkinkan setiap individu menjadi produsen informasi sekaligus konsumen informasi. Namun, di balik narasi kebebasan tersebut, tersimpan sebuah paradoks besar: semakin bebas manusia…

  • Sebuah Fenomena yang Orang Menyebutnya “Mabuk Agama”

    Sebuah Fenomena yang Orang Menyebutnya “Mabuk Agama”

    Cakrawala yang begitu luas, bukan suatu yang esoterik, bukan rahasia terpendam. Kekhasan ray of light ilmu atas kehidupan sebagai kans siapa pun yang mengharap realitas. Suatu karakteristik hakikat keilmuan yang meruntuhkan fanatisme buta dan sempit, namun berlaku hanya bagi yang merangkulnya secara sungguh-sungguh dengan hati yang tulus. Ilmu agama memiliki peran sedemikian fundamental, penerang suram…

  • Sipakainga’

    Sipakainga’

    Kisi-kisi hidup kita memasuki usia setengah abad telah tertanda. Babad kita lalui bersama. Sementara dinamika seiring mengikuti setiap peran kita, meninggalkan jejak lima puluh tahun. Masih butuh eling dan, paling penting, saling memahami. Tidak harus saling merasa paling “penting”. Anniversary hanya pelengkap dan “belo-belo pa’rappungang”. Tidak menjadi prioritas, rutinitas, tidak mesti sekadar dihampar tikar duduk…