Menggenggam Tali Ilahi

Dan berpegang teguhlah kamu semua pada  tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Keberpalingan terhadap tali Allah, sudah dipastikan jauh dari keberkahan Allah Swt. Jika MeneNgok sejarah panjang manusia, maka, keteguhan keimanan akan diuji dari keterjagaan terhadap nilai-nilai fitrah yang berikan Allah kepada seluruh ciptaan-Nya.

Keteguhan atau sebaliknya keterpalingan terhadap tali Allah tidak lepas dari kehendak Allah Swt. Manusia akan beri petunjuk, bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjaga fitrahnya, sebaliknya, Allah berpaling terhadap mereka yang mengikuti ego dan hawa nafsunya yang tercela.

Hakikatnya, sifat dasar manusia tak pernah berubah. Dulu, hingga sekarang, manusia ada yang  sombong, ada rendah hati, ada yang dermawan, ada yang kikir, ada pula yang baik. Dan, tak sedikit juga yang jahat. Begitu seterusnya, hingga kiamat menyata.

Setiap individu memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Di antara peran manusia, yakni sebagai pemimpin. Tonggak-tonggak keseimbangan alam semesta yang menyebabkan turunnya rahmat Allah Swt, adalah seorang penguasa yang adil, sebaliknya,  pemimpin yang zalim, menjadi sebab turunnya murka Allah Swt.

K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, menabalkan, penguasa yang menerapkan hukum yang sama bagi rakyat dan juga bagi dirinya, serta tidak merasa dirinya memiliki keistimewaan hanya karena menempati posisi yang lebih tinggi, dialah sesungguhnya penguasa atau pemimpin adil.

Hingga akhir zaman, pertentangan kebaikan dan kejahatan akan terus berlangsung. Pertanyaan sering muncul, di mana keperpihakan kita terhadap keduanya? Bagi pengikut kebaikan sering dihubungkan, sejauh mana nilai perkhidmatan tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

Seorang pengkhidmat, sudah seyogianya menjadi top of mind, orang yang paling diingat, manakalah tetangga atau lingkungan sekitarnya membutuhkan bantuan. Di kehidupan sosial masyarakat, dialah yang paling terdepan menolong orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.

Pada konteks ruang sosial, K.H Mifta Fauzi Rakhmat, mengingatkan dalam perkhidmatan janganlah kita membedakan mereka berdasarkan rasa, agama, dan lain sebagainnya. Jangan batasi khidmat  kepada sesama muslim atau mukmin saja, tetapi, berkhidmatlah siapapun yang membutuhkan bantauan kita, meskipun berasal dari kalangan berbeda.

Bukankah cucunda Nabi, Imam Husain pernah berkata: inna hawa’ijan-nas (sesungguhnya kebutuhan manusia). Beliau tidak membatasi “manusia” pada kelompok tertentu, melainkan manusia secara keseluruhan.

Pada perspektif sejarah manusia, pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup manusia berujung pada kebaikan, atau dimenangkan oleh kebenaran. Hal demikan sudah menjadi hukum semesta. Tuhan yang maha agung, adalah sumber kebaikan dan kebenaran, maka, dengan sendirinya, nilai kebaikan dan kebenaran yang akan meliputi alam semesta.

Memilih pada poros kebenaran, sama beratnya memperjuang nilai kebenaran. Banyak orang gagal di medan tersebut, dan hanya sedikit yang konsisten dan persisten dalam kebenaran. Berada pada garis kebenaran memang berat adanya, tak cukup hanya memiliki pandangan dunia, lebih dari itu, di balik  tegaknya kebenaran, ada lorong sunyi, hanya mereka yang memiliki kekuatan jiwa berkorban tetap berada di jalan sunyi itu.

Banyak manusia memiliki pengetahuan atau perspektif kebenaran atau kebaikan adi luhung, sayangnya, kadang pengetahuan itu kandas pada tataran amalia. Pengetahuan tanpa praktik amalia, ibarat pohon tak berbuah atau orang yang sedang lumpuh. Pengetahuan sejati, sesungguhnya menggerakkan kesadaran manusia agar berjalan sesuai fitrahnya.

Berkorban, adalah puncak ikhtiar manusia, sebagaimana dulu, orang rela mengorbankan segalanya, karena dengan jalan itu, kebenaran akan tegak dari perbuatan zalim tirani. Sejarah manusia akan terus mengalami pengulangan peritiwa dari generasi yang berbeda, namun tetap dengan narasi yang sama. Definitnya, dari lintasan sejarah itu, merefleksikan di mana posisi  keberpihakkan kita, dan sejauhmana pengorbanan kita. 

Secara filosofis manusia diberi akal, sekaligus ego dan hawa nafsu. Sebagai khalifah, manusia dituntut meninggalkan ego dan hawa nafsunya yang tercela. Di awal penciptaan, sekolompok malaikat memperotes penciptaan manusia oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi. Pasalnya, malaikat tahu manusia hanya akan mengumbar nafsu dan kemurkaan di muka bumi. Sedangkan malaikat jauh dari sifat hawa nafsu dan kemurkaan itu.

Di balik sisi gelap manusia, Tuhan menyisipkan akal fitrahwi yang merupakan ruh penciptaan manusia. Ruh itulah esensi dari manusia . Tujuan perjalanan manusia tak lain kembali pada asal fitrah atau ruh. Perjalanan itu tercermin dari lintasan sejarah orang-orang mulia terdahulu.

Kisah sejarah manusia itu terekam, ketika kaum muhajirin hijrah ke Madina bersama Nabi saw. Pada waktu itu, warga Madina (Kaum Ansar) menyambut hangat rombongan Nabi. Perjalanan kaum Muhajirin bersama nabi, melambangkan kesadaran meninggalkan harta duniawi demi keimanan. Maka, dari rekam sejarah tersebut , boleh dikata, awal perjalanan manusia menuju ruh, yakni menanggalkan nafsawi, suci dari keserakahan dan kecintaan terhadap duniawi.

Dari sini asketisme bukan berarti kebencian kepada duniawi. Bukan pula kemiskinan yang dipamerkan, Apalagi sekadar retorika di mimbar-mimbar, yang diam-diam menyimpan kalkulasi . Asketisme adalah kejernian ukuran. Dunia tetap ada, tetapi tidak lagi lagi menjadi pusat. Emas tetap berkilau, tetapi itu tidak lagi menentukan arah mata, lebih-lebih orientasi hidup .

Terungku hubbud dunya (cinta dunia) hijab terberat dalam diri manusia. Kebanyakan manusia jatuh di lumpur nista ini. Keterikatan dan kesilauan materi, adalah sesuatu yang lekat dari kehidupan manusia. Tak dimungkiri, materi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Namun, sisi materi tersebut, hanyalah medium yang mengantar lebih jauh ke sisi esensi manusia, yakni ruh, fitrah manusia.

Manusia gagal karena tujuan hidupnya sebatas materi, padahal, apabila kita mengikuti atau berpegang pada tali Allah, manusia akan kembali pada fitrahnya. 


      


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *