Bulan-Bulan Haram

Di saat banyak orang lebih cepat menghakimi ketimbang memahami, di saat itulah kita perlu berhenti sejenak menenangkan hati, sebab sikap memahami perkara tidak mudah dilakukan banyak orang. Laku memahami bersumber dari pekerjaan hati yang melahirkan empati.

Sejatinya, kekuatan itu terletak pada sejauh mana seseorang menunjukkan rasa empati terhadap kemanusiaan. Mengabaikan laku empati sama halnya dengan kita lupa bahwa manusia itu saling menjaga, bukan saling menghakimi.

Kecakapan memahami peristiwa kemanusiaan mesti diraih dengan usaha sungguh-sungguh. Melatih diri dengan mengasah hati merupakan bagian dari usaha menajamkan sikap memahami. Momentum mengasah hati akan kita temukan beberapa bulan lagi, yaitu pada bulan Ramadan.

Sebagian orang meyakini bahwa memasuki bulan suci Ramadan mesti memiliki kesiapan batin terlebih dahulu. Dua bulan sebelum Ramadan, yakni bulan Rajab dan Sya’ban, adalah bulan persiapan menyambut Ramadan. Sebagaimana hadis Nabi saw., “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.”

Dua bulan sebelum Ramadan itu menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amalan dan ibadah, seperti doa, zikir, dan memperbanyak tobat. Beberapa literatur menabalkan keutamaan-keutamaan dua bulan sebelum Ramadan.

Rasulullah saw. menyebutkan bulan Rajab sebagai bulan Allah, pasalnya rahmat Allah Swt. tercurah melimpah kepada umat-Nya selama bulan itu. Bulan Rajab disebut pula al-Ashamm, merujuk pada fakta bahwa pada bulan itu tidak terdengar murka Allah Swt. terhadap umat mana pun.

Keutamaan Rajab tidak terbatas hanya pada ibadah tertentu, seperti puasa. Lebih dari itu, Rajab adalah momentum istimewa untuk memperbanyak amal saleh dan ketaatan kepada Allah Swt. Bentuk nyata seyogianya, pada bulan Rajab, kita menunjukkan kasih sayang kepada sesama. Dengan begitu, kita berharap Allah mendatangkan rahmat-Nya dan melindungi dari siksa-Nya.

Adapun bentuk kasih sayang terhadap sesama dapat kita wujudkan melalui sikap kedermawanan. Bukankah Allah menjanjikan akan membalas limpahan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang dermawan? Segala perbuatan baik kepada sesama pada bulan ini akan Allah balas dengan kebaikan tanpa batas.

Tak hanya perbuatan baik yang dianjurkan pada bulan Rajab. Istimewanya, siapa pun yang memohon doa kepada-Nya tidak akan ditolak oleh Allah Swt. “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Doa-doa yang dianjurkan sebagaimana dikutip dari beberapa sumber: “Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikan kami ke bulan Ramadan. Tolonglah kami untuk shiyam dan qiyam, serta menjaga lisan dan menundukkan pandangan. Jangan Engkau jadikan bagian kami darinya hanya rasa lapar dan haus.”

Sebulan memasuki pintu Ramadan, tibalah bulan pengampunan dosa, yakni bulan Sya’ban, setelah bulan Rajab berakhir. Konon, pada bulan Sya’ban segala amal perbuatan baik diangkat, sehingga dianjurkan melaksanakan ibadah puasa sunah. Pada malam Nisfu Sya’ban, Allah menjanjikan pengampunan dosa manusia bagi mereka yang tidak musyrik atau bermusuhan.

Satu riwayat hadis menceritakan dialog Nabi bersama sahabat: “Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Nabi menjawab, “Banyak manusia yang lalai pada bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah Swt., dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan berpuasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud tak lain adalah penyerahan seluruh amal secara total, tak terkecuali ibadah mahdhah dan muamalah. Penyerahan amal ini berlangsung siang maupun malam, kecuali amal salat yang diserahkan kepada Allah tanpa mengenal waktu.

Istimewanya, pada bulan Sya’ban diturunkan ayat tentang anjuran selawat untuk Rasulullah saw., yaitu Surah al-Ahzab ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Ibnu Abi Syaibah al-Yamani mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan selawat karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran selawat diturunkan.

Malam-malam Sya’ban adalah malam penuh keutamaan, di mana pada malam itu Allah menurunkan rahmat-Nya berupa ampunan dan dikabulkannya doa-doa. Diyakini bahwa pada malam itu Allah menggariskan takdir setiap manusia untuk tahun mendatang. Maka, tak heran sebagian umat Muslim memanfaatkan malam Nisfu Sya’ban dengan ritual doa dan zikir.

Makna Nisfu Sya’ban memiliki kedalaman tersendiri. Jika kita meluangkan sedikit waktu, malam itu mengajak kita untuk kembali berintrospeksi dan memperbaiki diri. Salah satu makna terdalamnya ialah menengok kembali tujuan hidup manusia. Bukankah kita sering lalai bahwa seluruh tindakan dan tujuan hidup tidak lain merupakan bentuk penghambaan kepada Tuhan semata?

Di ujung bulan Sya’ban, tak ada bulan yang lebih istimewa selain Ramadan. Bulan yang mulia, penuh keberkahan dan ampunan Allah. Tentu umat Muslim menyambutnya dengan sukacita, sebab bulan yang dinanti-nanti telah tiba, bulan yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.

Bulan Ramadan tak hanya mewajibkan puasa penuh. Di baliknya, seluruh hari-harinya dipenuhi keberkahan. Tak ingin menyia-nyiakan bulan berkah, berbagai ritual ibadah diperbanyak pada bulan itu. Salat, zikir, bahkan umrah dianjurkan pada bulan Ramadan. Bulan yang dinanti oleh seluruh umat Muslim ini tidak hanya diisi dengan ritual ibadah, melainkan juga berbagai amalan sosial yang sangat dianjurkan.

Akumulasi keberkahan Ramadan berwujud spirit bagi mereka yang melaksanakan ibadah dan amalan pada bulan tersebut. Sebab, pada bulan Ramadan limpahan kebaikan spiritual dan duniawi menghiasi jagat raya, seperti pahala berlipat ganda, pengampunan dosa, dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, turunnya Al-Qur’an, serta momentum Lailatul Qadar. Kesemuanya berhimpun pada bulan Ramadan.

Menyiapkan diri sebelum memasuki Ramadan merupakan bentuk latihan jiwa agar kelak jiwa benar-benar siap menerima iradah Ilahi. Upaya yang dilakukan pada bulan-bulan haram, Rajab dan Sya’ban, tak lain adalah memantaskan diri untuk menerima pancaran rahmat Ilahi.

Definitifnya, bulan Rajab menjadi ruang melatih jiwa agar memiliki empati dan belas kasih terhadap ciptaan Tuhan, sedangkan bulan Sya’ban melatih diri guna memiliki keimanan yang kokoh kepada Tuhan atas segala kehendak-Nya.

Walhasil, ibadah saum pada bulan Ramadan tak hanya menghadirkan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, hidayah dan inayah Tuhan akan turun sesuai dengan kapasitas jiwa yang telah kita latih pada bulan-bulan haram sebelumnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *