‎Ritual Haji?

Sebuah penelusuran menunjukkan bahwa ibadah haji berakar pada kisah spiritual Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang diwariskan turun-temurun.

‎Unsur mengenai sejarah dan kisah terkait asal-usul istilah haji, menurut beberapa pendapat, merupakan napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail, yang diperintahkan oleh Allah Swt. untuk membangun Ka’bah. Ritual Sa’i.

‎Seribu tanya dalam benak, toh kenapa setiap perhelatan ini bagai agenda yang merangsang katanya atas nama ibadah, toh juga masih banyak masalah terkait proses pengurusan hingga pada kuota serta pernak-pernik persoalan biaya.

‎Katanya menuju ritual dan spiritual. Akan tetapi, juga masih bermasalah soal finansial. Rukun yang menjadi keluar dari hirarki, cenderung menjadi perdebatan dari segala peraturan yang mengikat serta memikat secara materi (bisnis). Seolah kata “bagi yang mampu”, pemahaman masyarakat kita cenderung dipaksa-paksakan.

‎Padahal ini hanya ritual, bukan soal surga dan ibadah, tetapi menemukan sebuah risalah tentang bagaimana ritual lari kecil antara Safa dan Marwah yang katanya cerminan keimanan atau kesabaran Siti Hajar saat mencari mata air.

‎Penelusuran juga mencatat sejarah haji di Nusantara yang mulai dikelola secara kelembagaan oleh kerajaan-kerajaan, yang menegaskan haji adalah peristiwa sejarah nyata. Dan dipaksakan gelar di abad ke-18 oleh kolonial untuk mengklaster, membagi strata sosial di Nusantara ini, yang jauh lebih paham tentang ilmu agama jauh sebelum Islam pula masuk.

‎Namun akhir-akhir ini, ironisnya sekarang menjadi perlombaan gelar haji, sampai menurut saya seolah dipaksa-paksakan demi status sosial. Itu menurut saya. Berharap tidak langsung menanggapi secara brutal tanpa nalar begitu saja.

‎Seribu tanya di benak saya, sampai saat ini belum terjawab, “kenapa seperti ada tembok ratapan mirip yang kita tuduh berhala pula bernama Yerusalem? Sembari menangis, berdoa yang katanya lebih afdal dan diterima secara langsung di tujuh lapis langit. Dan Tuhan seakan duduk di Arsy-Nya sebagai punya ruang dan tempat menerima, menggenggam doa, lalu kemudian sesegera mungkin berharap dikabulkan? Hem. Saya tertipu selama ini.

‎”Ini hanya ritual, tamasya berkedok ibadah,” Mubaraq menyambar begitu kalut menempati ruang pikiranku yang ditumbuk-tumbuk sebuah ajaran dogma yang kabur pula.

‎Letupan kecil di otak saya mengabaikan yang selama ini saya dengar, saya baca secara begitu saja, menerima asupan yang saya anggap gizi, ternyata hanya ilusi.

‎Hari dan bulan di mana seantero dunia berjubel, berbondong menuju Makkah penuh sejarah, walau masih banyak sejarah kelam yang kudu juga bisa menjadi referensi saya agar tidak kesusu dan keliru menangkap hikmah, makna, serta beberapa tipu daya slogan surban, songkok haji, jubah Makkah, tetapi belum juga “mabrur”.

‎Perayaan, segala persiapan. Dari syukuran hingga baca-baca, sampai dupa menghiasi persiapan perjalanan ritual. Di tengah gempita dan candunya umat, terkhusus di Indonesia, sebagai pendukung pundi cuan bagi negara Arab.

‎Di tengah kuota bermasalah dari tahun ke tahun hingga pada beberapa persoalan yang kini menjadi persoalan, dari mulai sewa gedung sampai proses pemberangkatan masih simpang siur, sembari beberapa menganggap ini karena sistem, manajemen, dan pemerintah yang mulai tidak becus. Sampai pada ulasan yang bagi saya receh dipersoalkan.

‎Saya hanya menyimak dan menikmati kekusutan, semrawutnya, sampai pada titik jenuh saya mencoba menuangkannya di satu narasi ini saja. Agar lebih tumpah dan butuh didebatkan secara rasional, bukan personal jika perlu. Di antara pemikiran, nalar kita masih berkarakter primitif.

‎Tidak pula harus menitipkan kesalahan misalnya ke satu pihak atau secara kolektif bernama “kesadaran” pada negara yang penganutnya jauh lebih menguasai seluruh dunia, terbesar penghuninya bernama orang mukmin (Islam). Tetapi persoalan kuota, aturan, sistem, manajemen masih saja bermasalah.

‎Mubaraq mengunci saya kembali agar lebih menahan, supaya tidak membenturkan sisi lain yang mereka yakini, dan apa yang saya pahami secara proses kesadaran itu hadir dan memetik satu per satu dari pohon dan buah yang jauh lebih jelas kematangannya.

‎Fenomena serial menuju ritual setahun ini menjadi pelik, persoalan anggaran yang menjadi ambigu dengan alasan dipangkas misalnya. Yang tadinya fasilitas dan standar pelayanan, yang menjadi bagian dari kelengkapan semua sudah tersedia, kemudian menjadi polemik. Pada akhirnya ritual ini menjadi tidak lagi khidmat menjalankan bernama ibadah.

‎Saya mencoba beralih ke sebuah kisah menggali sebuah fenomena nan klasik, yang kembali menambah kesadaran saya agar tidak terjebak pada polemik yang secara nomenklatur mulai ngelantur.

‎Misal kisah pertama yang katanya masyhur tentang seorang tukang sol sepatu dari Damaskus bernama Ali Al-Muwaffaq yang hajinya mabrur tanpa berangkat ke Baitullah karena keikhlasannya membantu janda miskin.

‎Walau mungkin dianggap saya mengintimidasi daya reaksi pembaca, kisah ini sering diriwayatkan sebagai kisah hikmah atau teladan, namun bukan berarti pula saya menganggap sejarah haji itu sendiri adalah dongeng. Di mana sejarah haji di Indonesia ini sarat teori di abad ke-18 tersebut penuh trik, intrik, dan politis.

‎Kisah kedua selain Ali Muwaffaq tertuang di laman NU Online, Kamis, 25 Mei 2023, dengan tema menarik bagi saya, mengingat musim serimoni haji kembali tahun ini, “Menjadi Haji Mabrur Tanpa Berangkat ke Tanah Suci”. Bernama Abdullah bin Mubarak menjadi tokoh inspiratif saat memasuki bulan.

‎Saat memasuki waktu pemberangkatan haji seperti saat ini, kisah tokoh Abdullah bin Mubarak menyeka kembali pengetahuan saya, yang selama ini menjadi diskusi saya dengan seorang karib. Demikian pula ceritanya akan sangat relevan dengan kondisi di Tanah Air yang mana antrean haji demikian panjang dan lama.

‎Kisah ini yang ingin disampaikan adalah bahwa melaksanakan ibadah, termasuk haji, tentu saja harus memenuhi persyaratan yang melingkupi. Akan tetapi, hal tersebut tidak serta-merta menjadi patokan utama, karena ada juga yang tanpa itu semua ternyata bisa mendapatkan gelar haji mabrur.

‎Dilaluinya sebuah perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke tanah suci sejenak terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai.

‎”Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?” tanya Abdullah memastikan.

‎”Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku.”

‎Ulama hadis yang katanya zuhud ini heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran. Dia segera pergi, tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

‎”Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka.”

‎Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

‎”Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu.”

‎Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

‎Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat seperti tradisi di negeri kita. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan orang-orang.

‎”Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini,” katanya meyakinkan para penyambutnya.

‎Di sisi lain, yang telah menunaikan ibadah hajinya yaitu kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain.

‎”Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?” Yang lain ikut menanggapi:

‎”Bukankah kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?”

‎Bersahutan, “Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku,” kata satunya lagi. Abdullah bin Mubarak semakin bingung.

‎”Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini.” Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara.

‎”Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.”

‎Ini sebuah kisah. Pertanyaannya, mampukah kita seperti Abdullah bin Mubarak dan Ali Muwaffaq? Atau palingan kita kemungkinan akan lebih mementingkan diri, strata, martabat untuk lebih memilih memenuhi ritual itu dibanding membantu perempuan dan keluarga yang papa itu.

‎Artinya ritual haji penuh hikmah tidak harus memenuhi syarat, isyarat, dan aturan dari yang berlaku, diatur secara administratif, pada akhirnya sengketa pelayanan di mana-mana. Anggaran jadi sasaran, ke mana pundi kuota itu berjubel dan tercecer? Lalu seenak jidat membuat aturan baru dengan dalih ini dan itu.

‎Saya hanya menyimak percakapan di beberapa tempat dan halaman. Tidak sok tahu untuk nyeletuk. Karena ada beberapa hal harus saya pertimbangkan. Seraya berharap ada solusi dari pihak terkait (pemerintah), semua berjalan sesuai agar cita jamaah hendak menemukan spiritual dalam sebuah ritual haji tahun ini.

‎Jangan karena demi mendapatkan gelar mabrur bergaun surban dan wangi parfum Makkahnya sahaja. Bukan karena air zam-zam. Membeli tasbih atau cerita yang basi sering saya dengar.

‎Akhirnya, di akhir narasi ini saya tuang sedikit kalimat: “Berhajilah, tapi jangan berharap pujian seolah melengkapi dan paling beribadah. Mabrur butuh tafakur, untuk tidak kufur sekadar menunaikan saja.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *