Air Sabun tidak Pernah Bertanya Mengapa Aku Bersedih

Saat semua tamu sudah pulang, aku melangkah ke depan bak cuci. Piring-piring bekas makan masih bertumpuk. Gelas-gelas masih menyisakan jejak bibir orang-orang yang tadi datang mengucapkan belasungkawa. Sendok-sendok kecil masih berlumur kuah. Sisa nasi menempel di dasar piring seperti kenangan yang enggan melepaskan dirinya dari ingatan.

“Aku saja yang mencuci.” Kalimat itu keluar begitu saja. Aku tidak tahu kepada siapa aku berbicara. Mungkin kepada ibu yang sejak tadi memaksakan diri terlihat tegar. Mungkin kepada diriku sendiri yang mulai lelah berpura-pura baik-baik saja. Atau mungkin kepada kesedihan yang diam-diam duduk di meja makan sejak sore tadi.

Kubuka keran. Air jatuh tanpa suara yang dramatis. Tidak ada musik latar. Tidak ada langit yang tiba-tiba menggelap. Tidak ada keajaiban. Hanya air. Lalu kuteteskan sedikit sabun. Beberapa detik kemudian, busa-busa kecil mulai bermunculan. Mereka saling bertabrakan, saling menempel, saling menghilang. Sebagian lahir begitu bulat, sebagian pecah bahkan sebelum sempat memantulkan cahaya lampu dapur. Aku mengamatinya cukup lama. Mungkin terlalu lama untuk sesuatu yang hanya bernama busa.

Namun, justru dari hal-hal yang dianggap remeh itulah hidup sering menyembunyikan pelajaran paling mahal. Busa-busa itu tidak pernah memprotes usianya yang pendek. Ia tidak bertanya mengapa harus lahir hanya untuk lenyap beberapa detik kemudian. Ia tidak mengajukan banding kepada takdir. Ia tidak meminta tambahan waktu. Ia tidak menawar nasib. Ia hanya hadir, membersihkan apa yang perlu dibersihkan, lalu menghilang tanpa merasa dirinya korban.

Mungkin air sabun lebih memahami kehidupan ketimbang manusia.

“Mengapa ayahku yang lebih dulu meninggal? Mengapa adikku? Mengapa bukan diriku?” Ketusku. Sementara air sabun di sela-sela jemariku yang masih menempel tidak pernah bertanya mengapa piring menjadi kotor. Ia tidak mencari siapa yang harus disalahkan. Ia tidak menuntut penjelasan. Ia hanya menjalankan tugasnya: Menghilangkan noda.

Di situlah aku mulai sedikit memahami, tidak semua luka membutuhkan jawaban. Sebagian hanya membutuhkan kesabaran untuk dirawat. Betapa banyak tenaga kita habis bukan karena luka itu sendiri, tetapi keinginan untuk memahami mengapa luka itu memilih kita. Kita menghabiskan malam-malam dengan membayangkan berbagai kemungkinan.

“Andai saja ayahku belum meninggal.”
“Andai saja aku lebih sering menelepon adikku,”
Andai saja…”

Dua kata itu tampak kecil. Namun tidak ada dua kata yang lebih kejam ketimbang “andai saja”. Ia adalah mesin yang memproduksi penyesalan tanpa pernah menghasilkan perubahan. Masa lalu tidak mengenal revisi. Ia hanya mengenal kenangan. Yang perlahan menyembuhkan justru keberanian menjalani hari-hari biasa: Kamu bangun pagi, lalu menyeduh kopi, mencuci piring, dan mengulanginya lagi esok hari.

Camus pernah menunjukkan bahwa dunia tidak selalu masuk akal. Stoisisme mengajarkan bahwa yang dapat kita kendalikan bukanlah peristiwa, alih-alih respons kita terhadap peristiwa itu. Viktor Frankl menambahkan bahwa manusia selalu dapat menemukan makna, bahkan di tengah penderitaan yang tak dapat dihindari. Tampaknya, agak sedikit sulit menemukan “ aku bersyukur karena ia telah meninggal…” di tengah situasi berduka.

Ada hal-hal yang sejak awal tidak pernah berada dalam kendali kita. Hujan, misalnya. Ia turun tanpa meminta izin. Tapi berteduh? Membuka payung? Mengenakan jas hujan? Apakah itu dalam kendali kita? Ya, benar sekali sesuai jawaban saat kau membaca tulisan ini. Kau tetap punya kuasa mengendalikan dampaknya.  Serupa saat kau dihantam rasa sakit, kau tidak punya kuasa menolak hal itu. Apa yang perlu kamu lakukan? Jawabannya mengendalikan, despacito.

Begitu pula dengan kehilangan. Kita tidak pernah memilih siapa yang akan lebih dahulu pergi. Kita tidak dapat menolak kematian, tetapi kita masih memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana cara hidup setelah ditinggalkan.

Aku kehilangan ayah pada 2014. Sembilan tahun kemudian, pada September 2023, aku kehilangan adik. Sejak itu aku memahami bahwa setiap kematian bukan hanya mengurangi jumlah anggota keluarga, tetapi juga mengubah cara sebuah rumah bernapas.

Ada dua jenis rumah. Rumah yang dipenuhi manusia, dan rumah yang dipenuhi kenangan manusia. Aku tinggal di rumah yang kedua.

Ruang makan tidak lagi menghasilkan tawa yang sama. Kursi di ujung meja tetap ada, tetapi tidak pernah benar-benar terisi. Sesekali aku masih merasa mendengar suara ayah memanggil dari ruang depan, atau menoleh ketika mengira adikku baru saja membuka pintu. Akal sehat selalu lebih cepat daripada harapan, tetapi hati hampir selalu datang terlambat.

Banyak orang mengira bahwa menerima berarti melupakan. Aku tidak sepakat. Ada kenangan yang tidak perlu dihapus, melainkan dirawat agar berubah menjadi rasa syukur, bukan penyesalan. Aku mengenal seorang teman diskusi di Jakarta, namanya Lian. Ia kerap memesan dua cangkir kopi setiap kali datang di Kedai Riolo, Jakarta Pusat yang dahulu sering ia kunjungi bersama istrinya yang telah meninggal. Orang mungkin menganggapnya belum mampu melepaskan, tetapi barangkali itulah caranya merawat cinta tanpa harus menyangkal kenyataan.

Psikologi menyebutnya continuing bonds: hubungan dengan orang yang telah tiada tidak selalu harus diputus. Yang berubah bukan cintanya, tetapi bentuk kehadirannya.

Atas alasan itu, aku tidak keberatan merayakan hari kematian ayah dan adikku dengan menyebutnya sebagai deathiversary tiap Mei dan September. Istilah ini mungkin terkesan tidak pas bagi beberapa pembaca. Bukankan perayaan itu berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan? Tunda terlebih dahulu penilaianmu kawan, ternyata tidak demikian. Menurut KBBI, merayakan berarti memuliakan peristiwa penting. Karena bagiku, peristiwa kepergian ayah dan adikku sama pentingnya dengan kelahirannya, maka aku pun merayakan peristiwa tersebut.

Kendati demikian, selalu ada momen tertentu yang menyimpan muatan emosi lebih pekat ketimbang sekadar sebuah rumah. Mungkin sebuah taman yang dahulu menjadi tempat berjalan beriringan, warung kopi yang menyimpan percakapan terakhir, kursi di sudut rumah yang pernah menjadi saksi tawa, atau bahkan sebuah kota yang diam-diam menyimpan sebagian hidup kita. Tempat-tempat itu tidak pernah benar-benar berbicara, tetapi ingatan membuatnya seolah memiliki suara.

Tidak mengherankan jika banyak orang yang sedang berduka memilih menghindarinya. Barangkali bukan karena tempat itu yang menyakitkan, justru memori yang melekat di dalamnya. Pikiran manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk menjauh dari apa pun yang menimbulkan rasa sakit. Menghindar pada hari-hari pertama adalah sesuatu yang wajar. Itu bukan kelemahan. Itu cara jiwa membeli waktu agar tidak runtuh sekaligus. Walakin, hidup memiliki kebiasaan yang tidak pernah meminta izin. Akan tiba saatnya kita harus kembali melewati jalan yang sama, duduk di kursi yang sama, atau menatap langit di kota yang sama. Tidak semua kenangan bisa dihindari selamanya.

Menariknya, kita bisa menerima kenyataan yang berbeda dalam banyak hal. Sebagian dari kita gemar menonton pertunjukan stand up comedy. Sebuah lelucon mampu membuat kita tertawa hingga lupa waktu. Akan tetapi, ketika lelucon yang sama diperdengarkan untuk kedua atau ketiga kalinya, daya kejutnya memudar. Kita mungkin masih tersenyum, tetapi tidak lagi terbahak seperti semula.

Aku memberi penutup tulisan ini kepada pembaca dengan sebuah pertanyaan yang terasa ganjil sekaligus jujur. Jika kita tidak lagi tertawa karena mendengar lelucon yang sama berulang kali dari para komedian, mengapa kita masih menangis setiap kali memutar kembali kenangan yang sama? Mengapa rasa sakit seolah tidak pernah bosan mengunjungi kita, padahal kisahnya tidak pernah berubah? Ve despacio. Air sabun tidak memintamu terburu-buru.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *