Category: Esai
-

Ketika Semua Merasa Pakar
Termasuk kadang aku merasa, padahal sekadar numpang, hanya terdampar, di tengah suasana yang lagi tren akhir-akhir ini. Akademisi dan para pakar lagi bicara membawa perubahan. Sementara, baru memulai serasa terbang bersama uraian, pengakuan, merasa sudah bisa, lalu aku tenteng ke mana-mana. Lupa bahwa aku masih terlalu pagi. Serta kemarin sore yang baru mendapat ruang. Lalu…
-

Yang Kita Lupakan dari Peristiwa G30S
Setiap akhir September, kita kembali ke peristiwa1965. Kita mengingat para jenderal yang dibunuh, Lubang Buaya, Gerakan 30 September, dan narasi tentang pengkhianatan. Kita mengingatnya sebagai sebuah tragedi nasional yang seolah-olah sudah memiliki jawaban final dan tunggal, mengenai siapa pelakunya, dalangnya, atau siapa yang harus disalahkan. Problemnya ada sesuatu yang malah kita lupakan, bahwa sejarah tidak…
-

Merawat Kualitas Bacaan
Kita selalu mengkhawatirkan jumlah buku bacaan masyarakat Indonesia yang tergolong rendah. Atau deretan angka yang menunjukkan betapa tidak beruntungnya kita di tingkat literasi dunia, khususnya dalam segi membaca. Ketika negara-negara yang memiliki peradaban maju mampu melahap puluhan bahkan ratusan buku per tahun, kita hanya mampu mengeja beberapa saja, itu pun kalau sempat habis dibaca. Betul…
-

Kita ini Manusia atau Hasil Kurasi Algoritma? Coba Tanya Foucault
Setiap akhir tahun, Spotify dengan santainya memberi tahu saya bahwa lagu yang paling sering saya putar bergenre “sedih-akustik-patah-hati”. Padahal saya merasa baik-baik saja. Tapi Spotify lebih percaya diri. Ia punya data, dan saya cuma punya perasaan. Dari situ muncul pertanyaan yang agak serius: identitas kita ditentukan oleh diri sendiri, atau oleh representasi digital kita? Untuk…
-

Andien dan Alonica
Malam itu sepertinya menemukan sebuah “hikma menghantar”, menuntun membasuhkan cahaya kasih. Tanpa harus memaksakan keinginannya. Kedua sosok itu menguatkan untuk Andien agar saat menempuh dan ditempa pada prosesnya. Tidaklah semudah apa yang orang menyaksikannya dan melihatnya sekarang. Tertempa dan belajar oleh kesenjangan, tertulis di garis waktu, dengan realitas, diretas. Tanpa mengabarkan kepada jagad. Sebagai afirmasi.…
-

Dwi Tunggal Masjid Ruhul Amin–Syekh Abdul Gani: Sayap Keberagamaan di Bissampole
Sebuah masjid tidak hanya menyimpan suara azan, lantunan ayat suci, dan jejak dahi yang bersujud. Di dalamnya tersimpan ingatan sebuah masyarakat tentang bagaimana agama dipahami, dihayati, dan dilakoni. Masjid dapat menjadi cermin keberagamaan suatu komunitas. Dari sana dapat dibaca bagaimana suatu masyarakat menempatkan ibadah dalam kehidupannya, bagaimana tradisi keagamaan dirawat, serta bagaimana hubungan antara agama…
-

ASSC: Melompat Setelah Terluka
Air kolam renang tidak pernah bohong. Ia menerima setiap tetes keringat, merekam setiap kepakan tangan, dan menjadi saksi bisu atas perjuangan seorang atlet. Namun, air yang jujur itu sempat terasa sangat keruh bagi para atlet Ayra’s Swimming Club (ASSC). Beberapa tahun terakhir, kami tidak hanya bertarung melawan waktu dan jarak di lintasan, melainkan harus bertahan…
-

Ma’arif Tumbel Gani: Oke Bingits, Semakin Berjaya
Sekaum murid madrasah tsanawiyah di semenjana teriknya baskara, bersuka cita, riang gembira. Ada yang berkelompok ngerumpi, sesekali berkejar-kejaran. Tampak pula sedang jajan ala anak sekolahan, ice cream, bakso tusuk, gorengan, dan peganan lainnya, murah meriah. Mereka tiada peduli dengan apa yang mereka makan dan minum itu mengandung pengenak, penyedap, pengawet, dan pewarna. Terpenting, rasa haus…
-

Ranca dan Ruang Baca-baca
Di tengah gerah, ketika timeline-timeline media sosial dipenuhi jargon, caption, dan branding yang penuh ekspektasi dibalut sekadar sensasi. Tetiba kuterbawa ke sebuah ruang. Di sudut kota Bantaeng ada telaga, tempat bertamasya pikiran, makna, dan rasa. “Warkop Dg Rannu” disematkan nama sebuah kearifan cinta seorang Ranca. Seduhan kopi, percakapan hangat, tidak ada lengan baju dilipat. Tanpa…
-

Kerajaan Bintoeng: Negeri yang Rakyatnya Disuruh Sabar
Konon, di sebuah negeri yang tanahnya subur dan lautnya luas, berdirilah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Bintoeng. Kerajaan itu terkenal bukan karena rakyatnya paling makmur. Bukan pula karena jalannya paling mulus. Bukan karena airnya paling lancar. Apalagi karena listriknya paling terang. Kerajaan Bintoeng terkenal karena satu hal: rakyatnya sangat pandai bersabar. Saking pandainya bersabar, para pejabat…
