Ketika Rajawali Meradang Luka

Tertunduk lesuh, jiwanya lara, paruhnya tak mampu mematuk, diam dikatupnya. Ada gamang mendera. Serasa jebakan itu sempurna mengkhianatinya.

Tersadarkan! Dia melawan dirinya sendiri kini. Jauh sudah mengembara menempuh perjalanan, tertatih, ditempah angin, ditembaki, diburu dan disajakkan, diumpamakan, disimbolkan. Telah tertempah, kemudian tertimpa. Tiba suatu waktu, dia hinggap pada sebuah pohon rindang tak berbuah pada sebuah dahan titimasa.

Jeda, mengingat-ingat sejauh mana kepak sayapnya melewati ruang waktu, cengkeramannya menggenggam bidak-bidak peristiwa, membatin seketika melihat sayapnya, sehelai bulunya patah tercabut.

Rajawali terjebak lara. Teringat pesan Rendra pada sajaknya seakan mengintimidasinya:

“Rajawali terbang tinggi memasuki sepi, memandang dunia. Rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya.
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari.
Tanpa kemantapan hati rajawali, mata kita hanya melihat fatamorgana. Rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia.
Dan dia akan mematuk kedua matamu.”

Sebuah ungkapan merancang dan dipancang pada makna “kebebasan, kemurnian, dan martabat”. Rajawali dianggap sebagai “pacar langit”, yang menggambarkan kedekatannya dengan kebebasan dan spiritualitas. Rajawali dianggap sebagai makhluk yang melambangkan kebijaksanaan dan keanggunan. Kemandirian membangun peradabannya sendiri.

Tetapi, seiring waktu, rajawali merasakan luka yang dahsyat. Dia mengurungkan mengepak dengan gagah, dia sadar selama ini merasa paling terdepan, berkenaan dengan kehebatannya. Tetapi ketika kesetiaannya menjaga langit dihancurkan, kebenaran, kebajikan, dan keberaniannya dihujat. Serba salah.

Mimpi dan harapannya terbuang, hierarki pesan langit dan kebersamaan menjaga setiap saat dibawa kaki langit terenggut. Merasa diri tak lagi mampu menjaga, merawat kemungkinan yang bisa menjadi rajut kekuatan, menjadi hajatan hujat-hujatan tersiar ke langit.

Rajawali termenung dalam kesadaran yang hampir punah dan dia pasrah. Julukan penjaga dan sebagai kebajikan serta tanggung jawab, menjadi petaka. Tersisa slogan pada bejana di antara para rajawali, sebuah atribut melekat padanya, yah. Atribut tersebut raib sekejap.
Matanya sayu, rasa malu mendera-deranya. Kakinya kaku, jemarinya melemah mencengkeram.

Rasa itu terkoyak. Jiwanya terguncang, merawat dirinya pada pertengahan abad. Berusaha bertahan dan bisa mencapai pertarungan usianya! Sebagaimana para ahli dan beberapa penelitian mengungkapkan, seekor burung rajawali yang para peneliti dan populer bisa mencapai umur yang katanya hingga 60–70 tahun. Tapi untuk mencapai umur tersebut adalah sebuah pilihan bagi seekor rajawali, apakah dia ingin hidup sampai batas puluh tahun atau hanya sampai 40 tahun.

Ketika rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan, namun singkat menuju kematian.

Pada usia tersebut (40–50 tahun), paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan kesulitan memakan. Dan cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam. Selain itu, bulu pada sayapnya sudah sangat tebal sehingga ia sulit untuk dapat terbang tinggi merajai angkasa.

Sisa memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi, kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut.

Selanjutnya, penuh harapan, dia mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Beberapa lama kemudian paruh barunya akan muncul, dan dengan menggunakan paruhnya yang baru itu, ia akan mencabut kukunya satu per satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam.

Sebuah proses, di tengah tragedi pertarungannya, selanjutnya ketika kuku-kuku itu telah tumbuh, ia akan mencabut bulu sayapnya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh.

Nekad tidak harus juga, karena sesuai kodrat usia. Perjalanan waktulah penentu, sejauh mana patuk paruh dan kepak sayapmu menguasai angkasa raya. Usia rajawali di tengah kepulan kejadian, yang mengintimidasi, kembali dengan daya ingat, sensitif, mudah baper, dan merasa ini dan itu akan juga punah, tiada berdaya karena pada akhirnya usialah yang akan menjadi jawaban.

Rajawali mulai merasa bahwa ini harus hadap diri, tanggung sendiri, tidak perlu mengumbar dan memantik tentang peristiwa yang usang menjadi perangsang.

Rajawali gamang memicingkan matanya di hamparan dan telaga yang pernah dia rawat dan dia jaga, tersisa suara-suara asing, serta harapannya, sebuah pucuk dicinta ulang tiba: artinya di awal wah, tetiba di akhirnya menjadi weh!

Sebuah filosofi, merajamku, menguatkan, merujuk, tetapi saat merajut ada yang merajuk. Tentang rajawali mengajarkan manusia untuk berani menghadapi masalah (badai) alih-alih menghindarinya.

Menuntaskan segera, untuk memoles secara artikulasi, sampai memburu diksi pada narasi kali ini tentang rajawali. Kemudian menyelami sebuah laman, kutemukan hal tak terduga, di mana kutemukan bahwa: lazimnya, burung-burung lain membawa anaknya dengan cakar karena takut dimangsa dari belakang atau dari atas. Tetapi, rajawali tidak takut terhadap burung lainnya.

Dia membawa anaknya di atas sayapnya. Dengan demikian, jika terkena anak panah, sang induklah yang terluka. Rajawali juga dapat terbang hingga ketinggian 300 meter dengan kecepatan 300 km per jam.

Ketika anak-anaknya belajar terbang, induk rajawali melatihnya dengan cara edukasi tanpa kurikulum yang kaku, tetapi dia punya cara pedagogi yang efektif.

Anak-anaknya dia latih, diperhadapkan dengan situasi dan kondisi dari sarang yang dibangun pada ketinggian 15–36 meter. Induk rajawali membongkar sarangnya dan menyuruh anak-anak rajawali dari tebing yang tinggi dan curam, agar mereka mengepakkan sayap dan belajar terbang.

Dengan demikian, sayapnya akan menjadi kuat. Ketika anaknya jatuh, sang induk akan terbang bersama anaknya dan menopangnya untuk kemudian melepaskannya lagi. Demikian proses yang berlangsung sampai anak rajawali mandiri dan mampu terbang sendiri.

Meski meradang luka. Kusisipkan mahkota, melambangkan ketajaman visi, ketangguhan, dan kemampuan untuk bangkit kembali. Sekiranya kita setidaknya meneladani rajawali dengan terus belajar menggunakan nalar, pola pikir, untuk tidak asal mengubah arah, cara pandang, dan merasa jauh lebih pintar.

Memperbarui diri untuk mencapai potensi maksimal. Menebus, bukan mengibuli prinsip seperti rajawali dengan perangkat nilai-nilai: dia menyambut badai, bukan menghindarinya. Saat burung lain berlindung dari angin kencang, rajawali justru menggunakan energi angin badai untuk melambung lebih tinggi.

Bagi manusia, ini mengajarkan untuk menjadikan masalah dan tantangan sebagai tuntunan untuk naik kelas. Yang ada pula sifatia dengan menata diri, hidup dengan selalu menatap cermin, cara mengedukasi diri, sebagaimana pembaharuan diri: untuk hidup lebih lama, rajawali melewati proses transformasi fisik yang menyakitkan dengan mencabut bulu dan paruhnya.

Hal ini memotivasi manusia untuk terus belajar, membuang kebiasaan buruk, dan beradaptasi meski terasa tidak nyaman. Rajawali bersabar menanti hawa panas agar bisa melayang dengan tenang di udara, tanpa harus mengepakkan sayap terus-menerus. Manusia diajarkan untuk tidak gegabah, bekerja lebih cerdas, dan sabar dalam proses mencapai tujuan, dengan kemandirian, tidak menikung sesama rajawali, atau burung lainnya.

Penuh amanat, serta cara burung rajawali dikenal sebagai hewan yang sangat setia dan hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Wow. Manusia cukup menggeleng atau mengangguk pura setuju, padahal di benak manusia selalu ingin lebih, dan perilakunya cenderung terlalu penuh obsesi, terhadap kemampuan walau terbatas.

Manusia di tengah pergumulan hidup, sering sekadar mengutil, mengutip dengan lantip, tetapi perilaku tidak sekuat menerima tanggung jawab, konsekuensi hidup seperti rajawali, berani mengakui, mengenali diri: memperbarui paruh dan bulu-bulunya, dan tentunya perilaku.

Sementara manusia. Masih sering merasa kuat, paling benar, dan tahu, walau apa yang dia tidak tahu seakan tahu. Setidaknya menenun diri, sebelum keputusan mau-maunya kita saja menjadi petaka.

Pada akhirnya tindakan sering mengabaikan ucapan. “Kejujuran kadang menjadi kebohongan yang sesungguhnya serta kesetiaan manusia hanya tipuan belaka.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *