Arsitek Jiwa

Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024)

Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya.

Pijakan minda demikian, bukanlah menafikan tubuh manusia, melainkan mengingatkan ihwal pangkal segala pembangunan. Sebelum rumah ditegakkan, terlebih dahulu pondasinya dipastikan kukuh. Sebelum peradaban menjulang, batin manusialah yang mula-mula mesti ditata.

Begitulah penabalan Daeng Litere itu tersaji, bagai mata air mengalir tenang di sela bebatuan. Tiada menghentak, tetapi perlahan meresap ke dalam kesadaran. Sepintas, ujar tersebut seolah mempertentangkan jiwa dan raga.

Diksi sekotah pada aforisme tersebut mengandung keluasan makna. Ia tidak hanya menunjuk para utusan Tuhan, tetapi juga mereka yang meneruskan jejak pengabdian para utusan itu: para guru, ulama, pendidik, pemikir, hingga siapa pun yang menyalakan pelita kesadaran di tengah kehidupan.

Mereka mungkin berbeda zaman, berlainan bahasa, serta menempuh beraneka jalan. Namun, simpul pengabdiannya tetap sama: membangunkan jiwa manusia, agar menemukan arah keberadaannya.

Kehayatan kiwari justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Kemajuan lebih sering diukur melalui apa yang tampak. Gedung menjulang menjadi lambang keberhasilan. Jalan raya membelah pegunungan. Teknologi melampaui batas-batas yang dahulu sulit dibayangkan.

Angka-angka pertumbuhan dipuja sebagai penanda kemajuan. Semua itu tentu bernilai. Namun, acap kali perhatian berhenti pada bangunan luar, sementara bangunan batin dibiarkan retak tanpa sempat diperbaiki.

Padahal, sejarah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Peradaban megah, belum tentu dihuni manusia luhur. Kota dapat berkembang demikian pesat, tetapi kejujuran justru meranggas. Ilmu pengetahuan terus melesat, sementara nurani tertatih mengikuti. Kemajuan lahiriah akhirnya kehilangan arah, ketika tidak lagi ditopang oleh kejernihan jiwa.

Barangkali sebab itulah para utusan Tuhan tidak pertama-tama datang membawa rancangan kota, tata niaga, ataupun teknologi. Mereka hadir membawa pandangan hidup; menyalakan kesadaran ihwal benar-salah, adil-zalim, dan cinta-benci. Dari sanalah ruang paling sunyi dalam diri manusia mulai dibangun—tempat segala keputusan bermula sebelum menjelma tindakan.

Sesarinya, jiwa menjadi semacam mata air. Bila bening, aliran yang keluar pun cenderung jernih. Sebaliknya, apabila hulunya telah keruh, sukar mengharapkan air mengalir tetap bersih. Laku manusia bergerak dari dalam menuju ke luar. Tangan hanya mengerjakan apa yang terlebih dahulu diputuskan oleh batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, gejala itu mudah ditemukan. Dua orang dapat memiliki pengetahuan yang sama, tetapi melahirkan tindakan berbeda. Dua pemimpin memegang kewenangan serupa, tetapi meninggalkan warisan yang bertolak belakang. Yang membedakan bukan semata kecakapan, melainkan kualitas jiwa yang mengarahkan kecakapannya.

Di sinilah pembangunan memperoleh makna lebih utuh. Membangun manusia bukan sekadar menghadirkan kenyamanan fisik, melainkan juga menumbuhkan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai semacam itu tidak dapat dicetak oleh mesin, dibeli di pasar, ataupun diwariskan melalui kekuasaan. Ia bertunas melalui pendidikan batin yang panjang.

Daeng Litere seakan menginterupsi, keruntuhan besar acap tidak bermula dari robohnya bangunan, melainkan dari rapuhnya jiwa. Tatkala kerakusan memperoleh takhta, hukum mudah diperjualbelikan. Kala kesombongan menjadi kebiasaan, ilmu berubah menjadi alat penindasan. Ketika hati kehilangan rasa malu, kemajuan justru menyediakan sarana lebih canggih untuk melakukan kerusakan.

Sebaliknya, jiwa yang tertata mampu melahirkan peradaban lapang. Orang-orang saling percaya bukan semata karena aturan, tetapi karena kesadaran. Keadilan tumbuh bukan hanya akibat pengawasan, melainkan lantaran hati enggan berbuat zalim. Pada poros inilah, akhlak menjadi lapik bagi kehidupan bersama.

Pendakuan Daeng Litere juga mengandung kritik halus terhadap cara manusia menilai keberhasilan. Acap kali orang lebih mudah mengagumi bangunan menjulang daripada karakter yang bertumbuh.

Padahal, sebuah gedung dapat selesai dalam hitungan tahun, sementara membangun kejujuran memerlukan perjalanan seumur hidup. Yang pertama mudah dipotret, sedangkan yang kedua hanya dapat dirasakan melalui laku.

Nisbi diri pun kembali memperoleh tempatnya. Para utusan Tuhan tidak meninggalkan kemegahan, sebagai ukuran utama keberhasilannya. Mereka lebih dahulu meninggalkan manusia-manusia yang berubah. Dari satu jiwa yang tercerahkan, lahir keluarga lebih teduh. Dari keluarga yang teduh, tumbuh masyarakat lebih beradab. Perubahan besar acap bermula dari simpul-simpul kecil, bekerja dalam kesunyian.

Barangkali karena itulah, para penerus para utusan tidak pernah selesai menjalankan tugasnya. Selama manusia masih memerlukan kejernihan, sepanjang hati masih dapat dikeruhkan oleh keserakahan, sebentang batin masih mungkin disesatkan oleh keangkuhan, pekerjaan membangun jiwa akan selalu menemukan panggilannya. Ia bukan proyek yang mengenal garis akhir, melainkan safari panjang lintas generasi.

Dus, aforisme Daeng Litere tersebut tidak sedang memisahkan jiwa dari raga. Tubuh tetap memerlukan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, semua itu akan kehilangan arah, bila batin yang mengendalikannya dibiarkan gersang. Raga memberi manusia kemampuan hidup, sedangkan jiwa memberinya alasan mengapa hidup mesti dijalani.

Pucuknya, bangunan paling kukuh bukanlah tembok menjulang, melainkan jiwa yang sanggup menopang peradaban. Tatkala jiwa berdiri tegak, badan, masyarakat, bahkan sejarah akan menemukan arah bertumbuhnya sendiri.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *