Dihargai Sebagai Juara, Dilupakan Sebagai Manusia

Seperti kita ketahui, penyumbang medali terbanyak di sebuah event perlombaan adalah olahraga terukur, seperti renang salah satunya.

‎Seorang atlet, terutama atlet renang di beberapa daerah di Indonesia, sejarahnya tidak pernah benar-benar ditulis di atas podium. Sejarah itu diukir di kolam yang dingin bersama senja yang kian memudar dan di dalam paru-paru yang terasa terbakar oleh oksigen yang menipis.

‎Bagi seorang atlet, hidup adalah sebuah repetisi yang kejam. Sebelum orang-orang sempat menyeduh kopi pertama mereka, sang atlet sudah menghabiskan ribuan meter kayuhan atau ratusan kali repetisi beban yang menghancurkan otot.

‎Proses latihan bukanlah sekadar aktivitas fisik. Itu adalah sebuah rangkaian kegiatan yang menyakitkan. Ada sebuah kesepian yang mendalam dalam setiap program latihannya. Di sana, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah suara napas yang memburu, bunyi percikan air beradu dengan bunyi sempritan dan detak stopwatch serta suara hati yang terus-menerus membujuk untuk berhenti.

‎Setiap hari adalah pertarungan melawan batas ambang rasa lelah. Seorang atlet belajar untuk mencintai cedera ringan seolah-olah itu adalah lencana kehormatan, menyembunyikan keram yang kerap mengintai jika “warming up”-nya kurang, dan menelan rasa lelah demi satu detik kemajuan pada capaian best time.

‎Mereka mengorbankan masa muda, masa di mana teman sebaya mereka sedang asyik bermain, sedang asyik bereksplorasi dengan identitas dan kesenangan, hanya untuk pengabdian pada sebuah disiplin yang tidak menjanjikan apa pun selain kemungkinan.

‎Di balik sosok yang tampak perkasa di arena perlombaan, terdapat support system yang kokoh yang bernama orang tua. Support orang tua adalah cerita yang paling jarang tersentuh kamera di tepi kolam, namun menjadi bahan bakar utama bagi mental juara sang atlet.

‎Bagi keluarga dengan ekonomi terbatas, mencetak seorang atlet adalah sebuah perjudian cinta yang luar biasa besar.

‎Bayangkan seorang ayah yang harus menyambi pekerjaan tambahan hanya untuk memastikan anaknya memiliki fastskin dengan hidrofobik yang layak agar bisa meningkatkan rasa percaya dirinya, yang nyaris saban waktu memberikan petuah, “Ayah ingin melihatmu berproses dengan baik.”

‎Dia menambahkan dengan lirih, “Jika hanya untuk memiliki piala, maka saya bisa membawamu ke toko piala tanpa harus bersusah-susah latihan.”

‎Kemudian seorang ibu yang dengan teliti menghitung asupan nutrisi di piring anaknya, sementara ia sendiri cukup kenyang hanya dengan mi instan dan telur. Dukungan mereka bukan hanya soal materi, tetapi tentang ketabahan melihat anak mereka pulang dengan tubuh lelah.

‎Ada beban psikologis yang berat di pundak sang atlet saat ia melihat tangan orang tuanya yang semakin kasar dan rambut yang memutih. Setiap kemenangan yang ia raih di arena sering kali dianggap sebagai cara untuk menebus “utang bakti” atas segala pengorbanan itu.

‎Di titik ini, olahraga bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah misi untuk mengangkat derajat keluarga. Orang tua adalah pendukung yang paling setia yang tidak pernah berubah, baik saat sang anak menjadi juara maupun saat ia terjatuh dan terlupakan oleh daerahnya sendiri.

‎Belum lagi di sekolah, yang seharusnya menjadi tempat merancang mimpi-mimpi, sering kali menjadi tempat yang canggung bagi seorang atlet. Di ruang kelas, ia sering kali diremehkan dan dipandang sebelah mata.

‎Ada stigma yang melekat bahwa “atlet itu lemah di otak”, “atlet itu pemalas”. Saat teman-temannya mendiskusikan teori fisika atau menghafal rumus kimia, sang atlet mungkin sedang berjuang menahan kantuk karena kelelahan fisik yang ekstrem setelah sesi latihan subuh. ‎Pihak sekolah sering kali bersikap ambigu.

‎Di satu sisi, mereka sangat bangga memajang foto sang atlet di baliho depan sekolah ketika ia berhasil membawa pulang piala tingkat nasional. Nama sekolah terangkat, akreditasi terbantu, dan reputasi glowing. Namun, di sisi lain, fleksibilitas terhadap proses belajar sang atlet sering kali minim.

‎Ia harus mengejar ketertinggalan pelajaran di malam hari dengan sisa tenaga yang hampir nol. Ia sering dianggap “anak emas” yang mendapat perlakuan khusus. Nyatanya, ia sedang memikul beban ganda, menjaga nilai akademik agar tetap lulus dan menjaga performa fisik agar tidak mengecewakan orang tua dan pelatih.

‎Sekolah menjadi saksi bisu betapa ia harus dewasa sebelum waktunya, belajar tentang manajemen waktu dan tekanan mental di saat remaja lain hanya memikirkan cinta monyet.
‎Lalu, di puncak produktif atau dalam istilah olahraga “peak performance”, datanglah masa kejayaan itu. Sebuah momen pendek di mana seluruh pengorbanan seolah terbayar lunas.

‎Saat itu, sang atlet adalah pahlawan daerah, dengan pundi-pundi medali yang dihasilkannya berpengaruh pada peringkat daerah dalam satu event kejuaraan. Sementara itu, para pejabat publik berebut berfoto bersama, merek-merek besar ingin wajahnya terpampang di papan reklame pusat kota, dan media massa membedah setiap inci kehidupannya dengan nada memuja.

‎Pada saat itu, ia merasa dunia ada di genggamannya. Ia merasa bahwa keringatnya selama bertahun-tahun akhirnya memiliki makna yang abadi.

‎Namun, satu hal yang rentan terlupakan adalah bahwa kejayaan seorang atlet dalam dunia olahraga, terutama dalam dunia renang, adalah sesuatu yang sangat abstrak.

‎Ibarat sebuah panggung yang lampunya bisa mati kapan saja. Derai tepuk tangan penonton pun hanyalah sesuatu yang kondisional. Mereka memujamu selama kamu bisa memberi mereka kemenangan. Di masa-masa ini, sang atlet sering kali dikelilingi oleh banyak “teman” dan pejabat pendukung yang hanya ada karena cahayanya sedang terang. Mereka menghargainya sebagai simbol kemenangan, bukan sebagai manusia.

‎Tragedi sesungguhnya berawal ketika tubuh mulai mengkhianati, entah karena usia yang tak lagi produktif atau mungkin sebuah cedera fatal yang menghancurkan ligamen dalam hitungan detik, yang mengakhiri karier dalam sekejap. Saat sang atlet tidak lagi bisa menghasilkan medali, dunia berubah menjadi tempat yang sangat dingin, sedingin kulkas 11 pintu di rumah-rumah elite.

‎Satu per satu teman pergi. Telepon dari para pejabat dan media berita berhenti berdering. Ia yang dulunya berjaya di atas podium kini harus berjuang sendiri melawan depresi dan kebingungan tentang masa depan yang terbayang suram. Ironisnya, masyarakat kita cenderung memiliki ingatan yang sangat pendek atau cenderung sengaja lupa dan melupakan.

‎Seorang pahlawan yang menyumbangkan emas lima tahun lalu bisa menjadi orang asing di pasar hari ini.

‎Tanpa jaminan hari tua yang layak, banyak atlet yang berakhir dengan bekerja freelance, tetapi free-nya kebanyakan karena tidak ada pekerjaan alias pengangguran atau bekerja WFC (Wasting Money From Cafe), alias ke kafe buat pesan kopi segelas, numpang Wi-Fi, pura-pura sibuk di depan laptop padahal sedang scroll dracin tentang rakyat jelata di zaman Dinasti Ming bereinkarnasi menjadi CEO di dunia modern.

‎Di sinilah letak ketidakadilan yang paling dalam terhadap seorang atlet. Kita menghargai hasil, tetapi kita buta terhadap proses dan manusia di baliknya. Kita memuja sang juara, tetapi kita meninggalkan sang manusia saat ia tak lagi bisa memberi kita rasa bangga yang murah.

‎Kiranya tulisan ini bukan sekadar catatan tentang kesedihan, melainkan sebuah seruan untuk nurani. Kita perlu mengubah mindset kita terhadap seorang atlet sebagai pelaku olahraga. Seorang atlet bukanlah mesin penghasil juara, biar reputasi daerah tampak glowing.

‎Sebuah perwujudan dari ketangguhan manusia, hasil dari didikan keras orang tua dan penyintas dari sistem pendidikan yang sering kali tidak ramah pada bakat selain akademik.

‎Sudah saatnya daerah memberikan penghargaan yang melampaui masa edar prestasi mereka. Dukungan untuk atlet tidak boleh berhenti saat mereka turun dari podium. Penghargaan yang mereka butuhkan adalah memastikan bahwa setelah semua keringat dan pengabdian itu, mereka memiliki kehidupan yang sukses dan bermartabat.

‎Kita harus belajar untuk mengingat nama mereka, bukan hanya saat lagu kebangsaan dialunkan di podium, tetapi juga saat mereka sedang berjuang di masa senjanya.

‎Karena pada akhirnya, saat semua piala dan medali itu mulai berdebu di lemari sudut ruang tamu dan sorak-sorai penonton telah lama hilang tertiup angin, yang tersisa hanyalah seorang manusia dengan bekas cedera di tubuhnya. Cedera yang ia dapatkan saat ia berjuang untuk memberikan kita sesuatu untuk dibanggakan. Dan bagi manusia seperti itu, dilupakan adalah penghinaan yang paling kejam.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *