Mengawali narasi ini, izinkan saya jika tidak sekiranya meninggalkan agama saya, hanya sekadar mengucapkan, “Selamat Natal dan penuh keberkahan, tuntunan hidup dalam kasih-Nya, kepada saudara-saudara saya umat kristiani. “
Peran manusia diutus dan dijadikan penghuni dunia, alam semesta ini adalah mahluk dalam sejuta kasih, sebagai makhluk dan dinamakan hamba sahaya, bersosialisasi, berinteraksi, berempati, bukan antipati.
Sebagai makhluk berbudaya, berperadaban, dan memiliki nalar kuat untuk menopang kesenjangan hidup, bukan saling menghakimi manusia yang berbeda suku, bangsa, budaya bahkan agama.
Sejak kanak, saya diajari menghargai satu sama lain. Terlahir dari keluarga sederhana dan kebetulan beragama Islam dan disebut “muslim”. Dan juga tidak alim-alim juga. Tetapi meski demikian, saya ditempa dan dibasuh cahaya kehambaan tidak begitu ekstrim dan merasa paling beragama.
Sepengetahuanku dan seingatku sampai sekarang, justru mereka memberiku pemahaman nilai bernama toleransi. Tanpa memilah dan memilih kepada siapa saya bergaul, bahkan beda agama, kultur. Mereka menanamkan nilai (moral/etika) bagaimana “appakatau parangnu tau“. Bukan kata dan ujaran kalimat “Appakatau parangnu se’re agama“.
Begitulah mereka mengajariku sampai saat ini. Walau kadang masih sering oleng ke kiri dalam proses pencarian ilmu, pengetahuan. Agar tidak keliru atau terlalu merasa paling beragama.
Siang menjelang sore, seperti biasa membangun percakapan tentang perayaan natal itu sebagai tema. Sekadar memecahkan suasana, dengan tujuan saling menghiasi dan mengisi.
Seketika saya merasa dicekat, termangu bagai anak dungu, dengan bongkahan dalil, memantik perdebatan siang menjelang sore kala itu, ada loncatan pemahaman yang seakan menghukum dan menghakimi.
Mencoba bertaruh dengan pendapat, serta pelampung pengetahuan bernama referensi tentang sejarah, peradaban di setiap episode peran manusia sampai mengenal agama.
Tetapi begitu memesona dan serunya debat itu berlangsung, dan semakin mengunci saya di-“skakmat”! Dengan rentetan yang katanya dalil. Walau masih butuh lebih penguatan. Tapi saya cenderung tidak membantahnya, karena tidak cukup dan kuat alasannya bagi saya.
Dengan tegas serta suara lantang menggugurkan hamparan pesona pra sejarah peradaban abad, serta jauh ke struktur manusia sebelum mengenal dinamakan agama. Mencoba menguatkan dan meyakinkannya, tetapi masih saya masih terbantah, dengan sikap dan caranya bertahan di palung pengetahuan yang semakin kikuk.
Namun demikian, tidak mengubah saya untuk tidak mengucapkan, bahkan kali ini menghadiri undangan di rumah teman, disertai kudusnya menjamu, menerima saya dengan cinta, atas nama cinta-Nya.
Dengan segala argumentasi, serta reaksi dari sumber yang masih bisa terbantah dengan membaca sejarah panjang peradaban terkait bagaimana agama itu hadir.
Tetiba mengambil kesimpulan secara tegas dan lantang, petantang-petenteng menguraikanku kembali argumentasi, dengan diksi yang juga kaku. Hingga tibalah pada puncaknya, memuncahkan menggugat saya, disuruh belajar agama kembali.
Saya mengambil posisi mengalah saja. Diam termenung jauh bagaimana cara menjawab, agar tidak gegabah dan menambah suasana semakin tidak terkendali.
Untuk tidak terbawa suasana. Sambil senyum-senyum meradakan gejolak dan gejala yang saya takutkan semakin membuncah. Saya menyerah dan mengalah saja dalam percakapan kali ini. Dengan gumam saja, “Kenapa bisa begini? Bukankah yang sebenarnya bisa menjadi penguatan pengetahuan, agar tidak merasa paling beragama dan saling memberi seduhan nilai bernama toleransi!
Seketika refleks kuraih gelas tersisa kopi seteguk, penawar gejolak manusiawiku! Agar tidak terjebak pada percakapan subjektif ini, yang akan merambah pada pertengkaran.
Maafkan sebelumnya jika Ini penghantar yang cukup panjang kiranya. Sekadar pembuka ala kadarnya.
Lembaran-lembaran sejarah kususuri di lorong dan di lereng sebuah halaman pada sebuah laman, tentang perayaan Natal yang setiap tahun, tepatnya 25 Desember diperingati oleh saudara kita umat Kristiani dengan khidmat.
Saya kemudian tersuguhi bagaimana sejarah awal tanggal dan bulan Natal itu! Di sana diurai dari penetapan gereja pada abad ke-4 Masehi, yang bertepatan dengan perayaan pagan Romawi kuno untuk Sol Invictus (Matahari yang Tak Terkalahkan) dan titik balik matahari musim dingin (winter solstice). Tercerahkan rasanya.
Benarkah penetapan ini bertujuan simbolis? Pada benak saya! Terurai di halaman selanjutnya: Dengan mengganti dewa matahari dengan Kristus sebagai “Terang Dunia”, sekaligus mempermudah konversi umat pagan ke Kristen dengan menyatukan tradisi, bukan karena tanggal pasti kelahiran Yesus yang tidak tercatat dalam Alkitab.
Lalu bagaimana latar belakang penetapan tanggal 25 Desember itu? Perayaan Pagan Romawi: Sebelum menjadi Kristen, masyarakat Romawi merayakan festival Saturnalia (untuk dewa Saturnus) dan Dies Natalis Solis Invicti (Kelahiran Matahari Tak Terkalahkan) pada pertengahan Desember, menandai kembalinya cahaya matahari.
Sinkretisme Kristen: Para pemimpin gereja awal menggunakan tanggal ini untuk menyatakan bahwa Kristus adalah “Terang Sejati” yang menggantikan dewa matahari pagan, menggabungkan tradisi yang sudah ada agar lebih mudah diterima.
Tertuang di paragraf akhir laman tersebut dalam sebuah dokumen Sejarah: Tanggal 25 Desember pertama kali disebut resmi sebagai hari kelahiran Yesus pada tahun 336 Masehi di Roma pada masa Kaisar Konstantinus.
Semakin saya nikmati, seakan bertamasya di setiap abad, dengan beberapa suguhan seperti bagaimana perkembangan sejarah abad ke-4. Seorang Paus Julius I secara resmi menetapkan 25 Desember sebagai hari Natal di Roma pada tahun 350 M.
Penyusuran selanjutnya, saya diseduhkan kembali tentang abad pertengahan, di mana Natal menjadi hari raya besar di Eropa dengan tradisi Misa dan pesta rakyat.
Hingga pada awal zaman modern: Pada abad ke-19, tradisi seperti Pohon Natal (asal Jerman) dan tokoh Santa Claus (terinspirasi St. Nikolas) mulai populer dan menyebar ke seluruh dunia.
Sebuah hamparan pemahaman kembali kali ini pada simbolisme natal. Setiap pernak-pernik natal sebenarnya punya makna sejarah: Sebagaimana pohon cemara (Evergreen) melambangkan hidup kekal karena pohon ini tetap hijau meski di musim dingin.
Lilin/Lampu: Melambangkan Kristus sebagai terang yang mengusir kegelapan.
Lantas ada sebuah hadiah atau kado: Mengingat kembali hadiah dari tiga orang Majus dan pemberian terbesar dari Tuhan kepada manusia. Begitulah sejarah singkatnya.
Saya sejenak terdiam, agar kembali tidak gegabah, sambil menyiapkan diksi bukan sebagai simpulan. Betapa natal bagi umat kristen bukan sekadar perayaan ulang tahun, tetapi di sana ada filosofi, sejarah, rentetan peristiwa, sesuatu yang berdimensi kesakralan tentang keyakinan saudara kita yang menganut secara Kristus. Ada sabana dan penguatan keimanan serta peringatan betapa kuat kasih Tuhan.
Sore menghantarkan petang, dari telapak dan jejak senja menukilkan pesan, peran bahwa hari telah menuju malam. Bukan dan tidaklah gelap, tetapi cahaya telah menjauhi di peraduan yang kadang kita lupa, bahwa kita kadang sering mengabaikan hal sederhana, sepele bin receh.
Sampai pada kesimpulan yang ambiguistik menyekat, menjerat nalar kita sendiri, tidak harus merasa paling beragama, atau masuk surga! Tetapi kita sendiri menjebak diri, mudah terdogma dan seolah-olah candu agama serta kealiman. Tetapi masih butuh proses menerjemahkan dan mengejewantahkannya dalam berperilaku kehidupan, interaksi sosial, tiada peduli agamamu apa. Tetapi sebagai manusia, mahluk Tuhan yang sama dikasihi-Nya.
Kristus adalah gelar yang diberikan kepada Yesus dari Nazaret, seorang tokoh sentral dalam agama Kristen. Kata “Kristus” berasal dari bahasa Yunani “Χριστός” (Christos), yang berarti “yang diurapi” atau “Mesias”.
Beberapa sumber menyatakan, ralam konteks agama Kristen, Kristus merujuk pada Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, yang diutus oleh-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian. Gelar “Kristus” menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja yang diurapi oleh Tuhan, yang membawa keselamatan dan harapan bagi umat manusia.
Ini adalah penjelasan umum tentang Kristus dalam konteks agama Kristen, berdasarkan pada ajaran Kristen dan penafsiran tradisional. Namun, perlu diingat bahwa ada berbagai penafsiran dan pendapat tentang Kristus di kalangan akademisi, teolog, dan agama lain.
Penjelasan ini berdasarkan pada sumber-sumber Kristen, seperti Alkitab Perjanjian Baru, dan penafsiran tradisional Kristen. Namun, ada juga penafsiran lain tentang Kristus, seperti penafsiran historis-kritis, yang mungkin berbeda dengan penafsiran tradisional.
Nah. Apakah saya murtad jika turut merasakan kegembiraan dan kebahagiaan mereka, dengan mengucapkan selamat Hari Natal yang penuh khidmat nan Kudus? Bahkan turut merasakan kegembiraan dengan silaturahmi berkunjung ke rumah teman yang merayakannya malah.
Sembari menikmati suguhan cinta, serta jamuan yang dihidangkan dengan ikhlas penuh kasih nan tulus meski beda agama.
Bukan berarti mengubah keyakinan. Sambil sedikit mengutip sesuatu kurang lebih seperti ini: agamaku, agamamu, tetapi tujuan kita sama menuju surga dan cinta kasih-Nya.
Saling meneguhkan, menyeduhkan nilai kebaikan, keberagaman yang sejak awal penciptaan manusia dan mahluknya untuk berinteraksi, bersosialisasi. Bukan bertikai hanya karena beda agama, tapi tujuan sama ingin kebahagiaan atas nama Tuhan.
Teringat kata Gusdur, “Beda agama, satu tujuan” atau, “Berbeda agama, tapi satu tujuan”. Ini berarti bahwa meskipun umat beragama memiliki keyakinan dan praktik agama yang berbeda, namun tujuan akhir mereka adalah sama, yaitu untuk mencapai kebaikan, keadilan, dan perdamaian.
Gus Dur menekankan bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama. Ia percaya bahwa semua agama memiliki nilai-nilai yang sama, seperti kasih sayang, keadilan, dan kebenaran, dan bahwa umat beragama harus fokus pada nilai-nilai tersebut untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks ini, Gus Dur juga mengatakan bahwa, “Tidak ada monopoli kebenaran” dan, “Semua agama adalah jalan yang berbeda untuk mencapai Tuhan”. Ini berarti bahwa tidak ada satu agama yang memiliki kebenaran mutlak, dan bahwa semua agama memiliki kebenaran yang relatif.
Dengan demikian, Gus Dur menekankan pentingnya toleransi, dialog, dan kerja sama antar umat beragama untuk mencapai tujuan bersama, yaitu kebaikan dan perdamaian bagi semua manusia.
Nah. Apakah saya Murtad? Selain mengucapkan selamat Natal, hingga mencari pohon Natal sore menjelang perayaan Natal, dan berfoto dengan pohon cemara yang menurut saya simbol “pa’laklangngang” kehidupan, ketentraman hidup, kemanusiaan dan kebahagiaan.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply