Author: Wahyu Ciptadi Pratama

  • Air Sabun tidak Pernah Bertanya Mengapa Aku Bersedih

    Air Sabun tidak Pernah Bertanya Mengapa Aku Bersedih

    Saat semua tamu sudah pulang, aku melangkah ke depan bak cuci. Piring-piring bekas makan masih bertumpuk. Gelas-gelas masih menyisakan jejak bibir orang-orang yang tadi datang mengucapkan belasungkawa. Sendok-sendok kecil masih berlumur kuah. Sisa nasi menempel di dasar piring seperti kenangan yang enggan melepaskan dirinya dari ingatan. “Aku saja yang mencuci.” Kalimat itu keluar begitu saja.…

  • Membaca yang Baik adalah dengan tidak Membaca

    Membaca yang Baik adalah dengan tidak Membaca

    Lelaki itu selalu datang setiap sore. Tidak pernah lebih awal. Tidak pernah terlambat. Seolah-olah waktu telah membuat janji dengannya. Ia memilih meja yang menghadap jendela, memesan kopi tanpa gula, lalu mengeluarkan sebuah buku yang masih tampak baru. Sampulnya bersih, sudut-sudutnya belum pernah tertekuk. Jika buku memiliki ingatan, barangkali buku itu belum sempat mengingat tangan yang…

  • Di Sini, Topeng Lebih Mahal dari Otak

    Di Sini, Topeng Lebih Mahal dari Otak

    Janggal, beberapa waktu belakangan mataku seperti mengalami penurunan fungsi. Dunia tampak samar. Kadang buram, kadang jernih. Kemarin aku yakin sekali melihat seekor kucing yang menggesekkan kepalanya ke kaki seseorang di mulut pintu kantor. Rekan kerjaku menolak percaya, menuduhku berhalusinasi. Aku pun sebenarnya mulai ragu, tapi bayangan itu berulang. Untungnya, aku tak marah dengan seloroh mereka…

  • Satu Juta Pohon Matoa pada 22 April 2025

    Satu Juta Pohon Matoa pada 22 April 2025

    Saat sedang mencari-cari informasi tentang keadaan iklim dunia, saya dikejutkan oleh sebuah laporan yang dirilis pada Januari 2025. Berita tersebut mengulas kondisi iklim global pada 2024, dan seketika itu pula saya merasa terhenyak. Tahun 2024 menjadi tinta hitam yang menodai kitab kehidupan alam. Tercatat,  suhu rata-rata global mencapai angka tertinggi dalam sejarah pencatatan modern, menyentuh…

  • Perantau, Mudik, dan Kampung Halaman

    Perantau, Mudik, dan Kampung Halaman

    Di penghujung bulan suci, ketika takbir mulai merayap ke sanubari, para perantau berbondong-bondong pulang. Ada kerinduan yang tak tertahankan, rindu akan rumah, rindu akan keluarga, dan rindu akan tanah kelahiran yang selalu menanti dengan pelukan hangat. Jalanan berdenyut dengan roda-roda kendaraan yang melaju, seolah membawa hati yang bergejolak oleh harapan dan kebahagiaan. Mendengar kata “perantau”,…

  • Tagar, Amarah, dan Negara yang Enggan Mendengar

    Tagar, Amarah, dan Negara yang Enggan Mendengar

    Februari berlalu dengan gelombang kemarahan yang tak kunjung surut. Satu per satu kasus bermunculan, tumpah ruah, hingga tak ada lagi ruang untuk berpura-pura terkejut. Pagar laut yang lebih mahal dari kehormatan, lagu “Bayar Bayar Bayar” yang tak lagi terasa satire melainkan kenyataan pahit, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak benar-benar gratis, hingga suara rakyat…

  • Ketika Langit Sungkan Memberi Kepastian

    Ketika Langit Sungkan Memberi Kepastian

    Aku berdiri sejak senja, pukul 16.30 WIB, di Auditorium Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Para tamu berdatangan satu per satu, dengan wajah penuh harap, separuh dengan tatapan penuh tanda tanya. Di hamparan meja-meja memanjang, para ahli astronomi dari berbagai instansi dan ulama falak dari ormas-ormas Islam, bersua dalam tatapan. Di antara mereka, tumpukan dokumen, catatan, dan…

  • Janda-Janda Perang

    Janda-Janda Perang

    Atmosfer kota menjadi mencekam, saat warta menyebar perang pecah di tapal batas. Langit biasanya cerah kini tampak muram, terasa turut merasakan kecemasan merungkup setiap sudut jalan. Kerumunan manusia bergerak tergesa-gesa dengan ekspresi khawatir dan suara penuh rasa takut. Di tengah kepanikan itu, Mahmuddin berdiri tegap di mulut pintu rumahnya yang sederhana. Rasa berat menyelimuti hatinya.…

  • Di Titian Batas Adat

    Di Titian Batas Adat

    Tempo hari, senja perlahan menyelimuti Kota Bulukumba dengan jingga merona. Aku mencuar di tepi pantai, memandangi ombak bergulung-gulung. Puang Lolong berdiri di sampingku, merasakan hembusan angin laut, membawa aroma garam dan kebebasan. “Kini, kau paham bukan?” tanyaku saat kami duduk di atas gundukan pasir, memandang ke arah bumantara bersinau-sinau. “Faktanya kau mencintai pemuda suku Makassar.…

  • Surat Dakwaan untuk Malaikat Pembagi Duka

    Surat Dakwaan untuk Malaikat Pembagi Duka

    Malam itu rembulan bersinar terang, menembus selaput tipis awan yang menghiasi langit. Puncak Lompo Battang tampak megah dalam balutan cahaya, seolah menyambut kedamaian malam. Tumpukan-tumpukan awan berarak pelan, menambah keindahan panorama yang tersaji di pelupuk mata. Di dalam kamar mungil yang sederhana, seorang gadis bernama Maidah duduk termangu. Matanya yang berkaca-kaca tak lepas memandangi gambar…