Author: Atte Shernylia Maladevi
-

Ketika Aku Bertemu Nawal El Saadawi
Ada buku-buku yang kita baca, lalu kita tutup, dan hidup berjalan seperti biasa. Ada pula buku-buku lain atau lebih tepatnya, pemikiran yang tidak sekadar mengubah cara kita membaca dunia, tetapi mengubah cara kita membaca diri sendiri. Pemikiran Nawal El Saadawi hadir dalam hidupku seperti itu: bukan sebagai teori, tetapi sebagai lampu yang menyorot ruang-ruang gelap…
-

Ketika Rasa Bersalah Menjadi Alat Politik
Ada satu emosi yang tampak pribadi, tetapi sesungguhnya mengalir dari struktur sosial yang lebih luas: “rasa bersalah“. Ia seperti bayangan yang mengikuti perempuan ke mana pun ia pergi: ke ruang kerja, ke ruang keluarga, ke ruang batin. Ia kita rasakan seolah muncul dari dalam diri, padahal sering kali ia dibangun dari luar. Nawal El Saadawi…
-

Perempuan tanpa Kepala: Warisan Patriarki yang tidak Terlihat
Aku selalu merasa ada yang hilang dari diriku, jauh sebelum aku mampu menamainya. Rasanya seperti ada bagian tubuhku yang tidak pernah tumbuh, bukan tangan, bukan kaki melainkan kepala: ruang tempat pikiranku seharusnya bebas bernapas, mengalir, dan menentukan arah. Aku tumbuh sebagai perempuan yang lengkap secara fisik, tetapi ‘tidak utuh secara sosial’. Dan aku tidak sendirian.…
-

Tongkat Naga dan Rumah Berpunggung Makhluk Mitis: Jejak Sunyi Tiongkok dalam Tradisi Kebangsawanan Bantaeng
Bantaeng sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, merupakan wilayah Nusantara yang tumbuh dengan sejarah pelayaran, perjumpaan, dan pertukaran budaya. Paling tidak, lewat kisah pelayaran Sawerigading yang berlabuh di Gantarangkeke dan penyebutan wilayah Bantayan dalam kitab Negarakertagama, karangan Empu Prapanca di era Kerajaan Majapahit, sudah memadai penandanya. Ombak yang menghampar dari Makassar hingga pesisir selatan…
-

Secarik Renungan tentang Perempuan, Fitrah, dan Dilema Zaman
Beberapa hari lalu, seorang sahabatku di Chicago bertanya, satu pertanyaan yang selalu mengusik perjalanan batinku: “Bagaimana sebenarnya peran perempuan ketika bekerja?” Pertanyaan itu tidak hanya teoretis bagiku, ia menyentuh pengalaman, luka, dan pemahaman yang kujumpai sepanjang perjalanan hidup. Pertanyaan itu mengembalikan ingatanku pada tokoh dalam “Menuju Jalan Pulang”, yang rumah tangganya perlahan retak karena kesibukan…
-

Mengulik Kembali Legenda Tunipelaka
Esai ini saya tulis sebagai refleksi pribadi terhadap kisah “Tunipelaka (Orang yang Terbuang)”, sebuah legenda yang saya tulis untuk mengenang keberanian perempuan-perempuan Sulawesi Selatan dalam melawan sunyi, adat, dan ketakutan. Bagi saya, kisah ini tidak berhenti di masa lalu, melainkan terus berdenyut dalam kehidupan perempuan masa kini yang masih mencari kebebasan dan makna. Setiap perempuan…
-

Menulis di Jalan Sunyi: Menjaga Obor di Tengah Badai
Menulis selalu saya bayangkan seperti berjalan di jalan sunyi dengan membawa obor kecil di tangan. Kadang anginnya terlalu kencang, badai datang tanpa permisi, dan langkah terasa goyah. Namun setiap kali obor itu hampir padam, ada suara halus dari dalam diri yang berbisik: ‘Siapa lagi yang bisa menjaga obor ini kalau bukan kamu?’ Dan di situlah…
