Betapa lugu dan gobloknya saya masa itu, mudah dibohongi, saat mendengar kisah kiai, orang pakai jubah dan sorban itu begitu keramat dan katanya sakti mandraguna.
Memaksakan diri menerobos, berebutan cium tangan, minta berkah, berburu baca-baca sakti ilmu kanuragan. Pada akhirnya semua bagai memori keculungan, dan kebodohan saya yang sengaja dibodoh-bodohi, disuguhi doktrin. Dipaksanya saya disuapi sebuah kebenaran yang sesungguhnya pembohongan terstruktur masa itu.
Ini hanya narasi, sekiranya ada reaksi sebagai konfirmasi atas sebuah afirmasi. Sembari duduk manis saja menyeruduk kopi, kalaulah ada interpretasi sekalian interupsi tanpa harus saling sikat baku habisi. Mari berpikir sedikit lebih mengatur napas dan tahu batas.
Saya kemudian berusaha tidak kapitu-pitu, saat membuka pintu, suasana di luar mulai gaduh. Ricuh tentang sejarah, nasab dan pengetahuan yang berbau tendensius. Ada bermain sirkus, ada memburu fulus agar bisa membangun dogmanya, meraih mahkotanya.
Ini hanya ilustrasi yang sudah basi, walau demikian, setidaknya gelisah resah saya tidak tercecer ke mana-mana, mengadu dan mendomba di setiap musim berganti, sambil merasa tercerahkan, tidak harus memaksakan secara atraktif untuk pembenaran mutlak.
Ada banyak percakapan tentang kata yang menurut sebagian orang sakral, punya karomah, sakti, bahkan punya mahkota dalam nilai sosial, budaya masyarakat di Nusantara ini.
Seiring waktu, perjalanan zaman, ilmu, pengetahuan dan tekhnologi. Terhampar laman-laman, cerita, kisah asal muasal kata “kiai” itu berkembang begitu menempati ruang-ruang interpretasi, etimologi, dan defenisi.
Bahkan beberapa ulasan dan pengertian membuat defenisi yang tidak secara defenitif atau seperti beberapa pernyataan bahwa kata “kiai” berasal dari kata “kebo” (kerbau) itu juga tidak menjadi pembenaran kuat, tidak harus memaksakan pemahaman kita menerima begitu saja.
Bahkan sepenuhnya tidak juga tepat menjadi sebuah untuk segera kita sepakat, jika dikatakan sebagai akar etimologi utama. Akan tetapi kiranya keduanya memiliki keterkaitan unik dalam budaya (Jawa). Menurut pembuka sebuah laman, mengupayakan untuk kita tidak terjebak dan asal nyosor begitu saja menerima, menjadikan kesimpulan.
Berdasarkan sumber budaya dan sejarah: Arti kiai secara bahasa, berasal dari bahasa Jawa yang digunakan sebagai gelar kehormatan untuk sesuatu yang dituakan, dihormati, atau keramat. Gelar ini tidak hanya untuk manusia (ulama/pemimpin agama), tetapi juga untuk benda pusaka (keris, tombak, gong) dan bahkan hewan.
Selanjutnya tentang kaitan Kiai dengan “kebo” (kerbau). Dalam tradisi Jawa, sebutan kiai memang bisa disematkan pada hewan, contoh terkenalnya adalah Kebo Kiai Slamet di Surakarta. Penggunaan gelar kiai pada hewan seperti kerbau menunjukkan penghormatan khusus terhadap hewan tersebut dalam konteks budaya dan kepercayaan lokal.
Sering menjadi pemantik saling menguliti, menggelitik, hingga sering kita terjebak pada saat menggunakan asal mula kata, seperti Kiai misalnya. Lalu kita menerima begitu saja bahwa lahir dari kata kebo. Saya kira, perlu penyusuran lebih jauh melempar sauh pada titian laut pengetahuan yang mahaluas ini.
Kiai adalah mahkota, meski banyak kiai kehilangan muruah, karena menganggap kiai itu adalah identitas mutlak, bukan berharap derajat diangkat, tetapi jiwa, cara pandang tentang kemaslahatan tentunya harus sepadan.
Maka secara umum diketahui dan dipahami, menurut pemahaman budaya lokal terkait gelar penghormatan.
Kata “kiai” berasal dari bahasa Jawa kuno, yakni dari ungkapan ki – yayi. Istilah ini awalnya merupakan kata sandang penghormatan untuk laki-laki yang dihormati atau sesepuh (ki) dan adik/kesayangan (yayi). Secara historis, gelar ini juga digunakan untuk benda keramat/pusaka dan kemudian disematkan pada ulama pemimpin pondok pesantren di Jawa.
Mengenai asal-usul kata kiai adanya pergeseran makna. Dahulu digunakan untuk menyebut benda pusaka, hewan, atau tokoh yang dianggap memiliki kekuatan magis atau keramat. Dalam terhubungnya dalam konteks agama, seiring masuknya islam, sebutan ini berkembang untuk menghormati pemimpin pondok pesantren dan tokoh agama yang disegani di masyarakat Jawa.
Sampailah pada sebuah penyebutan penghormatan: Secara harfiah juga sering diartikan sebagai “orang yang dipilih” (dari ungkapan iki wae – ini saja). Bahkan ada simbol tradisi yang sudah menjadi kebiasaan bagi para bangsawan Jawa untuk memberikan gelar “kiai” dan “nyai” kepada benda-benda yang dianggap seolah keramat.
Istana-istana Jawa pada umumnya memiliki benda pusaka yang sangat dihormati layaknya orang yang sakti. Jenis bendanya bermacam-macam, termasuk senjata, alat musik, dan bahkan kereta kuda juga disematkan kata “Kiai dan Nyai”.
Saya tidak harus terjerat hingga stagnan di satu pemahaman saja. Toh juga saya butuh tamasya lebih jauh. Supaya tidak kapiti- piti, dan kapitu-pitu, kesekian kalinya, di mana sebagian masih hanya sekadar pintar, tapi nalar jurang kadar. Minimal ke tepian sejenak, agar tahu bahwa ada jurang, ada kendala diri untuk kadang bertahan seolah merasa pintar, tapi tidak pintar merasa misalnya.
Lalu saya kembali pada sudut laman jabar.nu.or.id menempatkan persoalan simbol Jubah dan Sorban dalam dinamika Kulturasi sosial, budaya, dan agama di bumi Nusantara Jumat, 3 Januari 2025.
Simbol jubah dan sorban dalam konteks agama Islam telah lama menjadi ikon identitas keagamaan. Namun, dalam beberapa kasus, simbol-simbol ini digunakan oleh kelompok tertentu untuk mengubah atau memaksakan kulturasi sosial, budaya, dan agama yang bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Ulama Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) telah memberikan pandangan kritis terhadap penggunaan simbol-simbol ini dalam konteks penjajahan kulturasi di Indonesia.
Jubah, hanya pakaian tradisional yang sering digunakan di wilayah Timur Tengah. Pakaian ini pada dasarnya adalah budaya lokal yang tidak diwajibkan dalam Islam. Sorban, Memiliki akar sejarah sebagai pelindung kepala di kawasan gurun. Tetapi dalam konteks agama, sorban sering dipandang sebagai simbol kesalehan, namun tidak memiliki dasar kewajiban dalam syariat. Apatahlagi dipaksakan pada negeri yang kaya kultur budayanya bernama Nusantara ini.
Saya kembali bersikap tenang, agar tidak tegang pada hal yang masih saja menjadi dogmatis seperti agama yang lahir karena budaya itu sendiri, dan sama-sama hanya sebagai simbolisasi berkelompok menyatukan, mengatur peran manusia dalam keteraturan yang juga sering ngawur, terhadap penggunaan simbol-simbol ini dalam konteks penjajahan kulturasi di Indonesia.
Saya cukup sepaham dalam paragraf laman tersebut seolah secara teratur penghapusan tradisi Lokal. Bertipikal buku tebal, namun jauh terpental secara spiritual.
Benarkah telah terjadi radikalisasi Identitas Keagamaan? Kiai, jubah, dan sorban sering dipromosikan sebagai “prilaku gelar dan busana Islami,” meskipun pakaian adat Nusantara juga dapat mencerminkan nilai-nilai Islam.
Kembali healing, sebuah halaman menyuguhkan seorang Ulama bernama KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membasuh dahaga dan kecemasanku sendiri, dia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ajaran Islam dan tradisi lokal. Mereka mengkritik keras penggunaan simbol agama yang bertujuan untuk mengubah kultur secara paksa.
KH. Hasyim Asy’ari, menegaskan bahwa: Islam masuk ke Nusantara melalui pendekatan budaya, bukan pemaksaan simbol. Pakaian seperti jubah dan sorban tidak wajib dalam Islam, melainkan bagian dari budaya timur tengah.
Menekankan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya.
Tetiba Gus Dur menutur juga, bahwasanya penggunaan simbol jubah dan sorban sebagai alat untuk menyingkirkan tradisi lokal. Islam di Indonesia harus mempertahankan pluralitas budaya dan toleransi.
Beliau melanjutkan secara damai melalui pendekatan budaya, seperti, tahlilan, maulid, dan slametan, seni budaya, wayang kulit, musik gamelan, dan seni tradisi di Nusantara ini menjadi penyatuan, penyebaran syiar Islam yang anggun, tidak canggung, dan tidak harus menggunakan simbol budaya lain yang kini mulai merebut kearifan sejak dulu telah menjadi perekat sosial masyarakat.
Lantas kemudian bagaimana pakaian adat seperti kebaya dan sarung yang dipadukan dengan nilai Islam yang dianggap tidak berciri Islam? Namun, ketika simbol jubah dan sorban diperkenalkan secara dogmatis agama, kulturasi ini terganggu. Menganggap tradisi lokal sebagai bid’ah, haram, dengan memaksakan budaya Timur tengah sebagai standar keislaman?
Jubah dan sorban dianggap menciptakan hierarki religius, di mana yang mengenakannya dianggap lebih Islami, sok suci dan alim. Pemaksaan simbol ini sering memicu konflik antara kelompok tradisionalis dan modernis. Tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan Islam sering kali dihapus atas nama “pemurnian agama.”
Bergelar Kiyai, maka perbaikilah ampe-ampe surang pa’mai, tutur dan akur terhadap diri dan hirarki sebagai pencerah, bukan penceramah pencacah, nilai tersemat yang tidak harus memakai simbol, tidak perlu berharap lagi “mahkota”. Begitu juga jika berpakaian dengan jubah, seolah soleh, memajang berwibawa tetapi jumawah, apatahlagi saat memakai sorban, tidak harus lebih paling beriman.
Memahami sebuah informasi dalam bereaksi, memang kadang sering terjadi saling menjegal, dan saling membegal satu dengan lainnya. Itu biasa terjadi. Kulturasi yang kita anut tergelar. Namun nalar terkapar tanpa syarat oleh reaksi berlebihan saat mahkota Kiyai, jubah dan sorban menjatah manusia yang haus identitas pujian.
Di negeri ini, begitu candu pada hal-hal menurutnya baru, padahal sudah basi, mengagumi, dan bahkan hendak mengidam simbol dan keindahan semu. Padahal dia tahu rahasia di balik durian begitu lezat. Sambil mencampakkan buah yang lain. Tetapi dia tidak mau berproses membelah diri, membuka dan merasakan perihnya duri. Jubah tersemat di kepala, mahkota dirinya lenyap hilang, saat sektika karena serius membaca “bilang-bilang” (tasbih). Gelar kiyai terhampar bagai permadani merajai dalam kontestasi berburu jamaah cium tangan minta berkah, sorban mulai sekolah pahlawan berkorban aras nama agama identitas, berkoar-koar di atas trotoar.
Imajinasiku kembali liar, yang tadinya buyar. Hendak membubung menuju mahkota raya kemanusiaan telah hilang, teranggas pada orang-orang yang hanya butuh pengakuan, melompat pagar, bolos dari jati diri sesungguhnya.
Mahkota itu disematkan, bukan diburu dengan kesusu, ada memburu dengan cara kreatif, aktraktif, provokatif, inisiatif sendiri sampai hal yang primitif. Teringat dalam kisah tentang mahkota emas Kkerajaan Swedia (Konteks SejarahKriminal). Mahkota kerajaan dan bola dunia abad ke-17 milik Swedia pernah menjadi buruan pencuri yang menggondolnya dari Katedral Strangnas pada tahun 2018. Benda bersejarah bernilai tinggi ini kemudian ditemukan toh juga di tempat sampah.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply