“Diamlah. Diam adalah bahasa Tuhan. Segala yang lain hanyalah terjemahan yang keliru.” (Rumi)
Di tengah kebisingan dunia, banjir informasi, dan luapan kata-kata, memilih lebih banyak diam, dan meresapi makna dari seluruh linimasa peristiwa, adalah pilihan sadar. Keinginan menunjukkan eksistensi diri, kadang, kita lupa jati diri. sejenak, kita perlu mengosongkan diri dari perkara mengeluti jiwa.
Interaksi dan pergaulan sosial tak bisa dihindari. Pola pikir dan tindakan, menunjukan di level mana kita berada. Pikiran menentukan takdir kita masing-masing. Ketika pikiran kita mengharapkan kebaikan, maka, kebaikan pun datang. sebaliknya demikian, kuburukan datang, jika pikiran sedari awal sudah buruk.
Interaksi sosial yang kita dialami dapat memengaruhi alam pikiran, sebaliknya, pikiran dapat pula mempengaruhi interaksi kita. Apa pun peristiwa yang dialami, sesungguhnya, memiliki makna di baliknya. Hanya saja, sejauh mana kesadaran kita mengambil ibrah di balik setiap peristiwa.
Upaya memunculkan kesadaran, menyerap makna setiap peristiwa, mungkin, perlu lebih banyak diam, ketimbang segera merespon segala peristiwa. Upaya diam sejenak, memberi kesempatan pikiran menerjemahkan hal-hal dialami. Sejalan dengan itu, mempercepat pula hadirnya kesadaran.
Berawal dari titik kesadaran, langka-langka kecil mulai kita putuskan, pertayaan yang sering muncul, ke mana tujuan kita? bagaimana memulainya? Dll. Orang yang berkesadaran tahu persis, arah tujuannya, dan waktu yang tepat untuk melangkah.
Di ranah sosial, setiap orang di beri ruang menempuh jalannya masing-masing. Kita perlu sejenak diam, agar arah dan tujuan hidup kita, benar-benar lahir dari kesadaran murni.
Kebebasan manusia menentukan arah hidupnya, tak lain adalah karunia Tuhan. Pengetahuan yang timbul dari kesadaran, tentu, tujuannya, tak lain kembali pada fitrah manusia. Kesadaran kembali kepada fitrah, mengharuskan kita menempuh jalan masing-masing. Upaya tersebut menentukan, sejauh mana kedekatan terhadap Sang Pencipta.
Setiap umat memiliki jalan masing-masing mendekat pada Tuhan. Spritualitas adalah pintu masuk menempuh jalan tersebut, jalan itulah yang ditempuh seorang pesuluk.
Setiap pesuluk akan menjalani jalan spiritulanya, melalui jalan yang telah dianugerahkan olehnya-Nya sendiri. Dari bermacam jalan spiritual tersebut, ada orang memilih lebih menjaga hubungan sosial dan amal saleh. Mereka merasakan kedekatan Tuhan, berkat perhidmatan, kebaikan dan interaksi yang baik dengan sesama.
Apa pula jalannya dengan pergorbanan. Mereka mendekatkan diri melalui penyerahan diri. Pengorbanan dirinya, baik jiwa maupun raga, mengatarkan mereka ke singgasana Tuhan. Penyerahan diri, salah-satu bentuk sikap penghambaan, bahwa, seluruh kehidupan mereka, hanya dipersembahkan Tuhan semata.
Ada lagi dengan jalan pengetahuan atau makrifat. Mereka berusaha keras menempuh jalan ilmu, pemahaman dan pencerahan batin. Mereka yang melakukan jalan ini, senantiasa melakakukan pembelajaran panjang, sehingga cahaya kesadaran murni, menjadi petunjuk menuju Tuhan.
Tak sedikit pula, mereka yang senantiasa melakukan, semisal dzikir dan ritual ibadah lainnya. Tak lain, agar hatinya selalu hadir dalam Nama-Nya. Doa dan zikir menunjukan kerendahan hati dan keinginan membersikan diri dari segala dosa. Sebagaimana hadist riwayat Nabi saw., menegaskan, doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.
Untuk menundukkan ego, serta mengendalikan diri, biasanya, para pesuluk menempuh jalan dengan “riyadhah dan tazkiyatun nafs”, semacam disiplin spiritual dan latihan jiwa. Melakukan puasa, salah-satu latihan meraih kesabaran. Umumnya, mereka ahli tasawuf, ahli suluk, mistikus atau darwis, melakukan hal ini.
Semua jalan spiritual yang terbentang luas, selaras dengan fitrah Ilahi. Semua itu sesuai dengan kemampuan dan potensi wujud batin masing-masing. Tak elok, memperdebatkan, apalagi mengkritik jalan spritual orang lain. Tuhan memberi kebebasan setiap orang mendekati-Nya. Menghormati jalan masing-masing, adab yang mesti dikedepankan.
Bahkan, Qur’an sendiri menegaskan, setiap orang atau umat telah ditetapkan takdirnya masing-masing. Tuhan yang Esa, namun, setiap orang menapaki jalannya sendiri, menuju puncak yang sama.
Namun demikian, diantara semua jalan menuju Tuhan itu, ada satu jalan yang dipercaya jalan paling luas, mudah dan terang, yakni, Tawakkul dan Taslim. Penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan. Taslim, yakni, tingkat penyerahan diri lebih tinggi, atau ibu dari jalan seluruh jalan spritual.
Sesungguhnya, seluruh makhluk ciptaan akan kembali pada Tuhan, namun tidak semua makhluk memiliki kesadaran seperti yang dimiliki manusia. kesadaran pada diri dan Tuhan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.
Menemukan kesadaran diri dan Tuhan tiada lain merupakan pilihan bebas manusia. Tuhan memberi akal, agar manusia berikhtiar memilih jalan sesuai kehendak Tuhan. Salah-satu upaya sering dilakoni para pesuluk yakni, sedikit bicara, sedikit makan dan sedikit tidur.
Lebih dalam lagi, kita mesti memilih jalan yang selaras dengan jiwa kita, perhatikan apa yang dikatakan hati, sebab, di situlah jalan dan keselamatan berada.
Apabila kita pecinta, temukan Tuhan melalui buah cinta, bila kita seorang penalar temukan Tuhan dengan buah hikmah. Begitu pun seorang pejalan, siap melangkah dan melampaui melalui buah keridaan dan ketundukan. Seluruh jalan itu, adalah rasa dalam diri masing-masing.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply