“Wahai pemuja raga, cukuplah puasa sebagai interupsi, agar terbebas dari terungkunya.” (Tajali Daeng Litere, 26032025)
Ujar itu terdengar mirip teguran lirih, tetapi mengandung kedalaman yang pelan mengendap. Ia tidak menyerang tubuh, tiada pula menafikan kebutuhan jasmani. Ia justru mengajak jeda—sebuah interupsi dalam arus pemujaan raga, nyaris tanpa sela. Maksudnya, puasa ditempatkan bukan semata sebagai ritual, melainkan sebentuk strategi eksistensial: cara manusia menarik napas dari keterikatan.
“Pemuja raga” tidak hanya menunjuk mereka para pemuja keindahan tubuh. Ia merujuk manusia modern yang menempatkan tubuh sebagai pusat orientasi: kenyamanan, konsumsi, performa, dan citra. Raga menjadi medan ambisi sekaligus penjara halus. Dalam pengejaran kenikmatan, manusia sering lupa bahwa tubuh, bila tidak dijeda, dapat menjerat batin dalam siklus keinginan yang tak kunjung selesai.
Puasa hadir sebagai interupsi—sejenis tarak batin. Interupsi berarti pemotongan alur, penghentian sejenak, ruang sunyi di tengah kebiasaan. Puasa memutus kontinuitas konsumsi, menghentikan kebiasaan mengisi, lalu membuka ruang untuk merasakan kekosongan. Dalam kekosongan itu, manusia belajar mendengar ulang denyut batin yang kerap tertimbun oleh hiruk-pikuk pemenuhan raga.
Daeng Litere menyebut “terungkunya” raga. Ungkapan ini menandakan keterikatan yang melumpuhkan. Raga bukan musuh, tetapi ketika dipuja tanpa jeda, ia mengurung kesadaran. Manusia menjadi tawanan kebutuhan, citra, dan kepuasan instan. Puasa, dalam bingkai ini, bekerja sebagai kunci yang membuka jeruji. Ia bukan hukuman bagi tubuh, melainkan pelonggaran bagi jiwa.
Puasa mengajarkan seni menunda alur rutinitas. Dalam penundaan itu, manusia menemukan jarak antara dorongan dan tindakan. Jarak inilah yang memungkinkan kebebasan. Tanpa jarak, manusia sekadar reaksi. Dengan jarak, manusia menjadi subjek yang memilih. Safar batin bergerak dari otomatisme menuju kesadaran.
Dalam kehidupan serba cepat, interupsi semacam ini semakin langka. Semua dirancang untuk terus mengalir: makanan selalu tersedia, hiburan selalu menyala, informasi berkelindan tanpa henti. Puasa datang sebagai gangguan produktif. Ia mengganggu rutinitas, memecah kelancaran konsumsi, lalu menempatkan manusia di hadapan dirinya sendiri. Di lapik itu, kesadaran berkelintangan, seperti cahaya kecil yang muncul di sela gelap.
Puasa juga memperlihatkan rapuhnya raga. Tanpa asupan, tubuh melemah, pikiran melambat, emosi naik turun. Namun, justru di situ terdapat pelajaran kerendahan hati. Manusia menyadari batas, menyadari ketergantungan, menyadari bahwa tubuh bukan pusat semesta. Kesadaran ini melunakkan ego, meruntuhkan ilusi kendali mutlak atas diri.
Interupsi ini tidak berhenti pada makan dan minum. Ia merembes ke kebiasaan lain: berbicara, bereaksi, menghakimi. Puasa melatih diam sebagai laku. Dalam diam, kata-kata disaring, emosi dijernihkan, kehadiran dipertajam. Diam bukan kekosongan, melainkan ruang bagi makna tumbuh. Padanyalah kebeningan—nyana—perlahan merawi kesadaran.
Dalam tafsir ini, puasa menjadi latihan kemerdekaan. Kebebasan tidak selalu lahir dari pemenuhan, tetapi dari pembatasan. Dengan membatasi diri, manusia memulihkan kedaulatan atas dorongan. Ia tidak lagi digerakkan semata oleh nafsu raga, melainkan oleh pertimbangan batin. Sehingga, raga tidak lagi dipuja selaku pusat, melainkan dihormati sebagai amanah.
Daeng Litere tidak mengajak membenci tubuh. Ia mengajak menata relasi. Raga dihormati, dirawat, tetapi tidak dituhankan. Puasa menempatkan tubuh pada posisinya: sebagai kendaraan, bukan penguasa. Dengan demikian, batin kembali memegang kemudi. Kepemimpinan diri berpindah dari impuls menuju kesadaran.
Interupsi raga juga membuka ruang empati. Ketika tubuh merasakan lapar dan dahaga, kesadaran akan penderitaan orang lain menjadi lebih dekat. Puasa menjembatani jarak antara kenyamanan pribadi dan realitas sosial. Ia mengajarkan bahwa kenyang bukan keadaan universal, bahwa banyak insan hidup dalam kekurangan. Dari pengalaman tubuh, lahir kepekaan etik yang tidak cempera, tak rapuh oleh retorika.
Lebih jauh, puasa menggeser cara manusia memandang waktu. Hari tidak lagi sekadar rangkaian pemenuhan, tetapi menjadi ritme antara menahan dan melepaskan. Waktu dipenuhi kesadaran siklus: ada tatkala berhenti, tampak kala berjalan. Ritme ini mendidik kesabaran, menanamkan disiplin, dan memupuk ketekunan. Hidup tidak lagi diukur oleh kecepatan, tetapi oleh kejernihan jeda.
Dalam lanskap batin, puasa menjadi ruang kontemplasi. Ketika asupan dikurangi, pikiran sering menjadi lebih jernih, sensitivitas meningkat. Banyak orang menemukan bahwa justru dalam lapar, refleksi menjadi lebih tajam. Interupsi raga membuka lorong menuju batin yang selama ini tertutup oleh kenyamanan.
Tutur Daeng Litere ini juga dapat dibaca sebagai kritik budaya. Budaya yang memuja raga, produktivitas, dan performa cenderung menolak jeda. Puasa, dalam kerangka ini, adalah tindakan subversif: melawan arus terus-menerus mengonsumsi dan memproduksi. Ia menegaskan hak manusia buat berhenti, agar tidak terus terhubung, supaya tidak selalu tampil.
Namun, interupsi tidak berarti pelarian. Puasa bukan penolakan dunia, melainkan cara masuk ke dunia dengan kesadaran baru. Setelah jeda, manusia kembali ke kehidupan dengan sikap berbeda. Makan menjadi syukur, berbicara menjadi pertimbangan, bekerja menjadi pengabdian. Interupsi raga melahirkan kontinuitas batin yang lebih bermakna.
Kalakian, puasa tampil sebagai laku pedagogis. Ia mendidik nirceramah, mengajar tanpa papan tulis. Tubuh menjadi guru, lapar menjadi pengingat, dahaga menjadi cermin. Manusia belajar dari dirinya sendiri, meraba batas, dan menata ulang relasi dengan kebutuhan.
Penabalan Daeng Litere ini, dengan demikian, bukan sekadar seruan religius. Ia adalah aforisme eksistensial. Ia mengajak manusia modern—yang kerap tenggelam dalam pemujaan raga—untuk berhenti sejenak, menarik diri, dan melihat ulang arah hidup. Interupsi menjadi jalan pulang, dari terungku kebiasaan menuju kebebasan kesadaran.
Di sela jeda itu, manusia merasakan bahwa hidup tidak selalu harus diisi. Ada saat hidup justru perlu dikosongkan, biar makna menemukan tempatnya. Seperti cawan yang harus dikosongkan sebelum diisi kembali, batin pun memerlukan ruang hening agar dapat menampung kebijaksanaan.
Sebab, dalam jeda tersebut, manusia menemukan dirinya bukan sebentuk raga semata, melainkan separas kesadaran melampaui raga. Pastinya, hidup berjalan lebih tenang, jernih, dan bertanggung jawab—seraya raga tetap dirawat, tetapi tidak lagi dipuja sebagai pusat makna. Puasa pun menjelma simpai buat raga dan batin dalam keseimbangan, menjaga manusia tetap ingat pada batas dan keluasannya sendiri.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply