Dengung Keberlimpahan

Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025)

Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia.

Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup terbang jauh, dan justru mendekati batas maut. Kekenyangan— tampak sebagai kemenangan biologis—menjelma sebagai kerentanan eksistensial.

Nyamuk, makhluk nyaris tak diperhitungkan, dihadirkan sebagai metafora. Dalam keseharian, ia hadir sebagai gangguan; dalam ujar ini, ia menjelma guru sunyi. Ia mengajarkan bahwa kelebihan dapat berubah menjadi beban, dan pemenuhan berlebih beralih menjadi jerat.

Kekenyangan di sini bukan semata perkara perut. Ia adalah simbol akumulasi: harta, kuasa, pujian, bahkan pengetahuan. Dunia modern menyanjung penumpukan, seolah lebih selalu lebih. Namun, ada titik di mana tambahan tidak lagi memperluas, melainkan memberatkan. Nyamuk jika terlalu penuh darah kehilangan daya jelajah; manusia kalau amat serakah kepemilikan kehilangan keluwesan jiwa.

Pada simpul permenungan itu, sunyata tampil sebagai kelapangan dari keterlekatan, sela bagi gerak yang jernih. Nyamuk terlampau kenyang, sarat kehilangan daya tubuhnya; manusia terlalu berlimpah sekarat keluwesan batinnya. Keberlimpahan berkelindan menjadi kurungan.

Ujar Daeng Litere menyebutnya sebagai ayatullah (tanda Allah)—alamat kosmik nan terhampar dalam peristiwa kecil. Seekor nyamuk menjadi ayat hidup, ayat yang berdengung di sekitar, tetapi jarang ditafsirkan. Tanda tidak selalu hadir dalam kitab atau teks, melainkan dalam remah kehidupan, pada makhluk paling remeh sekalipun.

Paradoks kelangsungan hidup pun terungkap. Nyamuk memerlukan darah untuk bertahan, sementara keberhasilan berlebihan justru mengancam hidupnya. Hidup tampil sebagai seni menakar: tahu kapan mencari, paham batas berhenti.

Dalam kehidupan manusia, paradoks serupa berulang. Kekuasaan melimpah melahirkan kejatuhan, kekayaan berlebihan memupuk kecemasan, informasi berlimpah menciptakan kebingungan. Nyamuk kekenyangan menjadi alegori batas: setiap sistem memiliki ambang, dan melampaui ambang berarti mengundang keruntuhan.

Sunyata di sini juga menyiratkan laku jeda. Kosong bukan kekurangan, melainkan lapang. Dalam kelapangan itulah gerak menjadi mungkin. Nyamuk yang ringan dapat terbang jauh; manusia lepas dari keterlekatan dapat melampaui batas semu. Keringanan bukan sekadar fisik, tetapi etik dan eksistensial.

Ayatullah pada tubuh nyamuk menuntun pada kerendahan tafsir. Hikmah tidak selalu datang dari teks besar atau figur agung, tetapi dari kehidupan mikro yang terus berdenyut. Dalam sayap kecil, tersimpan pelajaran tentang ukur, terpaut nisbi, terkait keseimbangan yang mudah rapuh.

Ujar Daeng Litere menyentuh etika moderasi. Di tengah budaya yang memuja Keberlimpahan, ujar ini memuliakan cukup. Cukup bukan kekurangan, melainkan kecukupan sadar diri. Nyamuk yang cukup darah dapat terbang; bila berlebihan darah kehilangan sayapnya sendiri. Demikian pula manusia: kecukupan memberi upaya, kelebihan mencabut daya.

Sunyata sebagai ayatullah juga mengundang kontemplasi. Dunia penuh tanda, tetapi mata kerap tertutup ambisi. Makna besar dikejar, arti kecil dilupakan. Nyamuk kekenyangan, justru lebih jujur sebagai guru tinimbang ribuan slogan tentang keseimbangan hidup.

Di dalam tutur itu, terpendam kritik halus terhadap akumulasi tanpa jeda. Modernitas mengajarkan untuk terus menambah: produktivitas, konsumsi, koneksi. Namun Daeng Litere, lewat nyamuk, menyodorkan kebijaksanaan sebaliknya: kurangi, ringankan, kosongkan. Sunyata bukan kemunduran, melainkan ruang gerak baru.

Nyamuk kekenyangan mengingatkan pada kerentanan biologis dan eksistensial. Ketika terlalu penuh oleh dunia, manusia menjadi lamban, mudah jatuh, mudah disergap. Keringanan bukan estetika spiritual semata, tetapi strategi bertahan hidup. Seperti perahu tenggelam karena muatan berlebih, manusia pun karam oleh kepemilikan tak tertakar.

Dalam tafsir lebih luas, nyamuk menjadi cermin kosmos. Mikro dan makro bertaut. Dalam tubuh kecilnya, hukum keseimbangan kosmik bekerja. Sunyata bukan konsep abstrak, melainkan hukum hidup yang berdenyut dalam metabolisme nyamuk. Ayatullah bukan hanya di kitab suci, tetapi di sayap kecil yang gagal terangkat karena terlalu sarat.

Ungkapan tersebut mengajak kembali pada seni hidup sederhana yang sadar. Bukan simplifikasi naif, melainkan kesederhanaan reflektif: mengetahui kapan menahan, kapan melepas, kapan mengisi, kapan mengosongkan. Dalam jeda itulah batin berjumpa dengan kelapangan—sejenis merunrun menuju keseimbangan.

Di tengah kebisingan dunia, nyamuk kekenyangan berdengung: berhentilah sebelum terlalu penuh. Sunyata berbisik: kosongkan sebelum kehilangan gerak. Ayatullah berfirman: bacalah tanda-tanda kecil sebelum terlambat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *