Membaca yang Baik adalah dengan tidak Membaca

Lelaki itu selalu datang setiap sore. Tidak pernah lebih awal. Tidak pernah terlambat. Seolah-olah waktu telah membuat janji dengannya. Ia memilih meja yang menghadap jendela, memesan kopi tanpa gula, lalu mengeluarkan sebuah buku yang masih tampak baru. Sampulnya bersih, sudut-sudutnya belum pernah tertekuk. Jika buku memiliki ingatan, barangkali buku itu belum sempat mengingat tangan yang memilikinya.

Sebelum halaman pertama dibuka, telepon genggam lebih dahulu diangkat. Klik…klik…klik. Cahaya senja, cangkir kopi, buku, dan wajah yang dibuat sedikit murung. Semua dipilih dengan ketelitian serupa seorang pelukis yang sedang menyempurnakan karya terakhirnya.

Beberapa menit kemudian, layar ponselnya dipenuhi tanda suka. Buku itu tetap berada di halaman pertama. Aku memperhatikannya selama sepekan. Yang berubah hanya posisi buku di atas meja.

Detik berikutnya, aku mencoba menghampirinya. “Apa yang sedang kamu baca?” Ia menyebut judul sebuah buku filsafat yang cukup terkenal. Penulisnya seorang pemikir Jerman yang namanya sering dikutip, tetapi jarang benar-benar dipahami.

“Bagus?”
“Sangat bagus” jawabnya sangat yakin.
“Bagian mana yang paling mengganggumu?” Tanyaku.
Ia mendongak.
“Mengganggu?”
“Iya. Bukankah buku yang baik seharusnya mengganggu?”

Ia tidak menjawab. Mungkin ia berpikir aku adalah orang aneh. Tapi, aku juga menyadari sesuatu yang aneh. Banyak orang mampu menjelaskan isi sebuah buku, tetapi sedikit yang mampu menunjukkan luka yang ditinggalkan buku itu di dalam dirinya.

Padahal, mungkin di situlah ukuran sebuah bacaan. Bukan pada berapa banyak halaman yang berhasil ditaklukkan, tetapi berapa banyak kesombongan yang berhasil diruntuhkan. Yah, meski demikian kesombongan memang menjadi rasa yang wajar dimiliki manusia.

***

Dalam perjalanan pulang, aku melewati seorang tukang becak yang usianya kupastikan sudah tua. Meski perawakannya masih tampak bugar.

Hujan baru saja reda. Ia berhenti di bawah pohon besar, lalu memindahkan becaknya beberapa sentimeter. Bukan agar dirinya nyaman, walakin agar air yang mengalir tidak menghancurkan sarang semut di tepi jalan.

Tidak ada yang melihatnya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada CCTV di lokasi tersebut. Tetapi entah mengapa, tindakan kecil itu, bagiku, terasa lebih filosofis ketimbang banyak seminar yang pernah kuhadiri.

Aku tiba-tiba teringat Heidegger. Filsuf dari Jerman itu pernah mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia bukan karena ia tidak mengetahui dunia, tetapi karena ia lupa cara “berdiam” di dalamnya.

Manusia, kata Heidegger, selalu ingin menguasai. Bahkan ketika membaca, ia ingin menaklukkan buku seperti penjelajah yang menancapkan bendera di tanah tak bertuan.

Ia menghitung. Satu buku. dua buku. lima puluh buku. seratus buku. Tetapi ia lupa bertanya satu hal yang jauh lebih sunyi.

“Apakah satu buku itu sempat membaca diriku?” Barangkali di situlah letak kesalahan kita. Kita membaca seperti pemburu. Padahal kehidupan hanya mau membuka dirinya kepada orang-orang yang bersedia menunggu. Heidegger menyebutnya Gelassenheit (sebuah sikap membiarkan). Membiarkan sesuatu hadir tanpa tergesa menguasainya.

Namun dunia hari ini alergi terhadap kata “membiarkan”. Segala sesuatu harus cepat. Cepat membaca. Cepat memahami. Cepat menyimpulkan. Cepat berpendapat. Cepat menjadi ahli. Bahkan, harus cepat berjalan agar tidak ketinggalan KRL (seperti saat aku masih sibuk bekerja di Jakarta). Seolah-olah kedalaman dapat diproduksi dengan kecepatan.

***

Aku masih hangat mengingat percakapan dengan seorang mahasiswa junior beberapa tahun lalu saat masih berstatus mahasiswa strata dua di Universitas Bunga Bangsa Cirebon. “Bang, bagaimana caranya membaca buku?”

Aku menjawab, “Cobalah membaca lebih lambat. Karena, buku yang baik adalah buku yang membuatmu berhenti sejenak, lalu kembali kepada dirimu.” Ia mengira aku sedang bercanda. Padahal aku sedang sangat serius.

Karena membaca terlalu cepat sering kali sama dengan berjalan melewati taman sambil menghitung jumlah bunga. Kita pulang membawa angka. Tetapi tidak membawa aroma.

Nietzsche pernah menulis bahwa manusia mencintai kepastian karena ia takut kehilangan tanah tempat berpijak. Mungkin itu sebabnya kita gemar membaca buku yang menguatkan keyakinan kita sendiri. Jarang sekali seseorang membeli buku yang berpotensi menghancurkan pendapatnya. Padahal justru di situlah kebebasan intelektual dimulai.

Buku yang baik bukan pelayan yang menganggukkan kepala kepada semua pikiran kita. Ia adalah tamu yang datang membawa kekacauan. Ia memindahkan kursi-kursi yang selama ini kita anggap tetap. Ia membuka jendela ketika kita sibuk mengunci pintu. Ia bertanya ketika kita terlalu cepat menjawab. Bukankah pohon bertumbuh karena akarnya berani merobek tanah? Mengapa kita berharap pikiran dapat bertumbuh tanpa pernah merobek keyakinannya sendiri?

***

Beberapa hari setelah itu aku pergi ke perpustakaan daerah. Ruangan penuh. Anak-anak muda duduk rapi. Laptop terbuka. Buku-buku bertumpuk. Semua tampak sibuk. Namun ada kesunyian yang aneh. Kesunyian yang bukan lahir dari berpikir, tetapi dari ketakutan untuk tertinggal.

Rasanya, hari ini membaca bukan lagi kebutuhan. Ia perlahan berubah menjadi perlombaan. Laporan UNESCO dan berbagai survei literasi beberapa tahun terakhir berkali-kali menunjukkan bahwa kemampuan membaca bukan sekadar soal jumlah buku yang disentuh, tetapi kemampuan memahami, menghubungkan, dan merefleksikan isi bacaan dalam kehidupan nyata. Negara-negara dengan budaya literasi yang kuat tidak hanya menghasilkan pembaca yang cepat, tetapi warga yang terbiasa berdialog, mempertanyakan, dan menguji gagasan dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, media sosial memperkenalkan ukuran baru yang aku sebut sebagai reading challenge. Target lima puluh buku. target seratus buku. target seribu halaman. Semuanya tampak mengagumkan. Tetapi tidak satu pun bertanya: Berapa kali kamu menangis setelah membaca? Berapa kali kamu meminta maaf karena sebuah buku membuatmu sadar bahwa selama ini kamu keliru? Berapa kali kamu berubah? Bukankah perubahan adalah satu-satunya penghormatan yang layak diberikan kepada sebuah bacaan?

Socrates pernah berkata bahwa hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani. Andaikan ia hidup hari ini, mungkin ia akan menambahkan satu kalimat lagi: “Bacaan yang tidak direfleksikan hanya akan menjadi perabot intelektual.” Ia menghiasi kepala. Tetapi tidak pernah menyentuh hati.

Aku mulai memahami mengapa begitu banyak orang pandai berbicara tentang empati, tetapi begitu mudah menghina orang lain. Mengapa begitu banyak orang hafal teori tentang cinta, tetapi gagal menjadi pasangan yang lembut. Mengapa begitu banyak orang memahami filsafat kebebasan, tetapi hidupnya dikendalikan oleh jumlah pengikut dan tanda suka di X, Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya.
Barangkali, pengetahuan memang dapat berubah menjadi topeng. Semakin tebal topeng itu, semakin sulit seseorang menemukan wajahnya sendiri.

***

Malam itu aku pun tidak berniat membuka buku yang sudah kuanggap sebagai kebutuhan sehari-hari, serupa lukisan Hayati bertuliskan “Permataku yang Hilang” dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Aku mematikan lampu kamar. Lalu duduk di teras kiosku. Tidak ada musik. Tidak ada suara. Hanya gemuruh suara kendaraan berlalu-lalang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa sedang membaca. Bukan huruf. Melainkan jeda. Aku menyadari sesuatu yang sederhana. Selama ini aku begitu sibuk membaca dunia hingga lupa bahwa dunia diam-diam sedang membaca diriku. Ia membaca caraku memperlakukan orang tua. Ia membaca caraku memandang orang miskin. Ia membaca caraku marah. Ia membaca caraku mencintai. Mungkin pada akhirnya kehidupan memang selalu menjadi pembaca yang lebih jujur ketimbang kita.

Sekarang, jika seseorang bertanya kepadaku berapa buku yang kuselesaikan tahun ini, aku tidak lagi tergesa menjawab. Aku justru mengingat wajah-wajah yang kutemui setelah menutup sebuah buku. Apakah aku menjadi lebih rendah hati? Apakah aku lebih mudah memaafkan? Apakah aku lebih berani mengakui bahwa aku tidak tahu? Sebab semakin lama aku hidup, semakin aku percaya bahwa kecerdasan bukanlah kemampuan menjawab semua pertanyaan. Tapi, keberanian duduk berjam-jam bersama satu pertanyaan tanpa tergesa mencari jawaban. Akhirnya aku memahami kalimat yang dahulu terdengar seperti paradoks.

Membaca yang baik memang dimulai dengan membaca. Tetapi ia mencapai kematangannya ketika seseorang berani berhenti membaca. Berhenti sejenak. Membiarkan satu kalimat berakar. Membiarkan satu gagasan bertumbuh. Membiarkan kehidupan mengambil alih tugas yang selama ini terlalu lama dibebankan kepada buku. Sebab pada akhirnya, buku hanyalah peta. Sebagus apa pun sebuah peta, ia tidak akan pernah bisa menggantikan perjalanan. Karena jalan yang sesungguhnya tidak dicetak oleh penerbit mana pun.

Ia dibuka setiap pagi, tepat ketika kita menutup buku, mengangkat kepala, memandang langit sedikit lebih lama dari biasanya, lalu pulang untuk membaca satu-satunya buku yang tidak pernah selesai ditulis: Diriku yang sunyi.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *