“Telah datang bulan puasa, panji Sang Sultan pun tiba. Tanggalkan tangan dari makanan, hidangan jiwa telah datang.” (Ghasal 892)
Hari di mana kita akan mencicipi hidangan Tuhan telah tiba. Hari di mana Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluknya. Puasa di Bulan Ramadan tak sekadar ritual belaka, atau hanya menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah syariat itu, tersimpan makna batin, yang Allah anugerahkan kepada manusia sesuai kadar dirinya.
Konon, para pejalan ruhani, menjadikan bulan Ramadan semacam kilas balik perjalanan spritual. Mereka merefleksi perjalanan spritualnya sepanjang setahun lamanya. Menimbang, sejauh mana tingkat spritualitasnya, dan apa yang mesti dibenahi secara maknawi.
Sebagian dari kita, atau tidak mau dikatakan sebagian besar, memandang ibadah puasa lebih pada ritualnya atau lahirnya belaka, ketimbang kandungan maknawi puasa itu sendiri, padahal esensi dari ibadah puasa adalah makrifat. Menjalani puasa hanya sekadar ritual, tak akan mendapat apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.
Para pejalan spiritual menganjurkan setiap orang yang berpuasa, benar-benar memperhatikan adab-adab puasa. Dengan begitu, makrifat Ilahi bisa kita raih. Adab-adab puasa sudah mafhum kita ketahui, namun, berat melakukannya. Seperti menjaga seluruh anggota tubuh dari hal-hal haram, menahanan lisan dari perbuatan ghibah, fitnah, adu domba, dll.
Juga, menahan diri dari maksiat. Imam Ali bin Abi Thalib, menegaskan, bahwa puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang dilarang Allah. Penting pula, menjaga keikhlasan dengan penuh keimanan, dan hanya berharap rida Ilahi semata.
Dimensi puasa tak hanya bertumpu pada syariat. Untuk meraih dimensi batiniah, tak ada cara lain dengan mematuhi adab-adabnya. Upaya mematuhi adab-adab puasa, artinya, menjalankan ibadah puasa tak sekadar menggugurkan kewajiban syariat, lebih dalam lagi, tujuannya tak lain, meraih makrifat Ilahi.
Tradisi puasa tak hanya di lakukan di bulan Ramadan. Bagi pejalan ruhani, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan jiwanya memasuki Ramadan. Puasa di luar Ramadan ibarat latihan jiwa, agar keinginan tubuh lebih banyak mengikuti keinginan jiwa.
Kecenderungan tubuh yang lebih condong pada kenyamanan materi, perlahan, tergerus mengikuti kehendak jiwa dengan laku puasa. Seperti yang dikatakan Iman Ali, dalam kitab Al-Khishal, halaman 612, “Puasa di bulan Sya‘ban dapat menghilangkan bisikan-bisikan (gangguan) di dada dan menyembuhkan penyakit hati.”
Manusia yang memiliki tubuh dan batin, realitasnya sering mengalami pertentangan. Masing-masing ingin saling mendominasi. Maka, dengan puasa melatih diri memenangkan jiwa dari dominasi tubuh. Namun, menurut pejalan ruhani, tantangannya ada pada dimensi khayal manusia. Kebanyakan, manusia tertawan pada dimensi tersebut.
Dimensi khayal manusia menawarkan ketergantugan pada materi, sedangkan batiniah manusia menciptakan keterlepasan pada materi. Dua dimensi yang saling bertentang, namun sama-sama berada dalam diri manusia. Perjuangan menekan daya khayal di bulan Ramadan, tak hanya sebatas menunaikan ibadah puasa secarat syariat. Kita mesti memiliki keteguhan hati, menahan dari perbuatan melanggar adab dasar dan lahiriah menjaga puasa.
Bahkan, di bulan suci, sudahnya selayaknya kita mencegah, jika melihat seseorang hendak menggunjing (ghibah). Jika tak sanggup dengan hal itu, maka tinggalkan orang tersebut.
Upaya menekan dimensi khayal, dapat diukur sejauhmana tekad kita, memutuskan selama tiga puluh hari di bulan suci Ramadan ini, untuk mengendalikan lisan, mata, telinga, serta seluruh anggota dan organ tubuh, agar senantiasa memperhatikan hukum syariat, atas setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, setiap kata yang hendak kita ucapkan, dan setiap hal yang hendak kita dengarkan.
Pejalan ruhani mengibaratkan, seseorang yang menjalani Puasa Ramadan dengan tetap menjaga adab puasa, dan menahan dorongan khayalnya, laksana sedang memakai pakaian Tuhan. Seluruh tindakan, ucapan, penglihatan, pendengaran, dsb. Tak lain, adalah tajalli Tuhan.
Lapar dan dahaga yang dirasakan tubuh, sesungguhnya adalah makanan Ilahi. Dan, hanya orang-orang yang mampu mengendalikan nafsu dan mumurnikan jiwanya lah yang mencicipi hidangan Ilahi.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply