Aku selalu merasa ada yang hilang dari diriku, jauh sebelum aku mampu menamainya. Rasanya seperti ada bagian tubuhku yang tidak pernah tumbuh, bukan tangan, bukan kaki melainkan kepala: ruang tempat pikiranku seharusnya bebas bernapas, mengalir, dan menentukan arah.
Aku tumbuh sebagai perempuan yang lengkap secara fisik, tetapi ‘tidak utuh secara sosial’. Dan aku tidak sendirian.
Di banyak budaya, juga di tanah kelahiranku, perempuan sedari kecil diajarkan untuk menganggap kepatuhan sebagai kebajikan, kesunyian sebagai keanggunan, dan pengorbanan sebagai identitas.
Apalagi di lingkungan keluarga bangsawan, suara perempuan nyaris tidak didengar, sesuatu yang tidak penting. Bahkan untuk menyuarakan ketidaksetujuan akan sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Untuk sekadar berkata “tidak, saya tidak mau” atau “saya tidak setuju” bagi seorang perempuan adalah hal langka.
Kasus perjodohan antar keluarga bangsawan adalah sesuatu yang diatur oleh adat. Harus dari keluarga yang sederajat, dengan mahar dan uang panai‘(uang belanja untuk keperluan pesta perkawinan) dalam jumlah banyak seolah perempuan adalah barang yang layak untuk diperjual-belikan oleh adat. Belum lagi jika mahar dan uang panai’ disbanding-bandingkan dengan perempuan lainnya, seolah perempuan adalah komoditas yang pantas untuk dipajang dalam etalase.
Dalam diam, kepala perempuan dipotong secara simbolik, bukan oleh pisau, tetapi oleh “nilai”, “doktrin”, “kebiasaan”, dan “kata-kata lembut yang terdengar mulia” namun sesungguhnya membatasi.
Nawal El Saadawi pernah menulis: “They have reduced women to bodies without minds”. (Mereka telah mereduksi perempuan menjadi tubuh tanpa pikiran).
Dan kalimat itu memukulku dengan kebenaran yang telanjang. “Perempuan yang Dibentuk Menjadi Tubuh Saja“.
Sejak kecil kita diberi pesan yang halus namun tegas: jadilah cantik, bukan kritis; jadilah patuh, bukan ingin tahu; jadilah baik, bukan berani. Tubuh kita diperhatikan, gerak-gerik kita diawasi, aurat kita diatur, kecantikan kita diukur, langkah kita ditentukan. Sementara kepala: pikiran, pertanyaan, keinginan, ambisi, diperlakukan seolah-olah milik orang lain.
Perempuan dibuat menjadi ‘tubuh’ yang harus dijaga, dipoles, ditata. Tetapi pikirannya? Itu dianggap tidak penting, tidak valid, atau justru berbahaya.
Di sinilah mekanisme sosial bekerja: perempuan boleh tumbuh, tapi tidak boleh menantang; boleh bersuara, tapi pelan saja; boleh bermimpi, tapi jangan yang terlalu besar; boleh berpikir, tapi jangan berbeda.
Pelan, tanpa terasa, kepala perempuan dicabut dari tubuhnya, bukan oleh laki-laki saja, tetapi oleh seluruh struktur yang mendidik laki-laki dan perempuan dengan cara yang sama. “Kepala yang Diputus dengan Pujian“.
Ada kalimat-kalimat yang terdengar indah, tapi sebenarnya mematikan:
“Perempuan itu harus sabar.”
“Perempuan yang baik itu tidak banyak bicara.” “Jangan keras kepala, nanti lelaki menjauh.” “Ikuti saja, jangan membantah.”
“Jangan egois, pikirkan orang lain dulu.”
Kata-kata itu kita terima melalui ibu-ibu kita, yang juga menerimanya melalui ibu-ibu mereka. Warisan yang dipoles dengan cinta, namun tetap saja warisan belenggu.
Nawal mengatakan: “The most dangerous enemy of women is the system that teaches them to obey.” (Musuh paling berbahaya bagi perempuan adalah sistem yang mengajarinya patuh). Dan musuh itu tidak tinggal di gedung-gedung kekuasaan; ia tinggal di dalam hati perempuan sendiri, di ruang yang membuat kita merasa salah ketika memilih diri sendiri.
Bagaimana Patriarki Memotong Kepala Perempuan
Kepala perempuan tidak dihilangkan lewat kekerasan fisik, melainkan melalui tiga cara halus:
• Merendahkan pikiran perempuan
“Ah, perempuan itu baper.” “Sok tahu.”
“Perempuan terlalu emosional untuk memimpin.”
Lalu perempuan merasa: mungkin aku memang tidak sepandai itu. Tidak sepantas itu. Tidak sepantas laki-laki.
• Mengatur tubuh perempuan
Menutup, membuka, menjaga, mengurus, memoles: seakan-akan nilai perempuan hanya ada pada kulitnya, bukan pada kedalaman pikirannya.
• Mengajarkan rasa bersalah
Saat perempuan ingin belajar, ia dianggap ambisius. Saat perempuan ingin diam, ia dianggap sombong. Saat perempuan ingin merdeka, ia dianggap durhaka. Saat perempuan ingin mencintai diri, ia dianggap egois. Rasa bersalah adalah belenggu paling lembut, dan karena lembut, ia paling efektif.
Ketika aku menyadari bahwa aku makhluk yang diciptakan lengkap dengan kepala. Aku dulu mengira aku yang salah. Bahwa aku kurang tegas, kurang cerdas, kurang yakin, kurang pantas. Tetapi pemikiran Saadawi membuka mataku: yang salah bukan aku, yang salah adalah struktur yang membuat perempuan meragukan kepalanya sendiri.
Self-love feminis dimulai dari kesadaran ini: bahwa kita bukan lahir tanpa kepala. Kepala itu ada: utuh, kuat, cemerlang, tetapi dibungkam oleh ribuan aturan yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Self-Love: Langkah Kecil Mengambil Kembali Kepala
Self-love yang sejati bukan tentang spa, lilin aromaterapi, atau skin care. Self-love feminis adalah tindakan paling politis: tindakan mengakui bahwa aku punya kepala, dan kepala ini milikku.
Self-love adalah:
* keberanian berpikir,
* keberanian tidak setuju,
* keberanian berkata “tidak”,
* keberanian menyebut luka dengan namanya,
* keberanian memilih diri meski dunia melarang. Tindakan kecil, tapi berdampak besar.
Ini perjalanan panjang dan kadang menyakitkan, sebab setiap kali kita mengambil kembali kepala kita, entah keluarga, pasangan, masyarakat, atau bahkan diri kita sendiri akan bilang: “Tidak. Itu bukan peran perempuan.”
Tetapi kita tidak sedang mengambil peran yang bukan milik kita. Kita sedang mengambil kembali yang seharusnya memang milik kita sejak awal.
Aku tidak lahir tanpa kepala, aku dibesarkan untuk melupakannya. Dan kini, satu per satu, aku mengambilnya kembali.
Fokus Self-Love:
Mengembalikan Kepala ke Bahunya
✓ Mengenali pikiran sendiri sebagai sah dan penting.
✓ Mengizinkan diri bertanya, meragukan, dan tidak
setuju.
✓ Berani memilih meski dianggap tidak patuh.
✓ Menolak rasa bersalah yang ditanamkan sistem.
✓ Menghormati diri sebagai subjek yang berpikir, bukan objek yang dibentuk.

Lahir dan besar di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada Program Studi Statistika, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan pendidikan S2 pada Jurusan Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar.
Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, Atte aktif menulis karya-karya fiksi yang sarat makna kehidupan. Novel-novel yang telah diterbitkannya antara lain: Titisan Cinta Leluhur, Djarina, Surat Cinta untuk Djarina, dan Sang Anak Guru. Juga sebuah Otobiografi berjudul Menuju Jalan Pulang.
Ia percaya bahwa setiap tulisan adalah doa yang menjelma kata, dan setiap kisah yang lahir dari hati akan menemukan pembacanya sendiri.


Leave a Reply