Category: Esai
-

Perempuan tanpa Kepala: Warisan Patriarki yang tidak Terlihat
Aku selalu merasa ada yang hilang dari diriku, jauh sebelum aku mampu menamainya. Rasanya seperti ada bagian tubuhku yang tidak pernah tumbuh, bukan tangan, bukan kaki melainkan kepala: ruang tempat pikiranku seharusnya bebas bernapas, mengalir, dan menentukan arah. Aku tumbuh sebagai perempuan yang lengkap secara fisik, tetapi ‘tidak utuh secara sosial’. Dan aku tidak sendirian.…
-

Sampulo Anrua Jarang: Sebuah Prosesi Budaya
Sampulo anrua jarang, iratemi loklorangna jannanga, nabae angtamaka ri ada 12. Nani erang akkusiang, surang akrapang-akrapang ri allo kalompoangna Bantaeng. Anre todo naku barani erok nikua, kapitu-pitu, mingka se’re pakkusiang ro kalompoangna angjari tanra se’rea pangadakkang ri butta majannanga. Na’rappungmo sekre loklorang jannang, risesena sekre pangadakkang. Langjari tanra bunganna ia naerang pasang angkongngia: “Nia’…
-

Menjadi Manusia Kaloli
Kamu adalah apa yang kamu makan. Isi piringmu mencerminkan kepribadianmu. Apa yang kamu makan mencerminkan siapa dirimu. Makananmu mengungkapkan karaktermu. Kepribadianmu tercermin dalam apa yang kamu pilih untuk dimakan. Tunjukkan makananmu, dan aku akan tahu siapa dirimu. Makanan tidak hanya mengenyangkanmu, tetapi ia mengungkapkan dirimu. Sederet kalimat-kalimat bijak tersebut, paling sering muncul di media sosial.…
-

Dari Pakaian ke Pikiran: Refleksi Hari Jadi ke-771 Kabupaten Bantaeng
Bukan kawan, bukan pula keluarga, melainkan Facebook, yang menyeret ingatan saya pada memori lima tahun silam, sebuah takarir pada foto saya berpakaian adat, terunggah tepat di Hari Jadi ke-766 Kabupaten Bantaeng. Isinya tak muluk-muluk, hanya sejumput catatan reflektif yang saya ketik-hapus sambil lalu. “Memakai pakaian adat adalah salah satu. Satu yang lain adalah melestarikan pikiran…
-

Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng: Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa
Kabupaten Bantaeng dikenal sebagai salah satu daerah agraris yang sarat tradisi dan kearifan lokal. Di balik lembah subur yang dikelilingi gugusan pegunungan, warga Bantaeng telah lama menanamkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai tersebut kembali menggema melalui tema Hari Jadi ke-771 Bantaeng, “Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng”, sebuah upaya menghidupkan kembali warisan…
-

Tongkat Naga dan Rumah Berpunggung Makhluk Mitis: Jejak Sunyi Tiongkok dalam Tradisi Kebangsawanan Bantaeng
Bantaeng sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, merupakan wilayah Nusantara yang tumbuh dengan sejarah pelayaran, perjumpaan, dan pertukaran budaya. Paling tidak, lewat kisah pelayaran Sawerigading yang berlabuh di Gantarangkeke dan penyebutan wilayah Bantayan dalam kitab Negarakertagama, karangan Empu Prapanca di era Kerajaan Majapahit, sudah memadai penandanya. Ombak yang menghampar dari Makassar hingga pesisir selatan…
-

Dua Kecamuk Amarah Menghidu Hari Jadi ke-771 Bantaeng
Kadangkala satu negeri mengulang hari jadinya, bukan dengan kesemarakan pesta semata, melainkan peristiwa penanda tak terduga. Penanda datang serupa interupsi, agar sekotah anak negeri mawas diri. Sebab, kehadirannya muncul dari arah tak disangka-sanga. Bantaeng, per 7 Desember 2025, sudah memangsa waktu tujuh abad lebih, persisnya 771 tahun. Peringatan hari jadinya tidak main-main. Pasti menghabiskan biaya…
-

Satu Guru Satu Buku: Kado Literasi Hari Guru SMP Negeri 3 Gantarangkeke
Dalam sebuah perayaan yang menggugah semangat literasi, SMP Negeri 3 Gantarangkeke sukses menggelar gerakan “One Teacher, One Fiction Book” atau “Satu Guru, Satu Buku Fiksi.” Kegiatan mulia ini dilaksanakan tepat pada momentum Hari Guru Nasional 2025, menjadi simbol nyata komitmen para pendidik untuk mencetak generasi pembaca yang kritis dan imajinatif. Inisiatif ini dipersembahkan sebagai “Kado…
-

Jalan Kesunyian
“Diamlah. Diam adalah bahasa Tuhan. Segala yang lain hanyalah terjemahan yang keliru.” (Rumi) Di tengah kebisingan dunia, banjir informasi, dan luapan kata-kata, memilih lebih banyak diam, dan meresapi makna dari seluruh linimasa peristiwa, adalah pilihan sadar. Keinginan menunjukkan eksistensi diri, kadang, kita lupa jati diri. sejenak, kita perlu mengosongkan diri dari perkara mengeluti jiwa. Interaksi…
-

Nalar Literat sebagai Fondasi Peradaban
Gedung kadang menjadi saksi atas hadirnya lintasan percakapan unik dan berdimensi ke masa depan. Mengimajinasikan masa datang, berlapik pikiran kekinian, usai mengeja minda masa silam. Eloknya lagi, bila percakapan itu dihelat oleh sekelompok kaum muda-mahasiswa, buat satu negeri, demi tanggungjawab selaku agen perubahan. Bangunan berupa kantor, di dalamnya ada satu sudut ruang, bernama Studio Mal…
