Siang itu, Jumat 10 Juli 2026, langit Bantaeng tampak cerah. Matahari bersinar terang, memantulkan kilau cahaya di atas hamparan sawah dan perbukitan.
Meski sinarnya begitu kuat, udara terasa sejuk, seolah angin gunung masih setia membawa kesejukan ke dataran rendah. Suasana ini menghadirkan paradoks yang khas: musim kemarau telah tiba, tetapi hawa dingin masih menyelimuti.
Bagi para petani, musim kemarau bukan sekadar pergantian cuaca. Ia adalah masa penuh keprihatinan. Panas yang menyengat seringkali membuat tanaman layu sebelum waktunya, hasil panen pun terancam gagal.
Lebih dari itu, kekeringan membawa risiko lain: kebakaran bisa muncul tiba-tiba, melahap ladang, hutan, bahkan pemukiman. Fenomena semacam ini bukan hal baru. Setiap kali kemarau menyapa, cerita tentang tanah yang retak, daun yang gugur, dan api yang menjalar selalu kembali terdengar.
Baru-baru ini, kabar duka menyelimuti keluarga Daeng Saing. Pada Rabu, 8 Juni 2026, sekitar pukul 21.00 WITA, rumahnya yang terletak di perbukitan Kelurahan Onto, Kecamatan Bantaeng, hangus terbakar tanpa sisa. Pria beranak tiga yang sehari-hari berjualan baju keliling dari rumah ke rumah itu, harus menerima kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal dan kenangan yang pernah terukir di sana.
Peristiwa ini segera mengundang perhatian pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Bantaeng. Sejumlah Banom dan Lembaga seperti Fatayat NU, Muslimat NU, GP Ansor dan LPBNU bergerak cepat melakukan penggalangan dana. Hanya dalam semalam, donasi terkumpul. Esok harinya, tepat pukul 14.00, mereka membeli kebutuhan pokok berupa beras, mie instan, air mineral, telur, dan minyak goreng, lalu bertolak menuju lokasi kebakaran.
Perjalanan menuju Onto tidak mudah. Jalan menanjak, berliku, sempit, dan penuh belokan tajam menuntut kehati-hatian. Namun, rombongan NU peduli kemanusiaan itu tetap melangkah dengan tekad kuat.
Sesampainya di lokasi, mereka disambut langsung oleh Daeng Saing dengan mengenakan baju batik lengan pendek dan sarung. Di hadapan mereka, hanya tersisa puing-puing rumah yang hangus, sementara sebuah tenda darurat berwarna oranye berdiri sebagai tempat tinggal sementara.
Di tenda itulah, Daeng Saing dan ketiga anaknya bertahan dengan segala keterbatasan. Bantuan sembako dan santunan uang tunai kemudian diserahkan secara resmi oleh Ketua Muslimat NU Bantaeng, Subaeda Alam.
Lebih dari sekadar bantuan materi, kehadiran rombongan NU Peduli Kemanusiaan itu membawa semangat kebersamaan yang meneguhkan hati Daeng Saing.
“Sabarki pak dan tetap jaga ibadah. Setiap orang memiliki cobaannya masing-masing. Insya Allah dibalik cobaan ini, akan ada hikmahnya,” ujar Subaeda Alam menguatkan.
Sore itu, suasana hening hanya dipecah oleh suara anak-anak dari balik tenda darurat. Wajah Daeng Saing tampak tegar, meski gurat kesedihan masih jelas terlihat. Ia menerima bantuan dengan penuh rasa syukur, berulang kali mengucapkan terima kasih.
Rombongan pengurus NU yang tergabung dalam NU penduli Kemanusiaan itu duduk bersama, berbincang ringan tentang kondisi anak-anak, sekolah, dan rencana ke depan. Percakapan sederhana itu menjadi obat penenang, menegaskan bahwa ia tidak sendiri dalam menghadapi ujian hidup.
Hari beranjak senja, rombongan pun pamit. Senyum tipis Daeng Saing mengiringi langkah mereka, senyum yang lahir dari keyakinan bahwa masih ada banyak tangan yang siap merangkulnya. Tragedi kebakaran itu memang meninggalkan luka, tetapi juga melahirkan kisah tentang kepedulian, tentang bagaimana masyarakat mampu berdiri bersama menghadapi musibah.

Seorang pekerja sosial di jaringan Gusdurian. Saat ini menjabat sebagai Koordinator Wilayah Gusdurian Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampapua). Selain aktif mengoordinasikan komunitas GUSDURian di wilayah Sulampapua, juga sebagai pengurus Lakpesdam NU Sulsel.


Leave a Reply