Waima saya bukan seorang dai, tapi bersahabat dengan banyak dai. Entah itu dipanggil ustadz maupun kiyai. Seringkali diundang oleh elemen para dai, untuk berbagi minda terkait strategi dakwah sosial di era millenial. Dan, saya pun kerap menyodok, bagai stik yang menghamburkan bola-bola billiard, sehingga riuh percakapan.
Di banyak tempat, mimbar pengajian dan sejenisnya masih menjadi ruang yang paling didengar oleh masyarakat. Apa yang keluar dari mulut seorang dai, kerap lebih cepat mengetuk kesadaran publik dibanding poster kampanye, seminar panjang, atau seruan media sosial. Karena itulah, para mubalig sesarinya memiliki posisi penting dalam membentuk arah kebudayaan masyarakat, termasuk dalam perkara membaca dan pengetahuan.
Namun, di tengah kuatnya tradisi dakwah kita, ada satu hal yang terasa belum banyak disentuh: pentingnya wakaf buku untuk perpustakaan. Khususnya, Perpusda Bantaeng.
Padahal, masyarakat kita sesungguhnya memiliki semangat bersedekah yang luar biasa. Ketika ada pembangunan masjid, orang berbondong-bondong membantu. Tatkala pesantren membutuhkan uluran tangan, masyarakat bergerak. Saat panti asuhan memerlukan bantuan, pintu-pintu derma terbuka tanpa banyak pertimbangan. Serambai itu tentu merupakan kebajikan yang mulia.
Akan tetapi, buku sering kali tertinggal dalam kesadaran amal kita.
Sekadar menghangatkan ingatan, terhadap manifesto tipis-tipis tentang gerakan wakaf buku, tertuang dalam esai saya sebelumnya di Paraminda.com, Senin, 11 Mei 2026, berjudul “Perpusda Bantaeng: Wakaf Buku dan Jalan Sunyi Pengetahuan”.
Di Perpustakaan Daerah Bantaeng, sebuah gedung perpustakaan berdiri dengan wajah yang megah. Ruang-ruangnya tertata baik, suasananya nyaman, dan tampak disiapkan untuk menjadi rumah pengetahuan bagi masyarakat. Namun, sebagaimana banyak perpustakaan daerah lainnya, persoalan koleksi masih menjadi tantangan nyata. Rak-rak tertentu belum sepenuhnya terisi oleh bahan bacaan memadai.
Persoalannya, bukan semata karena tidak ada perhatian. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran. Di tengah banyaknya kebutuhan pembangunan, pengadaan buku kerap menjadi sesuatu yang nisbi. Akibatnya, penambahan koleksi berjalan perlahan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap bacaan terus bertambah.
Barangkali karena itulah, keterlibatan masyarakat menjadi penting. Dan di posisi inilah, peran para dai sesungguhnya dapat mengambil tempat strategis.
Mimbar-mimbar dakwah semestinya tidak hanya berbicara tentang sedekah yang habis sekali pakai, tetapi juga sedekah pengetahuan yang manfaatnya dapat hidup jauh lebih panjang. Sebab, satu buku yang diwakafkan ke perpustakaan dapat dibaca berkali-kali oleh banyak orang. Ia berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dari satu kepala menuju kepala berikutnya, lalu perlahan membentuk cara pandang manusia terhadap dunia.
Buku sesungguhnya memperluas pengalaman batin manusia. Melalui bacaan, seseorang dapat menyeberangi zaman, memahami kehidupan orang lain, bahkan melihat dunia dari sudut pandang yang sebelumnya tak pernah ia kenal.
Karena itu, wakaf buku bukan sekadar menyumbangkan benda cetak. Ia senapas ikhtiar memperpanjang usia pengetahuan.
Dalam tradisi Islam, ilmu selalu menempati kedudukan yang luhur. Wahyu pertama bahkan dimulai dengan perintah membaca. Dan sejarah peradaban Islam pernah berdiri tegak di atas tradisi literasi yang kuat: perpustakaan besar, penyalinan manuskrip, penerjemahan ilmu, hingga budaya membaca yang hidup di tengah masyarakat. Maka terasa agak ironis bila hari ini, buku justru belum memperoleh tempat yang cukup penting dalam gerakan sosial keagamaan kita.
Kalakian, mungkin sudah waktunya para dai di Bantaeng, mulai menyerukan bahwa wakaf buku untuk Perpustakaan Daerah Bantaeng, memiliki kemuliaan yang setara dengan sedekah pembangunan fisik keagamaan lainnya. Sebab, membangun masjid memang penting, tetapi mencerdaskan umat juga merupakan bagian dari ibadah sosial yang agung.
Bayangkan kisanak dan nyisanak, bila setiap pengajian di Bantaeng mulai disertai ajakan membawa satu buku, guna diwakafkan ke perpustakaan daerah. Coba imajinasikan, kalau saja peringatan Maulid, Isra Mikraj, Ramadan, atau tabligh akbar, selalu menghadirkan gerakan wakaf buku. Perlahan tapi pasti, rak-rak perpustakaan akan terisi, sementara pengetahuan mulai berkelintangan dari satu kepala ke kepala lainnya.
Gerakan seperti itu mungkin tampak sederhana. Tidak gaduh. Tak menghadirkan seremoni besar. Namun, justru dari kerja-kerja sunyi semacam itulah, peradaban sering bertumbuh.
Cicero telah menggerantak kesadaran kita: ruangan tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa. Karena itu, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan koleksi, melainkan ruang tempat masyarakat merawat ingatan, gagasan, dan masa depannya.
Sebab buku memiliki umur yang panjang. Sebuah buku agama mungkin menuntun seseorang memahami hidupnya dengan lebih jernih. Satu buku sejarah dapat menumbuhkan kesadaran tentang masa lalu. Novel mampu melatih empati. Buku pengetahuan mampu membuka jalan masa depan seorang anak negeri, yang sebelumnya tak pernah membayangkan, dunia lebih luas daripada batas negerinya.
Dus, wakaf buku sejatinya bukan hanya tentang membantu perpustakaan menambah koleksi. Ia separas cara merawat akal sehat masyarakat.
Imam Ali bin Abi Thalib ra. pernah bertutur, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Dan buku, pada akhirnya, merupakan salah satu cara manusia menjaga ilmu, agar tidak hilang ditelan zaman.
Di tengah keadaan seperti itu, dakwah tidak cukup hanya menyentuh hati. Ia juga perlu menerangi pikiran.
Karena itulah, gerakan wakaf buku untuk Perpustakaan Daerah Bantaeng, bukan semata urusan menambah koleksi perpustakaan. Ia sebentuk ikhtiar kebudayaan. Sebuah ajakan agar masyarakat Bantaeng ikut mengambil bagian dalam memuliakan pengetahuan.
Para dai menyerukannya dari mimbar, masyarakat menghidupkannya melalui wakaf buku, dan perpustakaan menjadi rumah bersama tempat ilmu terus bertumbuh.
Mungkin kerja ini memang sunyi. Tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Namun, dari halaman-halaman buku yang diwakafkan dengan ikhlas itu, boleh jadi sedang tumbuh masa depan Bantaeng yang lebih tercerahkan.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply