Sampulo anrua jarang, iratemi loklorangna jannanga, nabae angtamaka ri ada 12. Nani erang akkusiang, surang akrapang-akrapang ri allo kalompoangna Bantaeng.
Anre todo naku barani erok nikua, kapitu-pitu, mingka se’re pakkusiang ro kalompoangna angjari tanra se’rea pangadakkang ri butta majannanga.
Na’rappungmo sekre loklorang jannang, risesena sekre pangadakkang. Langjari tanra bunganna ia naerang pasang angkongngia: “Nia’ intu se’rea anara’ nanipaminro adaka’, rijammanga inne.“
Kata seribu “bede” dalam buku Negarakertagama–naskah istana Kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Prapanca tahun 1365. Nama Kerajaan dia sebut Bantayang, yang sampai sekarang masih sering digunakan, lalu beberapa unsur menjadikannya defenisi nama Bantayang, dengan sebuah cocoklogi bahwa pembantaian. Bagi saya itu hanya dialek, belum bisa menjadi dasar bagi.
Itu tertera dan disebut sebagai salah satu sasaran untuk memperluas hubungan pemerintahan dan perniagaan. Namun, bukti bahwa jejak pernah menapaki di tanah salewangang bernama Bantaeng ini masih menjadi perdebatan. Tetapi cukup menjadi referensi, penguat bahwa kerajaan Majapahit merekahkan dan menandai ketuaan kerajaan Bantaeng.
Apakah pula benar kata Dr. Muhammad Yamin, tahun 1254 Bantaeng sudah disebut sebagai salah satu daerah di timur Nusantara yang jadi sasaran perluasan hubungan pemerintahan dan perniagaan bagi Kerajaan Singosari yang dipimpin Raja Kertanegara di Jawa Timur (1254-1292).
Ada gelisah, di tengah peradaban, dari sekian catatan, artikel, narasi, jurnal menukil tahun 1254.
Lalu bagaimana penetapan tanggal 7 sebagai hari jadi Kabupaten Bantaeng? Saya merasa ini atau sekadar mencocokkan saja dari Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yaitu: Kare Onto, Bissampoe, Sinoa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang, dan Lawi-lawi.
Simbolik selanjutnya kenapa bulan 12 (Desember) dipilih, sebagai cocoklogi menghubungkan sistem adat 12 yang demokratis dalam mengambil kebijakan pada masa kejayaan kerajaan di Bantaeng.
Tidak ada secara hierarki, masih bersifat simbolik dari abad dan artefak yang di antaranya keberadaan para Jannang menandakan adat dua belas, sebagai parlemen dan elemen ketentuan memilih siapa pantas menjadi raja (Karaeng).
Sistem Adat 12 ini sepertinya menjadi penanda pula, pada pergolakan politik, budaya, dan masyarakat ditilik pada titik masa lalu, kini dan akan datang.
Ratemi nabae jarangna, mereka di atas kuda, dengan menggunakan passapu kebesaran khas Makassar, mengawali pawai budaya, dengan beberapa keterwakilan para tetua dan Jannang. Saya merasa terbawa ke masa kejayaan kerajaan masa itu.
Betapa kalompoangna menggugah, menggugat rasa, jiwa sebagai orang Bantaeng. Meski masih banyak yang merasa pintar, tapi tidak pintar merasa,
Itu sah saja, tetapi butuh argumentasi dan literasi lebih kuat membaca fenomena sejarah secara periodik, membidik dengan cara lebih terdidik. Bukan asal atau hanya mendengar dongeng semata. Sementara banyak jurnal, artikel tertera.
Tujuh ratus tujuh puluh satu, angka yang jitu atau sakral, sebagai bekal menuju tapal waktu sejarah dan fenomena klasik yang masih butuh penerjemah sejarah, secara akademisi, dan aksi nyata bukan duduk lama debat kusir dan diskusi panjang, tetapi minim eksekusi.
Dengan langkah kuda merekatkan ingatan kita semua. Membawa ke titimasa, menyusuri lorong waktu, suasana kerajaan dulu yang begitu agung.
Kini hadir meski tak sezaman, akan tetapi memberi pengingat dan mengonfirmasi tentang bagaimana para Jannang dulu menyatu menentukan sesiapa pemimpin (Karaeng), menggelar “cidong landang akrapang-rapang” untuk memilih dan menetapkan secara demokrasi untuk menentukan masa depan daerah dan kesejahteraan rakyat.
Teringat pula kekuatan ikrar dengan ungkapan sastra tertinggi terpatri, dengan lantang mengucap diantaranya: “Inai ampilari kananna, igitteka, inakkeka. Ka punna igitte inne tarangna selekna dalle mae rigitte angkangreki, puppusu sorokao tuju turunan, tuju pinangka’na tama tangke tama cu’la. Na punna inakke inne tarangna seleka akdalle Mae rinakke angkangrea puppuso sorokau tuju turunan, tuju pinangka’na tama tangke tama cu’la.”
Sarat filosofi dan kekuatan sumpah yang bukan sekadar. Tetapi tokdo pulina nikayya rupa tau, Tania tau-tau, mingka tau stojengna ia miantu anre napilari kananna (sumpah).
Setitik cahaya membasuh peradaban di perhelatan kebesaran berjuluk Butta Toa, yang saat ini pertama kali dua belas kuda dengan dua belas keturunan Jannang dan Gallarang mengawal peradaban. Sebuah hal bagaimana proses semua perhelatan yang dikemas secara apik dan epik, di antaranya pawai sampulo anrua jarang tersebut.
Sebuah tema yang memberi ilustrasi tanpa harus bertengkar dan ingkar, tetapi di sini bernama Festival Budaya Butta Toa ini, yang mengusung uraian kata deru tradisi dan mengemas menghantar masa lalu, kini, dan nanti. Itu bagi saya cukup mewakilkan secara generasi.
Sampulo anrua jarang, para penunggang kuda dengan gagah, bercampur haru nan bangga telah mewakili leluhurnya sebagai pemangku adat tertinggi, menandai sekian kesenjangan secara politik, struktur sosial, terbaca dari jejak-jejak keturunan yang dulu seperti tersekat, kini memenuhi ruang saat pemetaan secara konsep hari jadi, dikemas dengan tiga masa “masa lalu, kini, dan nanti.
Sebuah deru, menggugat sesiapa saja hadir, dengan ingatan, catatan, sampai pada percakapan di setiap sudut area perayaan hari jadi Bantaeng yang dikemas dengan konsep yang mewakili tiga generasi pula.
Bagai menapaktilas sekilas, mempertegas, dengan pintasan ruang waktu, ketika para “loklorang” Jannang membaur bersama, mengingatkan para leluhur mereka yang dulu pernah berada pada sebuah ritual Pangadakkang Ada’ Sampulo Anrua menentukan, memilih siapa yang patut jadi raja.
Dengan khidmat memandu kuda berpijak pada sumpah tubarania, meletakkan dasar dan hierarki yang kuat untuk menentukan masa depan di bumi butta salewangang, tanah bertuah yang peradabannya penuh kisah, sejarah dan petuah. Hadir menguatkan dan mengingatkan betapa kokoh seraya meletakkan nilai-nilai demokrasi yang sejak dulu telah ada, menopang kesenjangan sosial, atas nama rakyat sumpah Karaeng sesiapa melanggar akan “bassung” (mendapat petaka).
Hari jadi disuguhi berbagai ornamen dan dihadiri beberapa elemen setiap generasi, dengan secara tidak langsung teredukasi lewat sajian kali ini yang tidak seperti biasanya hari jadinya diperingati.
Prosesi hari kelahiran bernama Bantaeng kali ini, pasti memberi nuansa nilai, ada mengeja sebatas satu sisi saja, ada yang menilai sebatas seremonial, tetapi tidak sedikit mengapresiasi dan merindukan kembali suasana selama sepekan itu tidak terasa.
Begitulah adanya tidak harus memuaskan seluruh masyarakat Bantaeng, namun ada setandan rindu akan nuansa yang lebih berbeda kali ini, dari ritus, artefak, jejak megalitik dan tradisi berkelanjutan, hingga kekinian yang akan menjadi tonggak dan dasar hari ini, dengan mengambil nilai-nilai kearifan masa lalu, menentukan hari ini, dan hari ini akan menentukan masa depan.
Mengejewantahkannya tidaklah semudah yang kita kira, dan andai-andai saja. Tetapi mengajak semua elemen masyarakat dan komponen mengambil peran untuk sebuah hamparan dan harapan. Bahwa kita bisa dengan melangkah bersama menepis badai, membelah tantangan menuai prestasi.
Sampulo angrua jarang, mengusung tanda peradaban akan segera dimulai, dari hal kecil dan sederhana saja, dari hal paling pasti, dengan seksama kita menguatkan, mengurai benang sejarah, bukan asal sekadar, atau kita akan tertinggal di labirin zaman termangu menyaksikan peradaban lain telah menabuh genderangnya. Sementara kita masih bersengketa dengan hal receh dan sepele.
Akhirnya festival digelar penuh nuansa ini, seakan saya membuat perapian, membakar kemenyan, dupa, membubung mengepul ke setiap penjuru, sudut peradaban.
Sebagai bentuk penghormatan dengan appasili (menyajikan komponen ritual) di sore menjelang senja kala itu, mengelaborasi setiap elemen sederhana tetapi harus hadir melengkapi sesajian untuk sebuah suguhan dalam bentuk artefak naskah tulisan lontara yang terlupakan dan diabaikan. Alhasil bisa terpajang melengkapi artefak selain benda, tetapi ada naskah menguatkan.
Para leluhur menyaksikan, menembus sakralnya menurut para tetua. Sasana diubah dengan saling mengingatkan, menerima dan menguatkan.
Semua pada akhirnya pasti menjadi uraian dan evaluasi, mungkin saja beberapa terlupakan, dan kita bersama membenahi, tetapi dengan secara konkrit, alasan mendasar, sebagai bahan konstruksi, penguat, di tengah sejarah yang juga harus terkuak secara hati-hati, bukan asal kapiti-piti.
Mungkin masih penuh kekurangan kiranya, tidak juga anti kritik, kita duduk bersama membenahi, menuai dari beberapa masukan serta susulan, akan tetapi dengan alur secara etika, menguatkan secara data. Bukan sekadar narasi.
Yah. Mengurai benang kusut tidak semudah mengurai dan merangkai kata. Bukan pula semudah membalikkan telapak tangan, atau seenaknya selera membalikkan sejarah sebagaimana beberapa pembacaan sejarah, yang kadang juga masih butuh diterjemahkan, dengan riset, atau apalah namanya.
Tidak pula hanya cerita yang disadur, sampai pada kemerasaan kita yang kadang enggan untuk turun tangga, menaruh ego di tengah persemaian sejarah, budaya yang kian marak dibincangkan dan layak di semarakkan.
Sampulo anrua jarang, tersuguhkan, beberapa bertanya, dan mereka tergiring menjawab pertanyaan sendiri, melintasi masa yang pernah hadir menjadi kebesarannya para Jannang.
Seribu mata, sejuta bidikan kamera, menuju ke sampulo anrua jarang, dengan tegap, menyatakan kepada zaman yang mendera kini, hari dimana mereka menahkodai kuda dan barisan terdepan mengawal kirab parade kebudayaan dan deru tradisi bangkitnya peradaban di bumi butta toa Bantaeng disematkan dan dijulukinya.
Bagai persemaian cinta, rindu sesama loklorang para tetua mereka sebagai Jannang di masanya. Menguatkan diri, menyatukan visi budaya untuk kejayaan Bantaeng. “Na assamaturu, lama boya pa’laklangangna surang pakkusiangna, ri rapang-rapangna pa’reja-rejangna Allo kalompoangna Butta kabuyu-buyu, Butta solampamg-salampamg sanna salewangangna“.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply