Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng: Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa

Kabupaten Bantaeng dikenal sebagai salah satu daerah agraris yang sarat tradisi dan kearifan lokal. Di balik lembah subur yang dikelilingi gugusan pegunungan, warga Bantaeng telah lama menanamkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam.

Nilai-nilai tersebut kembali menggema melalui tema Hari Jadi ke-771 Bantaeng, “Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng”, sebuah upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang selaras dengan tema juang Serikat Petani Alami Butta Toa: “Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa”.

Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa tradisi tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu, tetapi harus menjadi energi untuk menghadapi tantangan modern. Di era ketika petani berhadapan dengan perubahan iklim, persaingan pasar, dan tekanan produksi, solidaritas menjadi modal terbesar.

Di tanah Bantaeng, Sulawesi Selatan, ada suatu deru yang tak pernah benar-benar padam. Deru itu adalah denyut nadi tradisi pertanian warisan leluhur: gemericik air irigasi kuno dan gemerisik padi yang tumbuh subur di tanah Butta Toa—tanah tua yang penuh sejarah.

Kini, di tengah gelombang modernisasi dan tekanan ekonomi global, deru tradisi itu kembali bangkit dengan semarak yang lebih keras dan lebih terarah. Kebangkitannya bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah gerakan kolektif yang teguh: bergerak bersama dalam satu komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa.

Budaya pertanian di Bantaeng telah dibangun oleh generasi yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan. Dalam tradisi setempat terdapat prinsip massappa siri’ na pacce, yang bermakna menjaga martabat serta rasa kebersamaan.

Menurut salah satu tokoh adat, Daeng Latippa (alm.), yang sering menjadi rujukan dalam aktivitas budaya, “Tanah bukan sekadar tempat menanam, tetapi amanah dari leluhur. Jika kita merawatnya dengan hati, maka ia memberi kembali dengan berkah.”

Pandangan inilah yang mengajarkan masyarakat untuk mengedepankan teknik pengolahan alami, meminimalkan penggunaan bahan kimia berlebih, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Filosofi ini kini menjadi pijakan Serikat Petani Alami Butta Toa untuk menghidupkan kembali pertanian ramah lingkungan.

Serikat Petani Alami Butta Toa hadir sebagai ruang berhimpun, belajar, dan bergerak bersama. Melalui serikat ini, para petani mendapatkan pelatihan mengenai pertanian organik, pembuatan pupuk alami, manajemen lahan, hingga akses terhadap pasar yang lebih adil. Seluruh gerakan dan capaian dari Serikat Petani Alami Butta Toa tidak terlepas dari dukungan lembaga mitra, yaitu Bina Desa.

Selaku Ketua Serikat Petani Alami Butta Toa, saya tegaskan, “Kami ingin petani kembali percaya bahwa mereka adalah penjaga kehidupan. Dengan bersatu, kami bisa mengangkat harkat petani dan memastikan keberlanjutan untuk anak cucu.”

Kita tidak hanya menanam benih di tanah, tapi juga menanam harapan di hati masyarakat. Mari kita rawat komunitas ini dengan semangat gotong royong. Mari kita jadikan setiap keringat dan tetes air hujan, sebagai saksi perjuangan menuju kedaulatan petani yang sejati.

Saya percaya, selama kita bekerja dengan hati, ilmu, dan kebersamaan, tidak ada yang mustahil bagi komunitas ini. Bersama, kita kuat. Bersama, kita mandiri. Bersama, kita berdaulat.

Serikat Petani Alami juga aktif menginisiasi kegiatan seperti ma’baca doangang (doa syukuran pertanian), kerja kolektif panen raya, hingga seminar pangan lokal. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat produksi, tetapi juga menghidupkan identitas Bantaeng.

Kebangkitan tradisi menemukan wadah nyata dalam Serikat Petani Alami Butta Toa. Serikat ini bukan sekadar organisasi, tetapi merupakan pengejawantahan dari semangat “bergerak bersama dalam satu komitmen”. Komitmen itu memiliki beberapa pilar utama:

Pertama, komitmen pada kearifan lokal dan pertanian alami. Kembali ke praktik pertanian organik dan ramah lingkungan yang selaras dengan siklus alam. Memuliakan kembali benih-benih padi lokal Bantaeng yang adaptif dan bergizi tinggi, serta meninggalkan ketergantungan pada input kimia yang merusak tanah dan ekosistem.

Kedua, komitmen pada kedaulatan dan kemandirian. Petani bukan lagi sebagai objek, tetapi subjek yang berdaulat atas benih, proses produksi, hingga pemasaran. Serikat berperan membangun sistem logistik dan pasar yang adil, menghubungkan hasil bumi berkualitas langsung ke konsumen melalui pasar tradisional, e-commerce, maupun konsep farm to table.

Ketiga, komitmen pada solidaritas dan gotong royong. Semangat sipakatau, sipakainge, sipakalebbi (saling memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan) dihidupkan kembali. Pengetahuan dan pengalaman dibagikan, risiko ditanggung bersama, dan suara kolektif diperkuat untuk berdialog dengan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya.

Keempat, komitmen pada regenerasi dan inovasi. Tradisi tidak dipertahankan dengan cara yang kaku. Petani muda diajak untuk terlibat dengan pendekatan baru, memanfaatkan teknologi tepat guna untuk monitoring lahan, pemasaran digital, dan pengolahan hasil pertanian. Deru tradisi dikawinkan dengan semangat inovasi.

Bangkitnya deru tradisi Bantaeng merupakan simbol bangkitnya kepercayaan diri petani. Dengan bersatu dalam Serikat Petani Alami Butta Toa, mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun jembatan menuju masa depan yang lebih sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan. Gerakan ini mengingatkan bahwa ketika budaya, komitmen, dan persatuan menyatu, maka lahirlah kekuatan yang mampu mengubah keadaan. Tradisi bukan sesuatu yang statis—ia hidup, tumbuh, dan memberi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Kebangkitan semarak deru tradisi Bantaeng melalui Serikat Petani Alami Butta Toa adalah sebuah narasi optimistis. Ini adalah bukti bahwa ketika sebuah komunitas bergerak bersama dengan komitmen yang satu—komitmen untuk melindungi tanah air, kearifan, dan masa depan—mereka bukan hanya sekadar bertahan, tetapi mampu berkembang dengan martabat.

Gerakan ini adalah seruan bahwa pertanian alami bukan langkah mundur, melainkan lompatan maju yang berkelanjutan. Bahwa di Buttatoa, deru mesin traktor mungkin terdengar, tetapi yang lebih menggema adalah deru tekad, deru kerja sama, dan deru kehidupan yang terus dipelihara dengan penuh cinta serta komitmen bersama. Bantaeng Bangkit, Butta Toa Berdaulat!

Lewat momentum Hari Jadi ke-771 Bantaeng, Serikat Petani Alami berharap bahwa tema hari jadi kali ini bukan hanya sebuah euforia semata, tetapi dapat kembali melekat dan terpatri dalam diri masyarakat serta diwujudkan dalam aksi nyata: menjaga ekosistem, gemar menanam, mengonsumsi pangan lokal, dan memberikan ruang yang lebih besar bagi produk pangan lokal sebagai ruang usaha para petani.


Comments

One response to “Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng: Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa”

  1. Asniati Ninra Avatar
    Asniati Ninra

    Hanya 1 kata…. KEREEN….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *