Isilah Titik-Titik!

Sepele, kadang menganggapnya biasa saja, lagian apa yang harus saya isi dalam titik-titik itu sementara soal telah bocor di mana-mana, kejujuran terpenggal, dari topeng sosial dan kesialan yang sama-sama beriringan?‎‎

Menganggapnya mudah dan menggampangkan.  Dengan enteng, saya petenteng saja menyusuri lekuk dan riak keseruan kehidupan, yang semakin tampak anggun serta songongnya, ada yang secara cadas, ada bersolek molek.

‎‎”Hiasilah/isilah  titik-titik di setiap detik pernik kehidupan, dari yang kecil hingga diantara peristiwa dahsyat sampai sekarat.  Pacu kudamu “tunggangi”  menuju laju kehidupan (manusia)  serba seribu tipuan. Buatlah rekayasa  harapan pada pencarian yang telah  terkoyak, sampai  hal nan kocak! Karib Mubaraq kembali menggugat sambil  “appaganti” diantara gairah yang mulai terasa gerah dan penuh getah. 

‎Lintasan-lintasan imajinasi itu semakin liar, tetiba mendepak saya  untuk satu titik harus saya secara terpaksa pula menghiasi/mengisinya satu kata saja: “runut”.  Mubaraq juga ikut mengisi titik-titik dengan sebuah ungkapan falsafah mangkasara “teako rangga selai, lewai sekre arusu jammanga surang rupa tauwwa ri sangka gaukna”. Wets, saya kembali tercekat. ‎‎

Dunia tempat berleha-leha, kita bermain petak umpet, sambil menipu diri sendiri dengan Tuhan sama-sama.  Cara kita mengakalinya, menekuni, menjadi tameng, serta ruang jebakan untuk mencapai tujuan.  Saya dan Karib Mubaraq serta Dokter Didi tertawa bersama saat perjamuan di sebuah cafe, membuat pengunjung lain mungkin merasa terusik malam itu. 

‎‎Isilah titik-titik setiap detik.

‎‎Kadang juga saya lengah, saat mentari pagi melengkapi serta menghiasi setiap hari-hari, saya lupa lagi ada titik harus terisi. Saya gugup, hanya menghiasinya sebuah nokta pada  lembaran-lembaran masa lalu, kini yang masih menggugat cara saya membuat interpretasi, menginterupsi serta mengkonfirmasi sebuah afirmasi. Ah. Saya mulai takut, jangan-jangan saya yang berhalusinasi. 

‎‎Sementara di sebuah tatanan, terhimpun  seribu anak panah, penuh  resah, mulai pada busurnya dengan brutal.  Tertancap di luar dugaan titik! sepertinya nyasar juga, tidak tepat  sasaran. Sistim, budaya politik, agama menjadi budak kesadaran. Terpenjaranya jiwa, menikmati dramatikal sarat tipikal.

‎‎Seseorang dengan sigap menghiasi atau  mengisi titik-titik itu: “biasa, kita sama, mengajukan alasan dalil dan delik untuk berkelik.

‎‎Ada yang menggema mengisi titik-titik setiap hari. Memanggil seperti panitia untuk ke surga, di sisi ruang waktu, saya panik, mulai terserang fobia, melupakan kualitas. Saya mulai menghiasi kembali titik-titik itu dengan latah “identitas”.    Sambil berdendang, dan bersiul di antara bisul-bisul tumbuh degan semaunya, dari balik ketiak, sampai ke selangkangan.

Isilah titik-titik setiap detik! Mubaraq menghujam kembali di tepi malam. Berkenaan perkenalan awal dengan seseorang yang kemudian melempar sauhnya tertambat di Bantaeng di labuh pertama perjamuan saya dengannya, seraya menguatkan “prinsipnya” ketegasan, jiwa dengan pertarungannya selama di negeri rantau, tetapi dia tidak lupa afirmasi dan kesenjangan dirinya sebagai identitas. 

Yah. Panggilannya Bang Didi berprofesi dokter, kali ini kami sama-sama berselencar dalam percakapan, hadir di perenungan dan persemaian kami, dia dengan. cekatan  menghiasi dan mengisi pula titik-titik itu juga dengan satu kata juga “prinsip”.   Tentunya tidak harus berusaha jujur mengisinya! Sebab katanya kadang menipu dirinya pula sendiri.

‎‎Menurutnya itu lebih berbahaya ketimbang menipu orang lain.  Wow. Kuikuti alur berpikir dan sampai batas nyali dalam seruput sampai secangkir kopi yang disuguhi cara mengalir dan berpikir. Menandai pergumulan imajiner secara leaner, tidak harus pula saling merasa benar dan pintar. Cukup meluruskan nalar, tidak berupa seolah pakar tanpa akar pengetahuan. Sebagaimana saya masih mental krupuk, awal garing di akhir dia lempeng bin lumer. 

‎‎‎tidak perlu mencontek. Tetapi kebohongan kita jauh melampaui kejujuran kadang-kadang  Seiring perseteruan jiwa, batin dan subjektif begitu kian agresif saling bertentangan. Lupa menghiasi dan mengisi kembali titik-titik itu. Walau hak sederhana pada saat jiwa mulai bersengketa dan terpenjara, titik-titik itu kita coreti begitu saja.

  ‎‎Setitik noda  begitu mudah diincar dicecar,  sementara satu titik kebajikan sebegitu lekas lepas, mudah dilupakan.  Saya mulai terbiasa mengarang bebas tentang kemarau dan rimbunan sesajian jawaban untuk mengisi titik-titik tersebut. Biar kita sama-sama menjadi pengarang yang sedikit jujur. Pada  suatu situasi yang hanya sekadar direduksi menjadi hamparan diksi. Memilih penyimak saja di setiap situasi, serta kondisi sebagai afirmasi serta konfirmasi.

‎Pena itu tintanya sudah tumpah dan  patah diatas kerak perjanjian, mulai melirik berusaha mengimbangi.  Seni klasik kembali dipertontonkan. Maka kuisilah kembali titik-titik dengan terpaksa menghiasi titik sejuta kebohongan,  yang kadang saya lupa, pernah meludah di atasnya.  Sesekali  bertingkah kelucuan, bahkan menjadi bajingan pula. 

‎‎Dalam”titik-titik”, mengincarku di tengah kumpulan kisah, dan kebingungan. Betapa  cukup dongoknya saya selalu mencatat dan menghiasi titik hanya hal-hal baik, padahal banyak kejahatan pula saya lakoni. Melupakan kemarin sore, sampai detik ini. Kata khilaf dan lupa jadi alasan topeng manusiawi.

‎Kesadaran diuji, jiwa dibuat down oleh situasi dan kondisi yang sengaja dikarang dan dicipta manusia, menandai sistim untuk kita jalani, meski seribu protes, semua sia-sia karena materialis telah menetes disetiap sudut kehidupan.

‎‎Suatu pencarian, tetiba seorang pengelana dalam perajalannya, menghukum dirinya sendiri saat kabut cintanya dianggap terlalu mendramatisir rasanya, tetiba dia bangun pagi mengkritisi dirinya sendiri. Sampai pada tumpangan yang membajak pikirannya selama ini.

‎‎Saya cukup tertarik tentang hiasan makna titik-titik yang dia bangun menjadi tolak ukur, mengawali pengalanaan selanjutnya.  Saya menikmati dengan duduk manis, sepantik korek membakar tembakau di beranda rumah.  Mengikuti ritme dan alur sebuah sajian yang menampar-namparku seketika. Pada tayangan tersebut dirilis pada Desember 2025, Dzawin Nur Ikram memaknai “Titik-Titik” sebagai sebuah perjalanan emosional yang personal.‎

Sebagai satu pertunjukan menjembatani proses kehilangan, pencarian, dan penemuan. Sampai dimaknai begitu mendalam. Dzawin menyuruh saya dengan perintah isilah “titik-titik sesuai persona dan persoalan hidup yang kadang dianggap receh, justeru itulah sesungguhnya titik identifikasi awal sebuah sifat, dan cara kita menginterpretasi, menginterupsi.  tidak meluluh seolah kritis, tetapi kita justeru nyaris melupakan hal-hal yang bisa diselesaikan, diimplementasikan dengan damai.

  ‎‎Semakin saya asyik menyimak pada seduhanya bahwa: Dengan mengambil keputusan, tidak harus menunggu, menunda, salat tahajud, sampai ke hal tahayul yang pada akhirnya kita merasakan kecewa, pada keadaan, menyangka Tuhan tidak adil. Wow Dzawin menggugurkan teori syariat dan duplikat kitab-kitab. Padahal dia hanya tahu nama Tuhan dari sebuah kesepakatan umum dan doktrin agama.  Kebanyakan diantara kita,  telah tertipu daya, bahkan  menipu orang lain,  bahkan diri sendiri. 

Saya sepakat dengan Dzawin istilah menjahit luka dengan tawa (Healing), tetapi saya menampik, betapa  terlalu banyaknya  pengecut dan merasa tegar, tetapi dikoyak-koyak,  membohongi rasa sakit itu sendiri.  Katanya kita bijak, tetapi kadang tidak sadar kita bejat sana-bejat sini!

‎Lanjut ke Dzawin, dia menggunakan “titik-titik” untuk merujuk pada momen menertawakan luka atau kesedihan masa lalu, dengan alasan dan pembelaan dirinya yang personal.

‎Betapa pecundangnya saya, menerima dan ikut tertawa: Di mana  tawa adalah cara terbaik untuk melupakan atau berdamai dengan rasa sakit. Hingga  kita membuat pertunjukan,  dalam pragmen manusia, sebagai umpama dalam dunia menjadi bentuk refresh, atau ikut istilahnya healing, tetapi membuat saya semakin juga pening bin pusing tujuh keliling.

‎‎Dzawin membuat sebuah panggung sebagai reaksi  interupsinya dalam kaitan titik-titik untuk kita hiasi dan mengisinya pada proses personal, saat ( kehilangan- cari-temu): Pertunjukan ini membahas pengalaman hidupnya yang paling personal, yaitu kehilangan sesuatu, melakukan pencarian, dan akhirnya menemukan jawaban atau arah baru.‎‎

Pikiran Liar dan Konsekuensi Pilihan, dia menguatkan pada  titik-titik ini juga, dengan  merepresentasikan pikiran-pikiran liar yang telah lama terpendam dan akhirnya dituangkan, salah satunya mengenai konsekuensi dari setiap pilihan hidup yang diambil.‎‎

Dzawin semakin prontal tetapi, dengan cara membumbuhi dengan komedi, dia mampu terkontrol pada sebuah istilah Dzawin menemukan kalimat yang saya anggap jenius “berhenti dan berdamai”.  Secara harfiah, titik-titik menandakan berhentinya sebuah kalimat. Dalam konteks ini, Dzawin mengajak penonton untuk berhenti sejenak dari kesedihan, merenungkan konsekuensi, dan berdamai dengan masa lalu.  Saya kembali diajak merenung pula, berusaha memahami, tidak harus larut untuk sebuah ekspestasi,  saya  hanya mau menambahkan kepada ungkapan Dzawin, bahwa selain berdamai masa lalu, berdamailah dengan diri sendiri.

‎‎Prosesi di tengah kembaramulah, coretan, selalu menggugatmu. Hal besar kadang kita mampu selesaikan, hal kecil, bahkan sepele mungkin kadang kita panik, dan lari terbirit. Sementara sore kemarin menghiasi titik-titik dan mengisinya dengan percaya diri, terucap janji, tertancap begitu lantip. Tetapi gegera seputik bunga persoalan kita menggugurkan setaman. ‎

Titik-titik itu, seketika terabai, tetapi dia selalu mengincar setiap saat, meminta kita mengisinya walau bahai coretan lampau, untuk membangkitkan kesadaran, jiwa yang mulai tersandera oleh kecerdasan atas karena sistim yang mengatur, diantara nimenkelatur, baik secara akademisi, sampai yang punya amunisi, menghiasi setiap kepintaran yang membantai pada kepintaran yang lain. Cerdas, culas dan cadas semua harus saling tahu diri, dan belajar mengisi titik-titik, walau kadang peristiwa dan soal-soal telah dibocorkan secara universal. Tetapi jauh dalam kesadaran jiwa sering bablas juga.

‎‎Bigitukah Dzawin mengajak melepas atribut, identitas, lalu mengidentifikasi setiap sesi, sisi yang kita bagikan selama ini. Dia perlahan move on, saat terpuruk hanya karena harapannya di buang, cintanya dikhianati. Hem….rasa sensitivitas kadang menipu jua dan dipertaruhkan, padahal itu juga jebakan rasa, dan itu kiranya semua mengalami. Tetapi larut dan berbaur, tidak harus dan tidak mungkin melebur apatahlagi menerima segala pengkhianatan bahkan kehinaan itu sendiri.

‎Dzawin tertawa kembali melepas duka dan kecewa dengan menantang dirinya menguji nyali mendaki, menjalani prosesinya sesuai pilihan hidup, hobinya, bukan sesuai pilihan akademiknya. Melepas jiwa merdekanya, terbebas dari sistim yang samapi saat ini terlihat semakin ingin ngatur dunia dan manusia, dari pinansial, pendidikan, ekonomi, budaya dan politik, bahkan tameng agama.

‎‎Dzawin seakan menggugat saya, ayo isi kembali titik-titik itu, di mana dalam detik saya lalai, lupa kembali mengisi titik-titik yang kini semakin massif meracuni, merecoki, mengumpulkan data primer saya dan teridentifikasi sebagai manusia pengecut dan pecundang.

‎‎Akhirnya selera, cara pandang dan mengelabui rasa, jiwa, peran kita sama, tujuan dalam prosesnya beda, tetapi suatu capaian kita sepertinya sama, hanya ruang waktu kadang kita tidak dalam satu rangkaian titik-titik itu. ‎‎

Sumber gambar: ciungtips.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *