Category: Esai
-

Puasa Transformatif
Nilai spiritualitas pada akhirnya akan diuji oleh realitas sosial: sejauh mana nilai yang kita anut memberi dampak sosial atas apa yang kita pelajari dan yakini. Tak terkecuali ibadah puasa yang sedang kita jalani. Pengalaman spiritual atas tempaan puasa tidak semestinya berhenti di ruang-ruang privat yang tak menyentuh kesadaran sosial. Sesungguhnya, nilai puasa akan bermakna jika…
-

Sebelum Keluar, Masuklah Dulu
Saat mencoba masuk, masih selalu ada keinginan keluar, padahal di luar berapa serangkai parsel-parsel. Saat keluar seakan menyembuhkan sebuah dahaga. Padahal jauh lebih ke dalam akan memberimu isyarat dari segala syarat. Suasana menyembur di langit-langit. Pada syahwat yang memuncah, di antara realitas dan imajinasi membawa saya berhalusinasi, dipenuhi rangkaian ekspestasi. Betapa saat sebelum keluar, masuk di…
-

Mencintai dalam Diam di Ujung KKN
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan langit senja yang tenang, sekelompok mahasiswa menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Mereka tinggal dalam satu posko sederhana—rumah batu dengan dinding yang mulai pudar warnanya—namun penuh dengan tawa, diskusi, dan cerita-cerita larut malam. Di sanalah kisah ini tumbuh: kisah tentang seorang laki-laki yang diam-diam jatuh cinta…
-

Mahkota Kiai, Jubah, dan Sorban
Betapa lugu dan gobloknya saya masa itu, mudah dibohongi, saat mendengar kisah kiai, orang pakai jubah dan sorban itu begitu keramat dan katanya sakti mandraguna. Memaksakan diri menerobos, berebutan cium tangan, minta berkah, berburu baca-baca sakti ilmu kanuragan. Pada akhirnya semua bagai memori keculungan, dan kebodohan saya yang sengaja dibodoh-bodohi, disuguhi doktrin. Dipaksanya saya disuapi…
-

Dengung Keberlimpahan
“Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025) Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia. Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup…
-

Mengapa Kita Berpuasa?
Setiap tahun, umat Islam memasuki bulan Ramadan dengan satu ritual utama: puasa. Secara lahiriah, puasa tampak sederhana, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Kendati demikian, penting kiranya bagi kita untuk mempertanyakan kembali, mengapa kita berpuasa? Apakah sekadar kewajiban ritual, atau ada dimensi yang lebih dalam…
-

Tarak Raga
“Wahai pemuja raga, cukuplah puasa sebagai interupsi, agar terbebas dari terungkunya.” (Tajali Daeng Litere, 26032025) Ujar itu terdengar mirip teguran lirih, tetapi mengandung kedalaman yang pelan mengendap. Ia tidak menyerang tubuh, tiada pula menafikan kebutuhan jasmani. Ia justru mengajak jeda—sebuah interupsi dalam arus pemujaan raga, nyaris tanpa sela. Maksudnya, puasa ditempatkan bukan semata sebagai ritual,…
-

Mencicipi Hidangan Ilahi
“Telah datang bulan puasa, panji Sang Sultan pun tiba. Tanggalkan tangan dari makanan, hidangan jiwa telah datang.” (Ghasal 892) Hari di mana kita akan mencicipi hidangan Tuhan telah tiba. Hari di mana Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluknya. Puasa di Bulan Ramadan tak sekadar ritual belaka, atau hanya menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah…
-

Dekolonisasi Ilmu Sosial Bukan Sekadar Omon-Omon
Kita orang-orang Timur kerap terpana—untuk tidak mengatakan inferior—jika bertemu orang-orang Barat. Di masa lalu, anak-anak seperti sedang melihat alien apabila bertemu manusia berkulit putih, bermata biru, dan rambut berwarna emas. Di emperan pertokoan, atau di pinggir jalan, atau di atas angkutan umum, atau di terminal pasar lokal, anak-anak merasa takjub dan heran, dan mengundang rasa…
-

Isilah Titik-Titik!
Sepele, kadang menganggapnya biasa saja, lagian apa yang harus saya isi dalam titik-titik itu sementara soal telah bocor di mana-mana, kejujuran terpenggal, dari topeng sosial dan kesialan yang sama-sama beriringan? Menganggapnya mudah dan menggampangkan. Dengan enteng, saya petenteng saja menyusuri lekuk dan riak keseruan kehidupan, yang semakin tampak anggun serta songongnya, ada yang secara cadas, ada…
