Kamu adalah apa yang kamu makan. Isi piringmu mencerminkan kepribadianmu. Apa yang kamu makan mencerminkan siapa dirimu. Makananmu mengungkapkan karaktermu. Kepribadianmu tercermin dalam apa yang kamu pilih untuk dimakan. Tunjukkan makananmu, dan aku akan tahu siapa dirimu. Makanan tidak hanya mengenyangkanmu, tetapi ia mengungkapkan dirimu.
Sederet kalimat-kalimat bijak tersebut, paling sering muncul di media sosial. Saya pun mengumpulkannya dalam satu paragraf, disebabkan setelah bertandang ke Festival Butta Toa Bantaeng, 3-7 Desember 2025, berpusat di Pantai Seruni Bantaeng, bertemakan “Bangkit Semarak, Deru Tradisi Bantaeng”. Apa passalana? Nasaba’, salah satu itemnya, menyajikan aneka kuliner, mulai dari makanan berat ataupun ringan, hingga minuman panas maupun dingin.
Salah satu makanan khas Bantaeng yang difestivalkan bernama Kaloli plus gagape, dan variannya. Bahkan, Kaloli sendiri mendapat keistimewaan dalam helatan, bertajuk “Festival Kaloli”. Bila diurut ke belekang, Festival Kaloli sudah memasuki jilid-4. Pertama kali dihelat pada 6 Desember 2021, sebagai rangkaian Hari Jadi ke-767 Bantaeng. Festival Kaloli, sejak mula digawangi oleh Dinas Parawisata Bantaeng selaku penanggung jawab.
Merujuk pada buku, Bantaeng Satu Negeri Seribu cerita, salah seorang penulis, Wahyu hidayat, menorehkan judul, “Kaloli: Kuliner yang melegenda dan Simbol Kebersamaan”, mendedahkan sejumput minda, bagaimana Kaloli dibikin dan apa makna filosofisnya. Bahwa, butuh ketelatenan menggulung satu demi satu daun inru atau aren. Ujung daun yang diikat, menghasilkan bentuk menyerupai passapu, sejenis penutup kepala khas suku Makassar-Bantaeng.
Cukup lama memangsa waktu buat mematangkan butir-butir beras dalam gulungan daun. Meski proses pembuatannya amat sederhana, rasanya pun nyaris hambar. Namun, tertolong oleh aroma daun pembungkus, meringsek masuk ke dalam butiran beras yang telah menjadi nasi. Aromanya pun mewangi secara alamiah, berkat daun selimut daun aren. Intinya, baik proses pembuatan maupun rasanya: sederhana. Sari diri sebuah Kaloli adalah kesederhanaan.
Nah, bagaimana jikalau sari diri Kaloli menyata selaku metafora, buat menjadikan jati diri manusia Bantaeng yang termanifestasi dalam satu hajatan festival? Selaku pegiat literasi yang suka menggali kearifan lokal Bantaeng, guna mengaktualkan dalam spirit mengurus negeri, tak mengapa bila saya dedahkan dalam bentuk gejala paradoks: antara kesederhanaan dan kemewahan, bersetubuh dalam satu panggung festival.
Ada saat-saat dalam hidup, perlu menatap sesuatu yang sangat sederhana, guna memahami diri. Tiada perlu diterungku kerumitan teori atau keruwetan simbol-simbol besar yang sering kali hanya menambah kebisingan. Cukup seikat Kaloli—beras yang dibungkus daun aren, dimasak tanpa bumbu, tanpa polesan, tanpa klaim apa-apa—untuk mengingatkan diri, selaku manusia Butta Toa Bantaeng. Kaloli tampak seperti makanan, tak punya ambisi untuk tampil, tidak berniat membuat siapa pun berdecak kagum. Namun, justru dari ketidakpura-puraannya itu, ia menyimpan pelajaran tentang hidup yang pelan, jujur, dan apa adanya.
Kaloli tidak lahir dari resep yang muluk. Ia lahir dari tangan-tangan yang sabar: menggenggam beras, memadatkannya perlahan, melipat daun aren, lalu menunggu api bekerja. Tidak ada bagian dari proses itu yang spektakuler. Semuanya biasa saja. Dan, justru karena itulah ia menjadi pengingat, sebagian besar pertumbuhan manusia tidak pernah dramatis. Yang membuat diri matang adalah proses diam: kesabaran yang kecil, kerja yang senyap, dan ketekunan yang sunyi. Menjadi manusia ala Kaloli berarti memahami bahwa hal-hal yang benar-benar penting tidak perlu menunggu panggung.
Aroma samar Kaloli—campuran daun aren dan uap panas—menjadi metafora bagi Manusia Kaloli yang lama dikenal bersahaja. Mereka tidak menyembunyikan siapa diri mereka di balik bumbu-bumbu wacana. Mereka tampil dengan rasa asli: jujur, tangguh, dan tidak banyak bicara. Namun, zaman berubah. Dan perubahan itu, sering kali tidak memberi waktu untuk menimbang ulang: apakah yang hilang dari diri? Apa sebenarnya yang sedang diambil alih oleh rutinitas baru?
Kiwari, ketika banyak hal diukur dari tampilan luar, Kaloli terasa seperti tamu dari masa sebelum dunia menggilakan pencitraan. Ia berdiri sebagai kontras dari realitas Butta Toa hari ini, yang tampaknya mulai tergoda oleh gemerlap: foto-foto yang dipoles, gaya hidup yang diburu demi dilihat, acara-acara yang mengutamakan seremonial daripada substansi. Diri sedang memasuki zaman, tatkala keaslian perlahan tersingkir oleh keinginan tampil “wah”. Bahkan, ketika tidak ada sesuatu yang benar-benar perlu diwahkan.
Fenomena ini tampak dari cara sebagian orang memandang kehidupan: seolah nilai diri terletak pada apa yang bisa dipamerkan. Gedung megah harus terlihat lebih megah, acara harus lebih ramai, seremonial harus lebih meriah, dan wacana harus berbunyi lebih keras. Padahal, pada titik tertentu, glamor hanya menjadi selimut halus, buat menutupi kekosongan makna. Ketika kesederhanaan dianggap kuno, diri boleh bertanya: apa yang sebenarnya sedang dibanggakan?
Kala orang mulai berlomba membuat citra, Kaloli hadir sebagai kritik yang diam. Ia tidak butuh panggung, tidak butuh pujian. Dan justru itu membuatnya kuat. Kaloli tidak sok menjadi apa pun selain dirinya sendiri. Sementara sebagian orang, justru terjebak pada perlombaan menjadi versi diri yang ingin dilihat orang lain. Foto indah menggantikan kerja baik. Narasi dramatis menggantikan kenyataan sederhana. Dan, Butta Toa pun perlahan berubah menjadi ruang, di mana orang lebih sibuk memoles kulit luar daripada merawat inti.
Padahal, jika diri kembali ke cara Kaloli dibentuk, ada pelajaran tentang keseimbangan yang tidak bisa diabaikan. Beras dalam bungkus daun itu tidak boleh terlalu padat—nanti ia keras dan tidak enak dimakan. Ia juga tidak boleh terlalu longgar—nanti ia hancur setelah masak. Hidup pun demikian. Terlalu mengejar glamor, diri akan keras pada diri sendiri. Terlalu longgar dan ikut arus, diri akan mudah hancur oleh tekanan. Kaloli mengajarkan agar kita menemukan titik tengah: cukup padat untuk kuat, cukup longgar buat bernapas.
Dalam keramaian zaman penuh pencitraan, Kaloli seolah berbicara dengan bahasa sederhana: bahwa keaslian merupakan kekuatan yang semakin langka. Diri sedang dibanjiri oleh ilusi-ilusi baru tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan takaran hidup, kemudian menjadi standar baru, tanpa pernah benar-benar diri sempat memilih. Ketika diri lebih sibuk menjadi “tampilan” daripada menjadi “manusia”, maka perlu ada sesuatu yang mengingatkan diri, agar kembali ke tanah, ke akar, ke hikmah sunyi. Kaloli serupa pengingat itu.
Menjadi Manusia Kaloli bukan berarti menolak perubahan. Bukan pula berarti anti-kemajuan atau anti-kemegahan. Menjadi Manusia Kaloli berarti memahami kemegahan tiada guna, bila kehilangan otentisitas. Pencitraan tidak bernilai, kalau tidak didukung kerja nyata. Glamor akan pudar, tetapi ketulusan akan bertahan. Hedonisme hanya memberi rasa sesaat, tetapi kedalaman hidup lahir dari kesederhanaan yang dirawat.
Simpelnya, Manusia Kaloli sebentuk manusia yang memilih kejujuran sebagai rumahnya. Ia tidak menolak zaman, tetapi tidak pula larut dalam banjir kepalsuan. Ia bekerja dengan tenang, menunggu matang berbekal sabar, dan membiarkan proses membentuk dirinya tanpa perlu memamerkan api yang menggodoknya. Dan, dalam dunia yang semakin bising pencitraan, mungkin justru Manusia Kaloli-lah yang dibutuhkan: manusia yang utuh, kuat, sederhana, dan tidak kehilangan dirinya sendiri.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply