Category: Esai
-

Krisan Putih Khatulistiwa
Pekan ini, ada dua perhelatan yang ingin saya hadiri dan kebetulan berlokasi di Jakarta. Reken-reken sebentuk healing, setelah hampir enam bulan lamanya beradaptasi dengan lingkungan baru. Pertama, mewakili Komunitas Rumah Koran, Kanrepia, Kabupaten Gowa pada ajang Indonesia Baik Award 2025. Kedua, berkunjung pada kegiatan Balai Bahasa yang dihadiri TBM Rumah Nalar, Kabupaten Bulukumba. Tenang rasanya…
-

Filsafat sebagai Etos Hidup di Zaman AI
Saya menulis esai ini dengan perasaan yang sulit saya gambarkan. Ada semacam getaran halus di dalam diri saya, seperti campuran antara kekaguman dan kegelisahan yang tidak mudah dijernihkan. Tahun ini, tepatnya Kamis 20 November kemarin, ketika dunia merayakan Hari Filsafat Sedunia 2025, saya ingin turut merayakan dengan cara yang paling dekat dengan diri saya yaitu…
-

Hari Guru?
Argan berusaha menutupi suasana hari- harinya, yang kadang menggerutu dan malas-malasan saat bangun pagi, mandi, sikat gigi, lalu berangkat ke sekolah. Pagi ini bangunnya telat, saat saya lupa bahwa hari ini sekolah diliburkan karena perhelatan seremoni bernama hari guru. Maka libur sehari dalam rangka memperingati hari guru katanya. Di sisi lain tegaknya pengetahuan, sejarah…
-

Salahkah Saya Menjadi Katolik?
Judul tulisan di atas terinspirasi dari pertanyaan salah seorang peserta yang beragama Katolik dalam kegiatan Short Course Moderasi Beragama yang digelar Fatayat NU Sidrap bersama Balai Litbang Agama Makassar pada 14–15 November 2025 lalu. Pertanyaan itu bukan sekadar mencari jawaban teologis, melainkan jeritan nurani dari luka yang telah lama terpendam. Pasalnya, sejak kecil, sang penanya…
-

Secarik Renungan tentang Perempuan, Fitrah, dan Dilema Zaman
Beberapa hari lalu, seorang sahabatku di Chicago bertanya, satu pertanyaan yang selalu mengusik perjalanan batinku: “Bagaimana sebenarnya peran perempuan ketika bekerja?” Pertanyaan itu tidak hanya teoretis bagiku, ia menyentuh pengalaman, luka, dan pemahaman yang kujumpai sepanjang perjalanan hidup. Pertanyaan itu mengembalikan ingatanku pada tokoh dalam “Menuju Jalan Pulang”, yang rumah tangganya perlahan retak karena kesibukan…
-

Telusur Leluhur dalam Kabut Sejarah
Seketika tabir terbuka, sebuah kabut seakan sengaja menutupi. Di sanalah saya hampir berhenti pada penyusuran yang sudah di tengah jalan? Agar tidak kabur, bagi saya masih butuh rekayasa lain untuk menjadi bahan telusur lebih mendekati, biar cukup dasar telusur sebagai penguat, serta pengikat. Bukan diajak merenung semata, dan diceritakan memaksa saya menerima begitu saja. Tidak juga…
-

Fatimah Az-Zahra dan Jejak Perempuan dalam Sejarah Pengetahuan
Ada satu pertanyaan yang sering kali muncul di benak saya ketika berbicara tentang sejarah Islam awal. Mengapa kita mengenal Fatimah az-Zahra lebih sebagai putri Nabi, istri Ali, dan ibu dari Hasan dan Husain tetapi tidak sebagai seorang tokoh intelektual? Pertanyaan ini biasanya membuat orang mengernyit. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak lazim, bahwa bukankah perempuan yang…
-

Fatimahisme: Semesta Gerakan Perempuan
Lahirnya satu lapik gerakan sosial, tak sedikit bertumpu pada seorang tokoh. Sederet contoh sebagai amsal: Marxisme, Leninisme, Marhaenisme, Saminisme, dll. Syaratnya, paling tidak, terdapat minda yang kuat, relevan dengan semangat zaman, diikuti oleh massa, bisa dipraktikkan, dan diakui oleh publik. Dan, penamaan disematkan oleh para pengikut, akademisi, kritikus sosial, ataupun masyarakat luas. Gedung warisan Kolonial…
-

Membincang Semesta Fatimah Az-Zahra
Ahad, 16 November 2025 di Gedung MULO, Makassar. Langit tampak bersih dan cerah, sejak pagi-siang, setelah sepekan terakhir hujan deras mengguyur Kota Makassar. Semesta mendukung kata orang. Karena akan membincang sesosok tokoh wanita agung dalam sejarah. Kegiatan yang berlangsung pada hari itu, bisa berjalan lancar tanpa terkendala cuaca. Meski sebenarnya semua juga tahu, kalau saat…
-

Mengulik Kembali Legenda Tunipelaka
Esai ini saya tulis sebagai refleksi pribadi terhadap kisah “Tunipelaka (Orang yang Terbuang)”, sebuah legenda yang saya tulis untuk mengenang keberanian perempuan-perempuan Sulawesi Selatan dalam melawan sunyi, adat, dan ketakutan. Bagi saya, kisah ini tidak berhenti di masa lalu, melainkan terus berdenyut dalam kehidupan perempuan masa kini yang masih mencari kebebasan dan makna. Setiap perempuan…
