Pengabdian nan Mengabadi

Amat penting untuk mengintimi perbedaan antara mengabdi kepada negeri dengan mengabdi kepada pengurus negeri. Satu mengabadi dalam pengabdian, sedangkan lainnya sementara dalam kesementaraan.”
(Tajali Daeng Litere, 17/12/2025)

Ungkapan Daeng Litere menuntun pembacaan ulang atas kesetiaan. Ia tidak menolak pengabdian; ia memurnikannya. Persoalan terletak pada arah serta maksud, bukan semata laku melayani. Arah keliru membuat pengabdian tergelincir, bobot etik tergerus tanpa terasa.

Negeri tidak hidup sebagai bangunan kuasa. Ia bernapas lewat nilai terawat, cita-cita terwaris, harapan tertitip lintas masa. Mengabdi kepada negeri berarti bekerja demi sesuatu melampaui nama diri, masa tugas, juga ingatan publik. Dari relasi semacam itu, pengabdian menemukan nadinya.

Pengurus negeri hadir dalam rentang terbatas. Mereka datang membawa mandat, lalu pergi setelah amanah ditunaikan. Jabatan berfungsi sebagai persinggahan, bukan tujuan. Pengabdian sepenuhnya diarahkan kepada pengurus membentuk ikatan dengan usia kekuasaan. Kuasa surut, makna ikut memudar.

Daeng Litere tidak mengecilkan peran pengurus negeri. Ia menempatkannya secara proporsional. Pengurus negeri bekerja sebagai sarana; negeri tetap tujuan. Pemuliaan berlebihan terhadap sarana membuat arah pengabdian kabur. Kekaburan orientasi memicu kekeliruan moral.

Semisal, kesetiaan personal kerap disamakan dengan pengabdian publik. Kritik dibaca sebagai ancaman, kepatuhan diperlakukan kebajikan tunggal. Pengabdian kehilangan daya jaga, berubah menjadi kepatuhan tanpa nalar. Ia berbeka kuasa, lupa nilai.

Ungkapan Daeng Litere menyiratkan tuntutan jarak sehat. Mengabdi kepada negeri menuntut keberanian merawat nilai, sekalipun berhadapan dengan pengurusnya. Ada masa berkata cukup, dan muncul saat bertahan dalam sunyi. Pengabdian semacam ini jarang nyaman, tetapi menjaga martabat bersama.

Keabadian hadir melalui pengabdian kepada negeri, sebab nilai terjaga tidak lekang oleh waktu. Keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, martabat hidup bersama melampaui satu rezim. Nilai-nilai tersebut hidup sebelum dan sesudah siapa pun. Mengabdi kepadanya berarti menautkan diri demi sesuatu nyana bertahan.

Pengabdian kepada pengurus negeri mudah tergoda pragmatisme. Kedekatan, posisi, rasa aman bergerak menjadi tujuan tersembunyi. Kekuasaan berganti, kesetiaan pun berpindah. Tersisa jejak samar oportunisme, tanpa warisan moral layak dikenang.

Ruang publik menjadikan pelajaran etis ini penentu. Profesionalisme tidak diukur dari figur terlayani, melainkan prinsip terjaga. Tatkala prinsip dikorbankan demi menyenangkan pengurus negeri, pengabdian telah merawi makna awalnya.

Mengabdi kepada negeri sering berlangsung sunyi. Ia hadir melalui kerja rapi, kebijakan adil, penolakan halus atas penyimpangan. Pujian mungkin tak segera datang, tetapi kepercayaan tumbuh perlahan dan tahan lama.

Mengabdi kepada pengurus negeri tampak berkilau. Kedekatan dengan pusat kuasa mudah dikenali, cepat disorot. Kilau semacam ini cepat pudar. Pergantian pengurus negeri menghapus cahayanya, menyisakan kehampaan makna.

Ajakan Daeng Litere untuk mengintimi perbedaan bukan retorika. Sebentuk tuntutan kedewasaan moral: memahami konsekuensi, menerima risiko, memilih dengan sadar. Dalam hidup sehari-hari, mengabdi kepada nilai, selalu lebih berat daripada mengabdi kepada figur. Nilai menuntut konsistensi; figur menawarkan kenyamanan sesaat.

Pucuknya, pengabdian berkaitan dengan arah waktu. Ia ditautkan untuk nilai menemukan keabadiannya, meski pelakunya terlupa. Ia digantungkan demi kuasa nan larut bersama pergantian, walau sempat dipuja. Mengabdi kepada negeri, bermakna menanamkan diri, buat makna yang lebih besar daripada kepentingan sekejap. Tampak sunyi, tetapi niscaya.


Comments

2 responses to “Pengabdian nan Mengabadi”

  1. Integritas dan karakter dalam pengabdian… Ini adalah tulisan yang sangat seirama dengan jaman sekarang. Sehat selalu kakanda

  2. Muhammad Basri Avatar
    Muhammad Basri

    Mantap, penuh gizi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *