Category: Esai

  • Mencintai dalam Diam di Ujung KKN

    Mencintai dalam Diam di Ujung KKN

    Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan langit senja yang tenang, sekelompok mahasiswa menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Mereka tinggal dalam satu posko sederhana—rumah batu dengan dinding yang mulai pudar warnanya—namun penuh dengan tawa, diskusi, dan cerita-cerita larut malam. Di sanalah kisah ini tumbuh: kisah tentang seorang laki-laki yang diam-diam jatuh cinta…

  • Mahkota Kiai, Jubah, dan Sorban

    Mahkota Kiai, Jubah, dan Sorban

    Betapa lugu dan gobloknya saya masa itu, mudah dibohongi, saat mendengar kisah kiai, orang pakai jubah dan sorban itu begitu keramat dan katanya sakti mandraguna. Memaksakan diri menerobos, berebutan cium tangan, minta berkah, berburu baca-baca sakti ilmu kanuragan. Pada akhirnya semua bagai memori keculungan, dan kebodohan saya yang sengaja dibodoh-bodohi, disuguhi doktrin. Dipaksanya saya disuapi…

  • Dengung Keberlimpahan

    Dengung Keberlimpahan

    “Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025) Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia. Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup…

  • Mengapa Kita Berpuasa?

    Mengapa Kita Berpuasa?

    Setiap tahun, umat Islam memasuki bulan Ramadan dengan satu ritual utama: puasa. Secara lahiriah, puasa tampak sederhana, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Kendati demikian, penting kiranya bagi kita untuk mempertanyakan kembali, mengapa kita berpuasa? Apakah sekadar kewajiban ritual, atau ada dimensi yang lebih dalam…

  • Tarak Raga

    Tarak Raga

    “Wahai pemuja raga, cukuplah puasa sebagai interupsi, agar terbebas dari terungkunya.” (Tajali Daeng Litere, 26032025) Ujar itu terdengar mirip teguran lirih, tetapi mengandung kedalaman yang pelan mengendap. Ia tidak menyerang tubuh, tiada pula menafikan kebutuhan jasmani. Ia justru mengajak jeda—sebuah interupsi dalam arus pemujaan raga, nyaris tanpa sela. Maksudnya, puasa ditempatkan bukan semata sebagai ritual,…

  • Mencicipi Hidangan Ilahi

    Mencicipi Hidangan Ilahi

    “Telah datang bulan puasa,  panji Sang Sultan pun tiba. Tanggalkan tangan dari makanan, hidangan jiwa telah datang.” (Ghasal 892) Hari di mana kita akan mencicipi hidangan Tuhan telah tiba. Hari di mana Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluknya. Puasa di Bulan Ramadan tak sekadar ritual belaka, atau hanya menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah…

  • Dekolonisasi Ilmu Sosial Bukan Sekadar Omon-Omon

    Dekolonisasi Ilmu Sosial Bukan Sekadar Omon-Omon

    Kita orang-orang Timur kerap terpana—untuk tidak mengatakan inferior—jika bertemu orang-orang Barat. Di masa lalu, anak-anak seperti sedang melihat alien apabila bertemu manusia berkulit putih, bermata biru, dan rambut berwarna emas. Di emperan pertokoan, atau di pinggir jalan, atau di atas angkutan umum, atau di terminal pasar lokal, anak-anak merasa takjub dan heran, dan mengundang rasa…

  • Isilah Titik-Titik!

    Isilah Titik-Titik!

    Sepele, kadang menganggapnya biasa saja, lagian apa yang harus saya isi dalam titik-titik itu sementara soal telah bocor di mana-mana, kejujuran terpenggal, dari topeng sosial dan kesialan yang sama-sama beriringan?‎‎ Menganggapnya mudah dan menggampangkan.  Dengan enteng, saya petenteng saja menyusuri lekuk dan riak keseruan kehidupan, yang semakin tampak anggun serta songongnya, ada yang secara cadas, ada…

  • Warga, Kampus, dan Bayang-Bayang Kekerasan Epistemik

    Warga, Kampus, dan Bayang-Bayang Kekerasan Epistemik

    Saya sangat menyesal, hari itu saya tiba terlambat di lokasi kongkowkolektif#1 yang dibikin oleh Gengdekol dan Paradigma Institute. Perhelatan diskusi yang sebetulnya jauh-jauh hari sudah saya rencanakan untuk hadir. Sayang rencana itu tak sampai. Dalam perkiraan saya, jarak dari Topejawa, Takalar, seusai menghadiri pernikahan seorang kawan, ke Pabbentengan, Alauddin, tidak akan memakan waktu sangat lama.…

  • Di Ujung Pengabdian, Kebersamaan Menjadi Rumah

    Di Ujung Pengabdian, Kebersamaan Menjadi Rumah

    Sore itu, langit tampak mendung. Angin bertiup kencang, daun-daun berguguran. Langkah kaki pemuda desa menapaki jalan di samping kantor Desa Bonto Jai yang sibuk mempersiapkan segala kelengkapan dan pernak-pernik malam ramah tamah, mulai dari panggung hingga penampilan untuk memeriahkan malam puncak perpisahan. Tari Gangrang Bulo membuka suasana malam ramah tamah, disertai teriakan antusias para ibu…