Pikiran adalah tempat paling aman untuk bersembunyi. Namun, bagi seseorang yang tumbuh dengan rentetan trauma yang datang silih berganti, pikiran perlahan menjadi labirin yang penuh dengan alarm bahaya.
Setiap trauma, bukan sekadar ingatan buruk, ia adalah bata demi bata yang menyusun dinding anxiety disorder di sekeliling hidup kita adalah Gangguan Kecemasan atau kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan rasa takut, cemas, atau khawatir yang sangat kuat, berlebihan, dan menetap.
Kecemasan berlebih bukanlah sekadar rasa gugup biasa. Bagi saya, itu adalah kondisi siaga konstan sebuah mekanisme pertahanan diri yang malfungsi. Tubuh saya seolah-olah diprogram untuk terus menunggu “badai” berikutnya. Suara burung, suara cicak, suara ambulance, suara detak jam, sampai ketika seseorang yang menggunakan seragam tertentu atau ruangan gelap.
Trauma itu bisa memicu detak jantung yang tak beraturan dan napas dari berbagai perjalanan yang saya lewati telah merampas rasa aman saya, meninggalkan residu ketakutan bahwa dunia adalah tempat yang tidak ramah.
Namun, di tengah perjuangan saya menjinakkan badai dalam diri sendiri.
Ketika takdir pernah diperhadapkan pada sebuah tantangan yang lebih besar, fase itu saat kakak saya didiagnosis menderita Skizofrenia.
Menghadapi realitas yang pecah , melihatnya berjuang dengan delusi dan halusinasi, membuat saya tersadar akan satu hal dimana “jika kecemasan membuat dunia saya terasa sempit, maka skizofrenia membuat dunia kakak hancur berkeping-keping”.
Ada stigma berat yang menyertainya, sebuah isolasi sosial yang justru memperparah kondisinya. Di sinilah titik balik itu. Menyadari bahwa kami berdua, dengan diagnosa yang berbeda, sama-sama membutuhkan satu hal fundamental,lingkungan sosial yang sehat.
Keadaannya diperparah ketika kami kehilangan ibu beberapa waktu lalu, ini adalah hantaman paling telak bagi saya pun juga bagi kakak. Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan Keluarga, melainkan tempat kakak merasa paling aman dari dunia yang sering kali ia anggap mengancam. Seolah sudah memiliki firasat, sesaat sebelum berpulang, saat itu ibu membeli mie instan dalam jumlah yang sangat banyak. “Untuk persediaan kalau kakak lapar” sebuah isyarat detik sebagai pesan terakhirnya.
Tumpukan mie instan itu menjadi monumen bisu kasih sayang ibu yang luar biasa, namun bagi kakak, tumpukan itu juga menjadi pengingat yang menyakitkan akan ketidakhadiran sosok pelindungnya.
Sejak kepergian ibu, kakak merasakan dunia bagai dicipta untuk penderitaan, kebiasaan serta sebuah perhatian tak lagi hadir. Setiap kali ia melihat makanan, yang tersisa hanyalah bayang-bayang kesedihan yang mencekik. Mie instan yang seharusnya menjadi penyambung hidup, justru menjadi simbol duka yang mendalam.
Ia berhenti menyuap, seolah-olah menolak kenyataan bahwa tangan yang biasanya menyajikan makanan untuknya, itu kini telah tiada.
Di titik inilah saya menyadari bahwa memulihkan jiwanya tidak bisa dimulai dengan kata-kata saja, melainkan dengan membujuknya kembali untuk mau menerima kehidupan itu kembali. Saya harus mengubah ruang makan yang tadinya penuh duka menjadi tempat yang penuh penerimaan.
Perlahan menggantikan rasa sakit itu dengan kenyamanan baru dalam suasana hangat yang kami bangun bersama. Berusaha menciptakan suasana dan ekosistem kesembuhan, dengan menerapkan apa yang saya pelajari dari proses penyembuhan diri saya sendiri untuk membantunya.
Saya mulai dengan validasi tanpa menghakimi. Alih-alih membantah halusinasinya secara kasar, saya menciptakan ruang di mana dia merasa didengar tanpa merasa “gila”.sementara di sisi lain saya saja nyaris gila.
Mengalihkan suasana, mencoba rutinitas yang menenangkan, membangun struktur harian yang stabil, mengurangi rangsangan pemicu stres (overstimulasi) yang sering kali memicu kecemasan, serta sebuah episode psikotik beliau.
Yah. Seperti membuat semua ruangan di rumah menjadi lebih terang, menghindari suara burung dengan ruang tidur yang kedap suara, menyingkirkan jam dinding untuk menghindari suara detak jam, menjadwalkan kegiatan berenang setiap sore agar terbangun interaksi sosial yang sehat dengan orang tua atlet dan lainnya.
Namun yang paling berat adalah, butuh dukungan sosial yang inklusif. Saya memulai dengan mengedukasi keluarga inti seperti bapak, suami, dan anak saya untuk berhenti memandangnya dengan rasa kasihan atau ketakutan, melainkan memperlakukannya sebagai manusia yang sedang berjuang untuk utuh kembali.
Menariknya, saat saya sibuk membangun “benteng kesehatan mental” untuk kakak saya, tanpa sadar saya sedang menyembuhkan diri saya sendiri. Fokus saya beralih dari ketakutan internal menuju aksi eksternal yang penuh empati. Membantu dia menavigasi realitas, membantu saya menambatkan kembali diri saya pada masa kini sebagai grounding adalah serangkaian teknik praktis yang digunakan untuk “membumikan” diri kembali ketika pikiran mulai melayang, terjebak dalam memori trauma, atau kewalahan oleh kecemasan.
Dengan demikian membuktikan bahwa penyakit jiwa, baik itu gangguan kecemasan maupun skizofrenia, tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Melalui lingkungan yang suportif, penuh penerimaan, dan minim stigma, kesembuhan bukan lagi sekadar mimpi medis, melainkan sebuah kemungkinan nyata yang bisa dirajut setiap hari.
”Trauma telah merobek beberapa bab cerita hidup kita, tetapi kasih sayang dan lingkungan yang sehat memberi kita benang untuk menjahitnya kembali menjadi sesuatu yang baru.”
Tulisan ini saya buat untuk para penyintas Anxiety disorder di sekitar saya. Mari pulih bersama.

Guru di SMP Negeri 2 Eremerasa Bantaeng, sekaligus Coach Renang, Founder Ayra’S Swimming Club dan Seruni Swimming Lessons.


Leave a Reply