Baskara baru saja mencicil teriknya. Saya membelah jantung Kota Bantaeng dengan roda dua butut bermuatan satu kardus buku. Arahnya ke selatan pinggiran kota. Persisnya di Perpustakaan Daerah Bantaeng.
Entah sudah berapa kali saya bertandang ke gedung suaka bahan bacaan ini. Dan, kedatangan saya kali ini, merupakan yang kesekian kalinya dalam rangka membawa wakaf buku-buku dari kisanak dan nyisanak.
Perpusda Bantaeng bergedung megah. Bangunannya menjulang dengan wajah elok, ruang-ruangnya tertata rapi, dan tata interiornya tampak menjanjikan. Ia seperti rumah besar nan disiapkan buat menyambut masa depan pengetahuan.
Namun, di balik segala kemegahan itu, masih ada rak-rak yang terasa lengang. Koleksi bahan bacaannya belum sepenuhnya memadai.
Padahal, Jorge Luis Borges pernah menabalkan ujar, surga mungkin berbentuk perpustakaan. Sebentuk ungkapan, memperlihatkan betapa perpustakaan bukan sekadar bangunan penyimpan buku, melainkan ruang tempat manusia bertemu dengan pengetahuan, imajinasi, dan kebijaksanaan.
Karena itu, kekuatan perpustakaan tidak hanya terletak pada gedungnya, melainkan pada kehidupan yang tumbuh di dalamnya: buku-buku tersusun di rak, serta perpindahan gagasan dari halaman ke kepala manusia. Sebab, buku selalu memiliki kemampuan melampaui zamannya sendiri. Ia dapat tinggal diam di rak, tetapi perlahan mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.
Kalakian, perpustakaan tanpa koleksi memadai, ibarat pelita kekurangan minyak. Cahayanya ada, tetapi belum cukup terang, guna menjangkau lebih banyak orang.
Persoalannya, penambahan koleksi bukan perkara mudah. Di tengah berbagai kebutuhan pembangunan daerah, anggaran pembelian bahan bacaan kerap menjadi sesuatu yang nisbi. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan. Akibatnya, perpustakaan sering berjalan dengan tambahan koleksi yang lambat, sementara kebutuhan masyarakat terhadap bacaan terus bertambah.
Di lapik inilah, keterlibatan masyarakat menjadi penting. Bahwa perpustakaan sejatinya bukan hanya milik pemerintah, melainkan rumah bersama bagi publik. Maka, merawatnya pun semestinya menjadi tanggung jawab bersama.
Salah satu jalannya, dapat ditempuh melalui gerakan wakaf buku.
Gerakan ini mungkin tampak sederhana. Tidak gaduh. Tiada pula menghadirkan seremoni besar. Namun, justru dalam kesederhanaannya, tersimpan daya yang panjang. Sebab satu buku yang diwakafkan dapat dibaca berkali-kali oleh banyak orang. Ia berpindah dari satu tangan ke tangan lain, beralas satu pikiran menuju pikiran berikutnya.
Carl Sagan pernah menyebut, “Books break the shackles of time.” Bahwa buku “mematahkan belenggu waktu”. Melalui buku, seseorang dapat berbincang dengan masa lalu, mendengar suara orang-orang yang telah lama tiada, lalu membawa percakapan itu ke masa depan.
Maka, wakaf buku sesungguhnya bukan sekadar menyumbangkan benda cetak ke rak perpustakaan. Ia serupa upaya memperpanjang umur pengetahuan.
Dalam tradisi kita, wakaf selalu memiliki dimensi dunia dan akhirat sekaligus. Ia memberi manfaat bagi kehidupan sosial, tetapi juga diyakini menghadirkan pahala yang terus mengalir. Dan buku mempunyai keistimewaan dalam hal itu. Selama ia kerap dibaca dan memberi manfaat, sepanjang masih ada orang yang tercerahkan oleh isi di dalamnya, maka nilai wakaf itu akan terus hidup.
Karena itulah, wakaf buku tidak menuntut seseorang menjadi kaya raya terlebih dahulu. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan berbagi. Satu orang menyumbang satu buku, yang lain menambahkan dua atau tiga buku. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit buku. Rak yang semula lengang mulai terisi. Buku pun saling himpit riang gembira.
Minda tentang wakaf buku ini sesungguhnya telah mulai bergerak di Perpustakaan Daerah Bantaeng. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah individu telah ikut berpartisipasi mewakafkan buku. Hasilnya perlahan mulai terlihat. Paling tidak, sekitar lima ratusan buku telah masuk menjadi tambahan koleksi perpustakaan.
Tentu jumlah itu belum besar. Namun, ia memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap buku belum benar-benar padam. Masih ada orang-orang yang percaya bahwa membaca tetap penting di tengah arus hiburan cepat saji dan budaya menggulir layar tanpa henti.
Karena itu, gerakan wakaf buku semestinya tidak berhenti pada lingkar kecil. Ia perlu diperluas agar keterlibatan masyarakat menjadi lebih massif. Sekotah anak negeri dapat mengambil bagian. Tokoh agama dan masyarakat, pegiat-komunitas literasi, ASN, pengusaha, hingga para perantau asal Bantaeng pun dapat turut serta. Tidak harus selalu buku baru. Buku lama yang masih layak baca pun tetap memiliki nilai manfaat.
Bayangkan bila setiap warga berkecukupan di Bantaeng, maupun warga dari negeri lain, menyisihkan satu buku saja setiap tahun untuk perpustakaan. Dalam waktu singkat, rak-rak itu akan penuh oleh beragam bacaan. Akan ada lebih banyak bocah, remaja, kaum muda, dan orang dewasa yang menemukan buku kesukaannya. Bakal lahir lebih banyak ruang dialog antara masyarakat dan pengetahuan.
Sebab, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Ia juga bertumpu pada kualitas manusianya. Dan manusia yang kuat lahir dari tradisi membaca yang hidup.
Taufiq Ismail pernah menaruh kegelisahan pada rendahnya budaya baca masyarakat kita. Dan mungkin benar, ketika masyarakat mulai menjauh dari buku, perlahan mereka juga menjauh dari kebiasaan berpikir.
Sesarinya, gerakan wakaf buku bukan hanya tentang membantu perpustakaan menambah koleksi. Ia adalah ikhtiar menjaga nyala pengetahuan, agar tetap hidup di tengah masyarakat. Separas jalan sunyi, mungkin tidak selalu terlihat gemerlap, tetapi darinya dapat tumbuh masa depan yang lebih tercerahkan.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply