Dalam sebuah perayaan yang menggugah semangat literasi, SMP Negeri 3 Gantarangkeke sukses menggelar gerakan “One Teacher, One Fiction Book” atau “Satu Guru, Satu Buku Fiksi.”
Kegiatan mulia ini dilaksanakan tepat pada momentum Hari Guru Nasional 2025, menjadi simbol nyata komitmen para pendidik untuk mencetak generasi pembaca yang kritis dan imajinatif. Inisiatif ini dipersembahkan sebagai “Kado Literasi dari Hati Guru” dan telah menjadi kegiatan utama dalam rangkaian peringatan hari guru di sekolah kami.
Semangat “Pelita Literasi Sejati”
Gerakan ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh seluruh staf dan pengajar. Setiap guru secara sukarela menyumbangkan minimal satu buku fiksi terbaik mereka, menghasilkan koleksi yang kaya dan beragam. Secara kolektif, sumbangan ini menambah lebih dari 25 judul buku baru, siap memperkaya khazanah ilmu di perpustakaan sekolah.
Kepala SMPN 3 Gantarangkeke, Sarini, S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah perwujudan peran guru yang sesungguhnya.
“Di hari istimewa ini, kita membuktikan bahwa Guru adalah Pelita Literasi sejati,” ujar beliau dalam sambutan penyerahan buku. “Melalui gerakan ‘Satu Guru, Satu Buku Fiksi,’ kita melakukan lebih dari sekadar mengajar, kita menanamkan benih imajinasi, empati, dan pengetahuan yang luas di hati peserta didik kita. Buku fiksi adalah pintu gerbang menuju dunia yang tak terbatas, dan guru adalah kunci untuk membukanya.”
Mengapa fokus pada fiksi? Lebih dalam, beliau berujar bahwa pemilihan buku fiksi sangatlah disengaja. Buku fiksi dinilai memiliki kekuatan unik untuk mengembangkan daya pikir kreatif, kemampuan berbahasa, dan kecerdasan emosional siswa.
Fiksi bukanlah hiburan semata, melainkan alat neurologis dan psikologis yang luar biasa. Ketika siswa membaca novel, mereka dipaksa untuk melihat dunia dari sudut pandang karakter lain. Proses ini melatih Theory of Mind (ToM), sebuah kemampuan memahami keyakinan, perasaan, dan niat orang lain, yang merupakan fondasi empati dan kecerdasan sosial.
Di saat yang sama, plot fiksi, konflik, dan plot twist secara alami melatih otak untuk memecahkan masalah, membuat prediksi, dan menganalisis motif. Ini adalah bekal berharga untuk mewujudkan dimensi Bernalar Kritis dalam Dimensi Profil Lulusan dalam Deep Learning.
Dengan kata lain, setiap buku fiksi yang disumbangkan adalah sebuah modul pembelajaran karakter dan pengembangan kognitif yang dikemas dalam bentuk cerita yang menarik.
Transisi dan Harapan Masa Depan
Acara penyerahan dilakukan secara simbolis dan penuh makna, di mana perwakilan guru menyerahkan tumpukan buku kepada kepala perpustakaan. Kegiatan ini merupakan puncak dari persiapan yang telah dilakukan, sejalan dengan program pemerintah dalam penguatan ekosistem literasi sekolah.
Kepala perpustakaan, Ayu Amaliah, S.Pd.,Gr, yang menerima koleksi baru tersebut, menyatakan optimisme, “Ini adalah sumbangan yang sangat berharga. Dalam waktu dekat, koleksi baru ini akan segera kami inventarisasi, diberi label khusus sebagai donasi di Hari Guru Nasional, dan dipersiapkan agar dapat segera diakses oleh seluruh siswa.”
“Kami yakin, variasi genre—mulai dari novel petualangan, kisah inspiratif remaja, hingga fiksi ilmiah sederhana—akan menarik minat baca siswa, termasuk mereka yang sebelumnya merasa enggan mengunjungi perpustakaan.” Jelasnya lebih jauh.
Komitmen Jangka Panjang untuk Budaya Baca
Kegiatan “Satu Guru, Satu Buku Fiksi” ini tidak hanya berhenti pada penyerahan buku, tetapi merupakan langkah awal menuju pembangunan budaya baca yang lebih intensif di sekolah. Pihak sekolah berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan program-program pendukung, seperti pojok baca tematik di setiap kelas, diskusi buku (book club) yang dipandu oleh guru, hingga lomba resensi atau ulasan buku fiksi.
“Kami ingin menjadikan Hari Guru Nasional sebagai momen refleksi dan aksi nyata. Kami ingin para siswa melihat bahwa guru mereka adalah pembaca yang antusias. Ini tentang memberi teladan,” tegas Asmaulhusna, S.Pd.,Gr, salah satu panitia kegiatan.
Langkah guru-guru di SMPN 3 Gantarangkeke adalah studi kasus sempurna tentang bagaimana teori pendidikan dapat diwujudkan secara praktis. Aksi “Satu Guru, Satu Buku” ini adalah perwujudan nyata dari kekuatan modeling dalam teori belajar sosial Albert Bandura. Remaja, terutama siswa SMP, cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika seorang guru menyumbangkan buku, pesan yang tersampaikan jauh lebih kuat daripada seribu nasihat, “Kami menghargai buku. Kalian harus menghargainya juga.” Para guru secara kolektif menjadi model peran literasi, mentransformasi lingkungan sekolah menjadi ekosistem yang menghargai pengetahuan.
Melalui inisiatif ini, SMPN 3 Gantarangkeke menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mari kita jadikan Hari Guru Nasional ini sebagai awal dari budaya baca yang lebih kuat di SMPN 3 Gantarangkeke tercinta, hingga anak-anak kita bisa memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa. Guru Hebat, Indonesia Kuat!

Seorang pendidik Bimbingan dan Konseling (BK) di SMP Negeri 3 Gantarangkeke.
Lahir di Bulukumba, yang dikenal sebagai Bumi Panrita Lopi. Aktif berorganisasi dan berkontribusi di Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Bantaeng.


Leave a Reply