Category: Esai

  • Mengeja Literasi Karbala

    Mengeja Literasi Karbala

    Tidak semua darah berakhir menjadi noda. Ada darah yang berubah mewujud aksara. Sehingga, “airmata dari berbagai penjuru, taklah lelah mengalir, mencari darah selaku kembarannya.” Berabad-abad lampau, di sebuah padang gersang, darah itu mengalir dari tubuh-tubuh yang kehausan. Ia meresap ke tanah Karbala, lalu hilang dari pandangan mata. Namun, sejarah nyana bekerja dengan cara ganjil. Apa yang…

  • Sahabat Rohani

    Sahabat Rohani

    Tanpa sengaja saya terlibat percakapan pada hari Sabtu pagi, bulan Juni 2026. Tepatnya di sebuah barbershop di Kota Makassar. Tak disangka, sang juru cukur memiliki pengetahuan dan pengalaman spiritual. Ceritanya, barbershop tempat saya langganan sejak masa SMP tutup permanen. Kata tetangga mukimnya, beliau pulang ke kampung halaman di Surabaya usai Lebaran lalu. Sebagai alternatif, saya…

  • Mengeja-Nya dalam “Kesadaran”

    Mengeja-Nya dalam “Kesadaran”

    Tidak harus ke mana-mana, tidak di sana, di sini, dan di situ. Atau bahkan dianggap tempat suci, atau sakral sekalian, sembari “begadang” menanti seperdua malam. Sunyi! Merafal serta menghafal! Paling tidak, sederhananya memahami setiap peristiwa, dalam istilah kendali firman dan kehendak-Nya, adalah sarana untuk mengenal karakter-Nya, mendengarkan suara-Nya, serta menempah segala bentuk ngigaunya manusia, menguatkan…

  • Dari Mimbar Perlawanan ke Lingkaran Kekuasaan

    Dari Mimbar Perlawanan ke Lingkaran Kekuasaan

    Dulu Budiman Sudjatmiko adalah kabar buruk bagi penguasa. Namanya disebut dengan nada waspada di kantor-kantor pemerintah. Ia hadir seperti bunyi kentongan tengah malam, mengganggu tidur mereka yang sedang nyaman menikmati kekuasaan. Kini zaman berubah. Kentongan itu rupanya sudah masuk ke rumah kepala desa. Sejarah memang punya selera humor yang aneh. Orang yang dahulu ditangkap karena…

  • Lurunmya Aksara di Ruang Putih, Refleksi Batin Seorang Ayah

    Lurunmya Aksara di Ruang Putih, Refleksi Batin Seorang Ayah

    Sebagai seorang Bapak yang masih belajar merangkai kata demi kata untuk menggambarkan emosi manusia adalah sebuah keseharian. Saya terbiasa menyusun kalimat untuk melukiskan kebahagiaan, kesedihan, kehilangan, hingga harapan yang membumbung tinggi di angkasa. Namun, semua perbendaharaan kata yang saya miliki seolah menguap tak bersisa ketika semesta menguji saya pada satu titik terlemah. Menjadi seorang ayah…

  • Buku dan Gerakan: Refleksi 33 Tahun Paradigma Ilmu

    Buku dan Gerakan: Refleksi 33 Tahun Paradigma Ilmu

    Pangkal lorong yang tidak jauh dari kampus STIP Al-Ghazali, kini Universitas Islam Makassar (UIM), pernah menjadi sahabat pertama sebuah toko buku yang kini telah memasuki usia sangat matang: 33 tahun. Selama lebih dari tiga dekade itu, ia dikenal dengan nama Paradigma Ilmu. Baru pada momentum ulang tahunnya yang ke-33, nama itu bertransformasi menjadi Paradigma 1993,…

  • Menjadi Jelata

    Menjadi Jelata

    “Kiwari, era serba citra meta, lebih mudah jadi raja, tinimbang jadi rakyat jelata.” (Tajali Daeng Litere, 23092024) Bagai anak panah lepas dari busurnya, pendar minda Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan mengandung nada jenaka. Namun, di balik kelugasannya, tersimpan pembacaan tajam tentang tabiat zaman. Ia tidak sedang berbicara mengenai kerajaan dalam pengertian harfiah, tiada pula…

  • Islamisasi Stoikisme

    Islamisasi Stoikisme

    Menjalani kehidupan sejatinya bukan perkara mudah, banyak tantangan bagi manusia di tengah dinamika kehidupan yang demikian kompleks. Melewati berbagai macam lika-likunya, memiliki hati yang bijak serta jiwa yang tenang, akan menjadikannya terasa damai untuk diarungi, alhasil kita dapat mengecap nikmat dunia tanpa kesulitan yang berarti. Perlu kita sadari bahwa sesungguhnya di dalam kehidupan ini ada…

  • Melewati Permukaan

    Melewati Permukaan

    Selama ini hanya sibuk mengetahui! Tanpa harus lebih pada memahami. Bisa saja memiliki banyak pengetahuan, akan tetapi sedikit untuk memahami. Bagaimana membaca dan menginterupsi interpretasi terhadap orang lain? Strukturnya adalah mengetahui dengan kepala, memahami dengan hati. Perannya berbeda: “memahami kedalaman, mengetahui permukaan”. Minim membaca dengan objektif. Sampai kadang menggandrungi jenis selera dan latah membudaya, dan…

  • Selasar Pemuja

    Selasar Pemuja

    “Usah mendewakan seseorang. Sebab, bila serupa dewa, maka tindakannya seolah seperti dewa: tidak mendewasakan.” (Tajali Daeng Litere, 30092024) Amat simpel ungkapan Daeng Litere tersebut. Waima menyimpan ironi yang tajam. Lazimnya, pendewaan lahir dari kekaguman. Seseorang dipandang memiliki kelebihan, lalu ditempatkan pada kedudukan istimewa. Mula-mula penghormatan, kemudian pengagungan. Lambat laun, jarak antara manusia dan manusia merenggang,…