Barangkali Presiden Jarang Baca Sastra

Belakangan ini, publik dibuat gaduh oleh sepotong kalimat Presiden Prabowo, “Kalau pesimis terhadap Indonesia, diam saja di rumah atau cari negara lain.” Kalimat itu melintas dari satu linimasa ke linimasa lain, dikutip oleh sejumlah media nasional, lalu menjelma menjadi tajuk yang mengundang beragam tafsir.

Saya pertama kali menemukannya di portal berita SindoNews. Saya membacanya berulang kali. Bukan hendak mencari kesalahan pada susunan katanya, alih-alih merasa ada sesuatu yang tertinggal di balik kutipan itu. Ada ruang yang kosong, seolah-olah beberapa potong kalimat lain sengaja dibiarkan berada di luar bingkai. Yang ingin saya temukan bukan bunyi kalimatnya, justru napas yang menghidupinya: Konteks seperti apa kalimat itu lahir?

Sebab kalimat itu terdengar seperti lahir dari seseorang yang melihat rakyat sebagai barisan yang harus kompak melangkah ke depan. Yang optimistis berjalan bersama. Yang pesimis dipersilakan menyingkir.

Lalu saya membandingkan informasi itu dengan kehidupan masyarakat. Di terminal, mungkin ada seorang sopir yang baru tahu anaknya putus sekolah karena tak mampu membayar uang kuliah. Di kontrakan, mungkin ada seorang ibu yang setiap malam menghitung uang receh sebelum memutuskan apakah besok membeli beras atau susu. Di kamar kos, mungkin ada lulusan terbaik universitas yang telah ratusan kali mengirim lamaran kerja, tetapi yang datang hanya email penolakan.

Apakah mereka pesimis? Mungkin. Bahkan, nyaris putus asa.

Tetapi apakah pesimisme mereka berarti mereka membenci Indonesia? Oh belum tentu. Acapkali, pesimisme hanyalah nama lain dari harapan yang terlalu lama menunggu jawaban. Orang yang benar-benar membenci rumahnya biasanya pergi tanpa pamit.

Sebaliknya, orang yang terus mengeluh justru adalah orang yang masih ingin tinggal. Ia marah karena masih merasa memiliki. Ia kecewa karena masih menyimpan harapan. Bukankah anak yang paling sering memprotes orang tuanya justru anak yang paling ingin didengar? Begitu pula rakyat. Kritik kerap dipahami sebagai suara kebencian. Padahal, itu adalah bahasa cinta yang mulai kehabisan cara untuk berbicara.

***

Saya kerap membayangkan, bagaimana jadinya jika seorang pemimpin membaca lebih banyak sastra sebelum berdiri di mimbar dan berpidato. Barangkali, setiap kalimat yang lahir dari mulutnya tidak lagi terdengar seperti perintah, tapi sapaan. Sebab, belakangan ini, setiap kali pemimpin kita open mic, yang datang bukan tepuk tangan, justru gelombang amarah. Emosi itu mudah dibaca, melintas dari satu generasi ke generasi lain (terutama Gen Z dan Milenial yang lagi pusing dengan nasibnya) di kolom komentar media sosial, salah satunya pada akun Folkative di Instagram yang diikuti lebih dari 7,1 juta orang.

Bayangkan jika, sebelum mengucapkan satu kalimat kepada rakyat, seorang pemimpin lebih dahulu menyusuri kisah Jean Valjean yang mencuri sepotong roti karena lapar. Atau duduk sejenak bersama Pramoedya Ananta Toer, yang berkali-kali mengingatkan bahwa kekuasaan dapat mengubah manusia menjadi sekadar angka dan berkas. Atau membaca kisah-kisah kecil tentang orang-orang yang kalah, tetapi tetap memilih hidup meski harapan berkali-kali dipatahkan.

Mungkin setelah itu, pidato tidak lagi sekadar rangkaian kata yang ingin didengar, melainkan kalimat-kalimat yang lahir dari kemampuan memahami luka orang lain. Sebab sastra tidak mengajarkan cara memimpin sebuah negara, tetapi ia mengajarkan sesuatu yang sering kali lebih langka: menjadi manusia sebelum menjadi penguasa.

Sastra juga mengajarkan satu kebiasaan yang mulai langka pada zaman ini: menunda penilaian. Ia tidak pernah tergesa-gesa menyebut seseorang malas sebelum mengetahui mengapa langkahnya terhenti. Sastra tidak lekas menuduh seseorang pesimis sebelum memahami sudah berapa kali hidup meruntuhkan harapannya.

Tahukah kau? Ada seorang petani yang hidup pas-pasan, nyaris berada di bawah garis kemiskinan, tetapi tetap mencintai negerinya dengan kesetiaan yang tidak banyak dibicarakan. Ah, mungkin saya terlalu gegabah jika menyebutnya miskin. Namun, mungkin pula saya tidak sepenuhnya keliru. Sebab, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2025, garis kemiskinan nasional ditetapkan sebesar Rp609.160 per kapita per bulan. Artinya, seseorang dengan pengeluaran di bawah angka itu dikategorikan miskin menurut metodologi BPS.

Lalu, bagaimana denganmu? Berapa pengeluaranmu dalam sebulan? Barangkali kau tidak termasuk dalam kategori itu. Namun, bukankah kemiskinan tidak selalu selesai dijelaskan oleh angka?

Apakah kau tahu bagaimana kehidupan petani itu sesungguhnya? Mungkin tidak. Namun sastra tahu bahwa setiap manusia memikul luka yang tidak kasatmata. Setiap luka selalu memiliki sejarah. Ia tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari musim-musim yang gagal, dari harga yang tak pernah berpihak, dari meja makan yang semakin sunyi.

***

Saya selalu percaya bahwa ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama, mereka yang melihat orang lain sebagai angka. Angka pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, elektabilitas, dan angka kepuasan publik. Dalam cara pandang ini, manusia mudah disederhanakan menjadi grafik yang naik dan turun. Jika grafiknya membaik, semuanya dianggap baik-baik saja.

Kedua, adalah mereka yang melihat manusia sebagai cerita. Cerita tentang seorang ayah yang pulang dengan tangan kosong, lalu harus menjawab pertanyaan anaknya yang sederhana tetapi paling sulit dijawab, “Ayah, besok kita makan apa?” Cerita tentang seorang ibu yang mengatakan dirinya sudah kenyang, padahal ia hanya ingin memastikan nasi terakhir di panci cukup untuk anak-anaknya.

Sastra memilih berdiri di pihak yang kedua. Ia tidak mengajarimu cara cepat menjadi kaya. Ia tidak memberimu resep menjadi pengusaha sukses, tidak pula mengajarkan bagaimana memenangkan pemilu atau membangun citra di media sosial. Sebaliknya, sastra melakukan sesuatu yang jauh lebih sunyi. Ia memaksamu meninggalkan dirimu sendiri. Untuk beberapa jam, kau bukan lagi dirimu. Kau menjadi orang lain.

Menjadi ayah yang kehilangan anak. Serupa ibu yang menahan lapar. Seperti seseorang yang patah hati bukan karena cintanya berakhir. Tubuhmu tetap duduk di kursi. Tetapi jiwamu berpindah-pindah rumah. Mungkin karena itulah banyak penelitian menemukan bahwa membaca fiksi berkaitan dengan meningkatnya empati, kemampuan memahami perspektif orang lain, dan keterampilan sosial yang lebih baik. Bukan karena novel mengajarkan teori tentang welas asih, tetapi setiap halaman diam-diam melatih kita keluar dari penjara yang paling sempit: diri kita sendiri.

Ini menjadi ironi terbesar negeri ini. Kita memiliki begitu banyak orang cerdas, tetapi semakin sedikit orang yang mampu mendengar. Kita memiliki begitu banyak ahli komunikasi, tetapi bahasa kita semakin kehilangan kehangatan. Kita mampu membangun jalan tol yang membelah gunung, tetapi sering gagal membangun satu jembatan sederhana menuju hati rakyat.

Padahal pemimpin tidak hanya membutuhkan kecerdasan. Ia membutuhkan imajinasi moral. Kemampuan membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan di usia lima puluh tahun. Bagaimana rasanya gagal membayar biaya sekolah anak. Bagaimana rasanya hidup dengan mimpi yang perlahan membusuk karena keadaan.

Imajinasi semacam ini tidak lahir dari rapat kabinet. Lahirnya dari sastra. Dari novel. Dari puisi. Dari cerpen. Dari kisah-kisah yang memaksa kita menangis untuk orang yang bahkan tidak pernah kita kenal.

Milan Kundera pernah menulis bahwa kebijaksanaan novel adalah kebijaksanaan tentang ketidakpastian. Sastra tidak mengajarkan jawaban-jawaban yang mutlak. Ia justru mengingatkan bahwa setiap manusia membawa alasan yang tidak selalu tampak.

Mungkin itulah yang sedang hilang dari percakapan kita hari ini. Kita terlalu cepat memberi label: optimis atau pesimis, nasionalis atau pengkhianat, pendukung atau pembenci. Padahal manusia tidak hidup di dalam kotak-kotak itu. Manusia hidup di dalam cerita.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *