Category: Esai
-

Konsep Diri Pelajar Modal Utama Moderasi Beragama dan Indonesia Emas 2045
Dua pekan telah berlalu pasca kegiatan Kemah Moderasi Gelora yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 13-14 Desember 2025 ini sebagai rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama tingkat Kabupaten Bantaeng. Ada banyak rangkaian kegiatan yang berlangsung pada saat itu, di lokasi Kemah Moderasi tersebut. Namun, khusus Kemah…
-

Apakah Saya Murtad?
Mengawali narasi ini, izinkan saya jika tidak sekiranya meninggalkan agama saya, hanya sekadar mengucapkan, “Selamat Natal dan penuh keberkahan, tuntunan hidup dalam kasih-Nya, kepada saudara-saudara saya umat kristiani. “ Peran manusia diutus dan dijadikan penghuni dunia, alam semesta ini adalah mahluk dalam sejuta kasih, sebagai makhluk dan dinamakan hamba sahaya, bersosialisasi, berinteraksi, berempati, bukan antipati.…
-

Pelajar dan Literasi Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas 2045
Koridor dan ruang kelas di tengah hiruk-pikuk sekolah. Sekotah pelajar berjalan tergesa-gesa. Ransel bertengger di punggung berisi buku pelajaran. Sebagian sibuk bercanda, ada pula yang menunduk memeriksa layar ponsel. Dari mereka, tampak isyarat kecil, masa depan bangsa sebenarnya sedang menghidu mereka. Penuh energi, tanya, dan kemungkinan. Namun, muncul hal lain, sering luput dari sorotan: bagaimana…
-

Bencana Ekologis atau Dosa Ekologis
“Man Yasra Yahshud; Siapa Saja Yang Menanam Pasti Akan Memetik.” Siapa sangka peristiwa naas itu datang tiba-tiba. Beberapa dekade belakangan ini, negeri kita sering dilanda bencana alam. Meski pemerintah merencanakan upaya mitigasi, tetap saja, bencana itu datang memporak-porandakan pranata hayati. Di pengunjung November 2025, khalayak dikagetkan berita bencana banjir bandang, terjadi di wilayah Sumatera, khusunya…
-

Ketika Rasa Bersalah Menjadi Alat Politik
Ada satu emosi yang tampak pribadi, tetapi sesungguhnya mengalir dari struktur sosial yang lebih luas: “rasa bersalah“. Ia seperti bayangan yang mengikuti perempuan ke mana pun ia pergi: ke ruang kerja, ke ruang keluarga, ke ruang batin. Ia kita rasakan seolah muncul dari dalam diri, padahal sering kali ia dibangun dari luar. Nawal El Saadawi…
-

Ayah dan Rapor
Saya tergugat dan tergugah seketika, saat menerima pesan WhatsApp, bahwa hari penerimaan rapor harus dihadiri oleh ayah. Saya menatap Argan yang sudah siuman bergegas menuju kamar mandi. Sesaat kemudian Argan lengkap dengan seragamnya, saya sambil mengusapnya dan membujuknya. Maafkan saya, tidak harus hadir mewakili ayahmu. Dia mengangguk melepaskan senyuman seperti biasa, dan saya sangat paham…
-

Pemuda dan Sejarah: Refleksi Pemikiran Barlop
Suatu ketika, Prof. Dr. Baharuddin Lopa (sering disingkat Barlop) ditanya tentang kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda. Alih-alih menyoroti isu hukum atau korupsi yang menjadi bidang keahliannya, Barlop; sapaan akrab beliau, justru mengungkapkan kegelisahan yang tak terduga: generasi muda kehilangan arah karena tidak memahami sejarah bangsanya sendiri. Pernyataan ini mengejutkan, namun menyimpan makna yang dalam.…
-

Catatan Jujur dari Ruang Belajar Jurnalisme
Saya baru saja memulai langkah di dunia jurnalistik sebuah ruang yang sejak lama saya kagumi, sekaligus saya waspadai. Dunia di mana kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan tanggung jawab. Di sinilah niat diuji, integritas dipertaruhkan, dan kejujuran terus-menerus dipertanyakan. Seiring perjalanan itu, saya mulai menyadari satu hal sederhana namun menentukan: sikap orang terhadap saya berbeda-beda.…
-

Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga
Sekira 10 tahun belakangan ini, setiap bulan Desember, baik saat menjelang peringatan Hari Jadi Bantaeng, maupun sesudahnya, saya amat suka mengintimi perkara-perkara berdimensi Butta Toa sebagai julukan Kabupaten Bantaeng. Selain bersilaturrahmi dengan budayawan, tetua negeri, juga amat intens mengeja karya-karya literasi terkait masa silam Bantaeng. Bentangan masanya cukup panjang untuk dintimi, sejak zaman Orang Toala,…
-

Perempuan tanpa Kepala: Warisan Patriarki yang tidak Terlihat
Aku selalu merasa ada yang hilang dari diriku, jauh sebelum aku mampu menamainya. Rasanya seperti ada bagian tubuhku yang tidak pernah tumbuh, bukan tangan, bukan kaki melainkan kepala: ruang tempat pikiranku seharusnya bebas bernapas, mengalir, dan menentukan arah. Aku tumbuh sebagai perempuan yang lengkap secara fisik, tetapi ‘tidak utuh secara sosial’. Dan aku tidak sendirian.…
