Jauh sebelum mengenal taktik, statistik, dan rivalitas, terlebih dulu kagum menimpa saya. Dan itu datang lewat seragam kuning yang berdansa di atas lapangan. Memainkan bola dari kaki ke kaki, keterampilan individu pemain yang menghibur, dan selebrasi khasnya menetap di ingatan.
2026, tim nasional favorit saya ini, balik lagi di gelanggang Piala Dunia. Perhelatan akbar sepak bola empat tahun sekali ini memang istimewa, euforianya tak terbendung. Ia dirayakan di mana pun, disambut suka cita oleh siapa pun, semacam lebarannya pecinta bola.
Warung kopi, sedianya rehat paling banter jam sebelas malam, selama nyaris sebulan ini akan menambah jam operasionalnya, guna melangsungkan nobar. Mata kudu melek dan kopi masih tetap harus diaduk hingga beduk subuh, membenakan tetamunya.
Televisi balik dilirik. Fisiknya memang masih ada, tempatnya barangkali masih sama, tapi daya tariknya mulai luntur dilahap waktu. Orang-orang bertransformasi menggunakan ponsel pintar, seutuhnya, termasuk urusan nonton menonton. Di samping sajiannya memang terasa tak lagi ada daya pikatnya.
Tapi Piala Dunia memanglah momentum luar biasa, televisi kembali bangun dari tidurnya, ruang keluarga kembali merekatkan seisi rumah. Ada pula layar-layar terpampang di sudut-sudut kampung, di gang-gang kecil, hingga di pinggiran jalan, untuk menyaksikan tim kesayangan bermain.
Dari pecinta bola, yang biasa saja, sampai yang sebelumnya tidak sejumput pun tertarik, mendadak dimabuk bola. Seragam tim nasional kebanggaan menghias aneka tempat, di pelosok desa, rumah makan, bahkan di pasar tradisional.
Namun, di antara hingar bingarnya, ada yang sungguh berlainan dari gelaran kali ini, bukan kemegahan stadionnya, bukan teknologinya yang makin canggih, dan tidak pula karena adanya intervensi Donal Trump terhadap penyelenggara. Melainkan, ajang ini selaku saksi: sebuah panggung terakhir bagi sederet pemain bintang, penghias masa kecil dan masa-masa sekolah saya, di panggung internasional.
Sebabnya, tak melampau agaknya, seandainya setiap laga bak sebuah perpisahan. Puntung rasanya, melewatkan barang satu pertandingan pun yang tersaji. Kini, fase grup telah usai, fase gugur datang bersambut. Air mata di ujung laga, kian mengadakan kesayuan. Satu persatu kesebelasan, lekas mudik ke asal.
Di antara banyak bintang dan nama-nama tenar dalam pertarungan, satu sosok idola masa kecil, sangat saya nanti. Tentu saja namanya tak membikin anda kaget, dialah Cristiano Ronaldo. Selain menanti regu kegemaran berlaga, menanti figur ini bermain juga utama.
Sebagaimana cinta pertama, Brasil mungkin tak selalu menguntai senyum di akhir cerita, tetapi selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Namun, Jika Brasil adalah pintu masuk menuju cinta terhadap sepak bola, maka Ronaldo adalah wujud pelengkapnya, alasan menyukai sepakbola, seutuhnya.
Dengan berbantalkan tangan, sembari menyilangkan kaki, seorang anak kecil dan bapaknya, di waktu yang sudah-sudah, khusyuk menatap laga. Sebuah televisi analog berukuran 20 inci, jadi saksi betapa kepiawaiannya mengolah bola selalu ditunggu.
Tiap kali Ronaldo membukukan gol, saat itu juga gairah dan mimpi menjadi pesepak bola tumbuh. Di beberapa bagian pekarangan sekolah di muka rumah, yang dihidupi rumput, seorang anak kecil ketika itu, memperagakan bahasa tubuh sang megabintang sebelum mengambil sepakan, yang amat ikonik itu.
Lewat sepatu merah kombinasi putih yang tak saya ingat persis jenamanya, yang jelas kaki mungil saya hanya mengisi sepotong bagian dalamnya, melepaskan tendangan ke gawang yang tak dijaga siapa-siapa.
Tiada saja di TV, gawai kepunyaan kerabat pun seringnya saya fungsikan, menonton cuplikan gerak-geriknya di arena selagi bermain. Telepon genggam kecil berlayar minimalis itu, kami tonton bertiga atau berempat, atau bahkan lebih, menyaksikan Ronaldo muda menyihir lawan-lawannya. Kecepatannya dahsyat, kemampuan olah bolanya aduhai, dan kematangan insting cetak golnya, selalu menghunus mata.
Untuk kesekian kalinya, hati seorang penggemar terbelah. Sesungguhnya, keinginan terbesar hanya ingin melihat anak kecil dalam diri ini tersenyum, barangkali untuk terakhir kalinya, ketika melihat tokoh yang menemani masa kecilnya, memenangkan trofi bergengsi impiannya.
Ya, saya adalah pendukung fanatik timnas Brasil yang bermimpi Portugal juara di pesta sepak bola dunia kali ini. Alasannya: Brasil akan tetap menjadi tim kebanggaan, kapan pun mereka juara rasanya akan tetap sama, sebaliknya, bila besok lusa Portugal juara, tapi tanpa pemain kawakan itu, rasanya ada kurangnya.
Celaka, hajat itu menggelap, sungguh-sungguh menggelap, keduanya kandas selang sehari, mimpi itu berakhir benar-benar hanya sebatas mimpi. Di tengah jamaknya pemirsa yang lebih senang banding membandingkan tinimbang menikmati sajian ini, satu sosok ini selalu menginspirasi: lewat kerja kerasnya mengejar mimpi, juga sisi kemanusiaannya di luar lapangan.
Tangisnya di ujung laga mampu menggetarkan siapa pun. Seisi stadion serempak senyap, air mata jatuh malu-malu, dan lambaian tangannya, sembari sesekali menyeka eluh, mengasih pesan yang kian mendalam.
Padahal Jika saja harapan itu mewujud, mungkin ini akan jadi akhir cerita paling indah, yang pernah diberikan sepak bola kepada anak kecil, yang dulu dibuat jatuh cinta pada permainan ini.

Sedang belajar membaca dan menulis. Pernah ikut kelas menulis esai di Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.


Leave a Reply