Saka Jarang dan Jejak Sejarah Onto

Sudah sepuluh tahun lamanya rasa ingin tahu saya tentang Onto, sebuah kelurahan di Bantaeng yang menyimpan jejak sejarah besar. Nama Onto kerap disebut dalam cerita lisan maupun artikel ilmiah sebagai pusat awal kerajaan Bantaeng, sekaligus wilayah daratan pertama yang menjadi fondasi pemerintahan tradisional. Di sanalah para pemimpin lokal, yang disebut kare, melakukan “pertapaan” untuk menentukan pemimpin bersama.

Rasa penasaran itu akhirnya menemukan jawabannya ketika saya berkesempatan menjejakkan kaki di Onto, pada Jumat sore 10 Juni 2026. Bersama rombongan NU Peduli Kemanusiaan, kami datang untuk menyalurkan bantuan bagi warga yang baru saja mengalami musibah kebakaran. Namun kunjungan itu membawa lebih dari sekadar misi kemanusiaan; ia membuka pintu silaturahmi dengan tokoh adat setempat.

Seorang pria paruh baya yang akrab disapa Tata menyambut kami dengan hangat. Ia bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pewarta sejarah Onto. Dari penuturannya mengalir cerita bahwa Onto dulunya adalah tepi laut, sebuah gambaran yang mengubah cara saya memandang lanskap Bantaeng.

Lebih dari itu, Tata juga memperlihatkan benda-benda pusaka leluhurnya, berupa dua buah fosil besi (kulau bassi) sebesar bola kasti, sebilah keris pusaka, dan saka jarang (bit kuda) yang diyakini sebagai peninggalan Sawerigading.

“Saka jarang ini dulu dikenakan pada kuda Sawerigading,” tutur Tata penuh keyakinan.

Dari sekian pusaka yang ditunjukkan, saka jarang paling menarik perhatian. Bentuknya unik, presisi, dan rapi; seolah dibuat dengan teknologi modern, padahal benda tersebut berasal dari masa lampau. Hal ini menegaskan bahwa karya orang-orang dahulu tidak kalah hebat dibandingkan karya modern.

Bagi mereka yang terbiasa mengamati dan meneliti benda-benda pusaka, tentu tidak akan terkejut melihat temuan semacam ini. Sebab, sejak dahulu kala, karya arsitektur maupun artefak kuno telah menunjukkan tingkat kecanggihan yang menakjubkan.

Kita sering dibuat kagum oleh arsitektur megah seperti candi Prambanan atau Borobudur, yang hingga kini masih menyisakan misteri tentang bagaimana batu-batu raksasa itu diangkat dan disusun dengan presisi. Namun, bagi masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, kekaguman terhadap warisan masa lalu tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan besar, tetapi juga dalam bentuk pusaka yang diwariskan turun-temurun.

Dalam konteks masyarakat lokal Sulawesi Selatan, pusaka bukan sekadar benda peninggalan leluhur. Ia adalah simbol identitas sekaligus peneguhan jati diri. Tak jarang komunitas tertentu melakukan upacara khusus jika ingin memperlihatkan pusaka tersebut.

Namun menariknya, Tata tidak melakukan ritual apa pun. Dengan enteng ia memperlihatkan benda-benda keramat itu, seolah ingin menegaskan bahwa pusaka bukan hanya untuk disakralkan, tetapi juga untuk dipelajari dan diwariskan sebagai pengetahuan.

Kunjungan ke Onto membuka mata saya bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang beku di masa lalu. Ia hidup dalam cerita dan tradisi masyarakat. Onto beserta perangkat budayanya seperti Balla Tujua bukan sekadar ikon budaya atau situs megalitik peradaban kuno, tetapi juga laboratorium sejarah yang menunggu untuk terus digali.

Tak hanya itu, bagiku, Onto bukan sekadar kelurahan biasa. Ia adalah simpul sejarah, budaya, dan spiritual masyarakat Bantaeng. Onto mengajarkan bahwa identitas dan kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan sesuatu yang harus terus dirawat, dipahami, dan dibagikan kepada generasi masa kini.

Hal ini penting menjadi catatan, sebab generasi yang kehilangan sejarah tidak hanya kehilangan masa lalu, tetapi juga masa depan. Sejarah adalah fondasi identitas suatu bangsa; tanpa memahaminya, generasi muda akan kehilangan orientasi, dan ketika identitas kabur, masa depan pun menjadi rapuh.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *