Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan langit senja yang tenang, sekelompok mahasiswa menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Mereka tinggal dalam satu posko sederhana—rumah batu dengan dinding yang mulai pudar warnanya—namun penuh dengan tawa, diskusi, dan cerita-cerita larut malam. Di sanalah kisah ini tumbuh: kisah tentang seorang laki-laki yang diam-diam jatuh cinta kepada seorang perempuan yang sama-sama tinggal di posko itu.
Laki-laki itu bukan sosok yang pandai merangkai kata. Ia juga bukan tipe yang mudah mengungkapkan isi hatinya. Sejak pertama kali melihat perempuan itu di kampus, tempat mereka memulai jenjang pendidikan yang lebih tinggi, benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Kurang lebih dua tahun ia menyimpan rasa itu tanpa pernah mengucapkannya. Rasa canggung dan takut menjadi penghalang, hingga suatu momen di kampus membuat langkah hatinya terpatahkan: ia melihat seorang laki-laki lain mendatangi perempuan itu dan mengusap kepalanya, pertanda ada kedekatan yang lebih kuat. Saat itu, hatinya runtuh, meskipun rasa sayang masih menjadi alasan untuk tetap melangkah, sekalipun kecewa berkecamuk dalam batin.
Hatinya terusik oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perempuan itu tidak mengenakan riasan berlebihan, tidak pula berbicara dengan suara dibuat-buat. Ia apa adanya: tertawa lepas ketika bercanda, berbicara tegas saat berdiskusi, dan diam penuh makna ketika senja turun.
Cinta itu perlahan tumbuh kembali, seperti benih yang jatuh di tanah subur. Awalnya hanya kekaguman kecil. Ia kagum pada caranya menyapa warga desa dengan ramah, pada ketulusan dan kesabarannya menghadapi perbedaan pendapat di posko. Kekaguman itu kemudian berubah menjadi perhatian yang lebih dalam. Ia menunggu momen sarapan pagi hanya untuk duduk berhadapan dengannya. Ia sengaja mengambil jadwal piket yang sama agar bisa berjalan bersama menuju balai desa. Hal-hal kecil itu menjadi kebahagiaan sederhana yang ia simpan sendiri.
Namun cinta jarang datang tanpa ujian. Ia mengetahui bahwa perempuan itu sedang menjalani hubungan tanpa status dengan seorang laki-laki di luar sana. Tidak ada ikatan resmi, tidak ada kejelasan arah, tetapi ada keterikatan emosional yang kuat. Dua tahun lamanya perempuan itu menyukai laki-laki tersebut, menaruh harapan, memberi perhatian, dan menyimpan rasa takut kehilangan. Hubungan itu mungkin tak memiliki nama, tetapi meninggalkan jejak yang dalam di hatinya.
Mengetahui hal itu, hati laki-laki di posko ini terasa terhimpit. Ia sadar, ia datang terlambat dalam cerita perempuan itu. Ia seperti pembaca yang baru membuka buku di tengah bab, ketika tokoh utama telah terikat pada kisah lain. Ia tak berhak cemburu, tetapi rasa itu tetap muncul ketika melihat perempuan itu tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia tak berhak merasa kehilangan, tetapi hatinya kosong setiap kali perempuan itu bercerita tentang ketakutannya ditinggalkan oleh laki-laki yang telah dua tahun mengisi ruang perasaannya.
Ia sering bertanya pada dirinya sendiri: apakah cinta harus selalu diperjuangkan, atau kadang justru harus dipendam demi kebahagiaan orang yang dicintai? Ia menyadari bahwa perempuan itu memiliki kasih sayang yang begitu tinggi dan setia pada perasaannya sendiri. Ketakutannya kehilangan bukan karena posesif, melainkan karena ia telah menginvestasikan begitu banyak waktu, harapan, dan doa.
Di posko itu, ia memilih mencintai dengan cara yang sunyi. Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Ia hanya hadir—menjadi pendengar, teman diskusi, dan sosok yang diam-diam memastikan perempuan itu baik-baik saja. Ia membantu mengangkat galon tanpa diminta, membelikan gorengan kesukaannya saat rapat malam terasa melelahkan, dan berjalan sedikit lebih lambat agar bisa menyamai langkahnya.
Setiap malam sebelum tidur, dengan suara jangkrik sebagai pengantar, ia menatap langit-langit dan membiarkan pikirannya melayang. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari perempuan itu menoleh kepadanya, bukan sebagai teman satu posko, tetapi sebagai seseorang yang dipilih. Namun bayangan itu selalu ia akhiri dengan kesadaran: cinta tidak bisa dipaksa, dan hati tidak bisa diperintah untuk berpindah hanya karena ada yang datang dengan ketulusan.
Ada kalanya ia lelah menjadi kuat. Ia ingin berkata bahwa ia sanggup memberikan kejelasan yang selama ini tidak didapatkan perempuan itu. Ia ingin meyakinkan bahwa cinta seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa takut kehilangan. Tetapi ia tahu, perasaan perempuan itu bukan sesuatu yang bisa digantikan begitu saja. Dua tahun bukan waktu yang singkat; itu adalah rangkaian hari penuh cerita, harapan, dan mungkin juga air mata.
Dalam diamnya, ia belajar tentang arti mencintai tanpa memiliki. Ia belajar bahwa cinta bukan hanya tentang mendapatkan, tetapi tentang merelakan jika itu yang terbaik. Ia tidak membenci laki-laki di luar sana, meskipun berharap bisa berada di posisi itu. Ia tidak menyalahkan perempuan itu karena mempertahankan perasaannya. Justru dari situ ia semakin menghargai betapa dalamnya hati perempuan tersebut.
Namun pada suatu malam, ketika jam menunjukkan pukul 23.00, sebuah diskusi kecil terbuka dan membahas percintaan. Sosok laki-laki dan perempuan itu menjadi topik pembahasan teman-teman posko. Percakapan itu pada akhirnya membuka jalan bagi si laki-laki untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan wajah merah merona dan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia berbicara. Jawaban perempuan itu membuatnya tertegun: dalam beberapa hari kebersamaan, rasa sayang dan takut kehilangan pada laki-laki yang mencintai dalam diam itu mulai tumbuh di hatinya.
Hari-hari KKN perlahan mendekati akhir. Poster kegiatan mulai dilepas, program kerja satu per satu selesai, dan koper-koper disiapkan. Waktu yang dulu terasa panjang kini berjalan begitu cepat. Laki-laki itu sadar, mungkin kisahnya akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa pengabdian mereka di desa itu. Namun ia tidak lagi melihatnya sebagai tragedi. Ia menganggapnya sebagai bab indah dalam hidupnya—bab tentang bagaimana ia pernah mencintai seseorang dengan tulus, meski tanpa balasan.
Pada malam perpisahan, ketika seluruh anggota posko berkumpul dan saling bertukar pesan, ia menatap perempuan itu sekali lagi. Dalam senyumnya, ia menemukan ketenangan. Ia tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan tanpa status itu. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari hatinya akan berpindah. Tetapi ia tahu satu hal: ia pernah jatuh cinta pada perempuan sederhana dengan kasih sayang yang besar, dan perasaan itu mengajarkannya menjadi lebih dewasa.
Cinta itu mungkin tidak berujung pada kebersamaan. Namun ia tetap berharga. Dari cinta yang diam itulah, seorang laki-laki belajar bahwa ketulusan tidak selalu diukur dari hasil, melainkan dari keberanian untuk tetap mendoakan kebahagiaan seseorang, bahkan ketika kebahagiaan itu mungkin tidak bersamanya.

Akrab disapa Bung Leo, lahir di Bantaeng 16 April 1983. Aktivitas sekarang sebagai pengelola perpustakaan dan relawan literasi Desa Bonto Jai.


Leave a Reply