Author: Ikbal Haming
-

Itami o Shire: Amegakure di Tanah Bantaeng
Sudah hampir sepekan, langit di atas kita enggan menyisakan celah bagi matahari. Awan gelap seperti wajah yang murung, dan langit seperti mata yang tak henti-hentinya menangis. Hujan turun dengan ritme yang monoton, dingin, dan melelahkan. Tak keluar rumah, membuat saya melankolis dan berpikiran aneh-aneh. Saya yang tumbuh dengan kisah-kisah fiksi, dengan cepat melempar ingatan pada…
-

Kemah Belajar 2026: Ketika Aksi Mendahului Pidato
Ahh, memang tak ada yang lebih indah dari aksi yang mendahului kata-kata. Konon, suatu hari seorang ibu datang menemui Mahatma Gandhi. Ia membawa anaknya yang gemar sekali makan gula. Sang ibu memohon, “Tolong nasihati anak saya agar berhenti.” Gandhi tidak serta-merta berbicara. Ia justru meminta ibu itu datang kembali dua minggu kemudian. Dua minggu berselang,…
-

Dari Sampah Puasa ke Puasa Sampah
Di pojok lapangan, saya temangu di tengah keriuhan bazar Ramadan. Lampu menyala terang seperti bintang jatuh, di panggung nasyid didendangkan, penjual makanan takjil berjejer memanjakan lidah. Namun, bukan syahdunya musik dan sedapnya aroma makanan yang mengusik perhatian saya, melainkan pemandangan yang tersaji di tanah berumput hijau. Tepat di sekeliling saya, di ruang publik yang seharusnya…
-

Gerakan Ayah Mengambil Rapor: Antara Budaya dan Kegagalan Negara
Enam bulan lalu, para ayah diminta hadir di hari pertama sekolah. Kini, di akhir semester, mereka kembali dipanggil melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) lewat Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025. Intinya sederhana: ayah diimbau datang langsung ke sekolah untuk menerima rapor anak. Bagi sebagian orang,…
-

Dari Pakaian ke Pikiran: Refleksi Hari Jadi ke-771 Kabupaten Bantaeng
Bukan kawan, bukan pula keluarga, melainkan Facebook, yang menyeret ingatan saya pada memori lima tahun silam, sebuah takarir pada foto saya berpakaian adat, terunggah tepat di Hari Jadi ke-766 Kabupaten Bantaeng. Isinya tak muluk-muluk, hanya sejumput catatan reflektif yang saya ketik-hapus sambil lalu. “Memakai pakaian adat adalah salah satu. Satu yang lain adalah melestarikan pikiran…
-

Tiga Luka Guru dalam Pidato Hari Guru
Akhir November telah tiba, kita merayakan lagi Hari Guru Nasional, lengkap dengan drama baris berbaris yang sesak, bersama gerahnya sinar matahari, dan pembacaan pidato seragam dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Seperti biasa, pidato Pak Menteri penuh bunga-bunga, optimistis, dan panjangnya bikin kaki pegal berdiri. Sayangnya, para guru setiap hari berhadapan dengan realitas yang sering…
-

Kolaborasi untuk Mimpi: Catatan Gelar Wicara Literasi
Delapan puluh tahun lalu, ketika Indonesia baru merdeka, tahun 1945, hampir 90% rakyat kita buta huruf. Hanya segelintir orang yang mampu membaca dan menulis, merekalah yang terpilih, para elite, beberapa di antaranya founding father/mother. Bapak ibu bangsa kita. Tak cukup seratus tahun, menurut data terbaru, tersisa 0,93 % atau sekitar 3 juta orang yang belum…
-

Yang Hilang dari Kurikulum Kita
Saya masih ingat betul hari itu. Sebelas anak duduk di depan saya, berjejer kurang rapi. Ada yang menatap lantai, lainnya gelisah duduk di kursi, menggosok-gosok pantatnya yang tidak gatal, seolah di sana ada kupon undian. “Ada yang sudah bisa membaca?” Saya bertanya seraya menulis di papan tulis. Satu anak mengangkat tangan. A, B, C, D,…
-

Demo Buruh dan Lima Tanda Kemenangan Locher
Langsung saja. Sebab tulisan ini agak panjang. Sudah lama tak ada kabar tentang demo buruh, tidak di jalanan kota, tidak di media cetak, tidak pula di dunia maya. Hening. Isu buruh seolah tenggelam. Dan kita hanya bisa menerka-nerka bagaimana nasib mereka hari ini. Apakah tuntutan mereka sudah terpenuhi? Atau justru sebaliknya. Seorang kawan bertanya perihal…
-

Demo Buruh: Belajar Berpihak dari Seekor Semut
Dulu, dulu sekali, di tempat nun jauh, di tanah para nabi, ada sebuah kisah yang terus hidup dalam ingatan banyak orang. Ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud, api besar menyala-nyala, melahap kayu bakar yang menumpuk tinggi, seolah bumi akan hangus karenanya. Semua makhluk ketakutan. Tak ada yang berani mendekat. Namun, di antara kerumunan itu,…
